Juned dan Mitha

awod
Chapter #24

#24

Sejak selepas subuh, Juned sudah beranjak ke pasar mingguan di alun-alun. Suasana cukup ramai oleh pedagang, orang-orang yang berolah raga, atau yang sekadar jalan-jalan pagi. Dengan jaket ojolnya, ia menunggu orderan di sudut alun-alun.

Sementara di rumah, sekitar pukul sembilan pagi, ponsel Mitha berdering. Nama Bu Yanti tertera di layar.

“Halo, Assalamualaikum, Neng. Udah pulang, ya?” tanya Bu Yanti.

“Waalaikumsalam. Udah, Bu. Dari kemarin,” jawab Mitha ceria.

“Main sini ke rumah ibu,” ajak Bu Yanti

Mitha menghela napas pelan sambil melirik gunungan pakaian yang siap dijemur. “Aduh, maaf banget, Bu. Kayaknya belum bisa main. Banyak cucian, nih.”

“Oh... Ya udah kalau gitu, biar Ibu saja yang ke situ sama Dito,” sahut Bu Yanti.

Tak sampai tiga puluh menit, Bu Yanti dan cucunya tiba rumah Mitha. Ibu itu melangkah masuk sambil menjinjing rantang tiga susun di tangan kanannya. Begitu melihat kedatangan Dito, Arjuna dan Puspa langsung berhamburan. Mereka sontak berteriak ceria, langsung larut dalam permainan di teras. Rasa kangen setelah dua minggu tidak bertemu membuat rumah kontrakan itu mendadak riuh oleh tawa bocah-bocah.

Sementara anak-anak bermain, Bu Yanti dan Mitha duduk lesehan di ruang tamu, berbincang hangat tentang banyak hal hingga hari beranjak siang.

Saat jam makan siang tiba, Mitha ditemani Bu Yanti menyiapkan hidangan. Ia membuka rantang pemberian neneknya Dito itu. Begitu tutup susunan pertama dibuka, aroma harum kaldu yang gurih bercampur rempah pekat dan susu langsung menyeruak memenuhi dapur, menyengat penciuman.

“Wah, mantap, nih,” ucap Mitha, “Terima kasih, ya, Bu.”

“Sama-sama,” balas Bu Yanti singkat sàmbil tersenyum.

Setelah dihangatkan di atas kompor, mereka pun duduk bersama untuk makan siang. Di sela-sela suapan nasi hangat berkuah soto yang legit itu, Bu Yanti menatap Mitha. “Gimana jualan suamimu sekarang, Neng?”

Mitha menghentikan sendoknya sejenak, senyumnya agak getir. “Udah nggak jualan lagi, Bu. Barangnya dagangannya habis. Sekarang ngojol aja.”

Bu Yanti terdiam sebentar, lalu meletakkan mangkuknya. “Neng, mau nggak jualan Soto Betawi? Lumayan buat nambah-nambah penghasilan.”

Mitha tertegun sesaat, lalu berkata, “Saya nggak ada bakat masak enak, Bu.”

“Gampang soal masak, mah, Neng. Entar Ibu ajarin resep soto buatan Ibu ini.”

Mitha menggigit ujung kerupuk melinjo, lalu berkata, “Jualannya di mana, Bu? Nggak ada tempatnya. Sewa kios mahal sekarang, Bu,” sahut Mitha lembut.

Lihat selengkapnya