Selama anak-anak dan istrinya di Tangerang, Juned lebih sering keluar rumah untuk mengusir sepi sekaligus mencari peruntungan. Langkah kakinya paling sering tertuju ke pasar, mendatangi kios beberapa temannya yang masih bertahan di sana. Suasana pasar tidak begitu menggeliat meski pandemi sudah berlalu bertahun-tahun. Lorong-lorong blok pakaian terpantau lengang. Hanya area toko sembako dan sayuran yang terlihat ramai. Melihat pemandangan itu, rasa pesimis merayap dan menggerogoti keyakinan Juned. Ia tahu daya beli masyarakat sudah berubah, tapi perasaan pesimis itu tetap tidak mampu menepis egonya, ia tetap keukeuh ingin kembali berjualan pakaian. Berjualan pakaian adalah dunianya, satu-satunya keahlian yang ia paling kuasai.
Setelah dua pekan mengisi liburan di Tangerang, Mitha dan anak-anaknya akhirnya pulang kembali ke Cikampek. Namun, saat mereka tiba di rumah kontrakan, Juned tidak ada di sana. Kunci rumah sudah ia titipkan di warung dekat rumahnya. Juned sengaja mengirim pesan singkat kepada istrinya, beralasan sedang ada keperluan, padahal sebenarnya Juned hanya nongkrong di pasar. Ada perasaan malu dan minder jika harus berhadapan langsung dengan kakak ipar, mertua, atau keluarga besar dari pihak istrinya.
Sembari menunggu keluarga kakak iparnya kembali pulang, Juned duduk termenung di teras masjid dekat pasar. Pikirannya kalut. Rasa pesimis karena melihat kenyataan yang sulit untuk kembali berkembang, perlahan-lahan berubah menjadi frustrasi yang makin menumpuk. Otaknya buntu, modal minim, dan pasar pun sedang lesu. Sempat melintas di pikirannya untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, seperti beberapa pemuda di kampungnya. Namun, setiap kali ia teringat wajah lelap anak-anaknya dan gurat lelah di wajah istrinya saat tidur, niat itu langsung surut seketika.
Setelah mertua dan keluarga kakak iparnya kembali pulang ke Tangerang, Juned baru berani pulang. Begitu motornya tiba di depan rumah kontrakannya, suara knalpot yang khas dan sudah sangat dihafal itu langsung memecah kesunyian. Sontak, pintu depan rumah terbuka lebar. Kedua anaknya berlari menuju teras.
“Ayah pulang! Ayah!”
Belum sempat ia menurunkan standar motornya, kedua bocah itu langsung merangkul tubuh ayahnya erat-erat, meski ayahnya masih duduk di atas jok motor. Putrinya bahkan menampakkan raut wajah yang menggelayut manja seperti ingin menangis, sepasang mata bulatnya sudah nyaris berkaca-kaca.
“Eh, sebentar sayang, sebentar... Ayah turun dulu, ya,” ucap Juned lembut, coba melepaskan pelukan mereka dengan hati-hati. Juned mematikan mesin motor, lalu turun. Tanpa menunggu lama, ia langsung menggendong putrinya dan merangkul pundak putranya erat-erat, dan melangkah masuk ke dalam rumah. Begitu melewati pintu, pandangannya langsung tertumbuk ke sudut ruang tamu, di sana teronggok dua karung beras dan beberapa kardus berisi sembako, serta susu dan jajanan anak-anak, pemberian dari kakak iparnya.