Cimahi, Mei 2000
Dear diary…
Hidup remaja itu seperti vespa tua. Kadang ngos-ngosan, tapi harus tetap jalan.
-Naya-
Haduh… udah jam tujuh lagi!
Aku melirik jam tangan Guess mungil di tangan kiri. Panik, putus asa, gemetar, campur aduk jadi satu.
“A, bisa dikencengin dikit motornya?! Udah telat banget, nih!” aku berteriak di belakang, mencoba mengalahkan deru motor Vespa yang meraung-raung tak rela dipaksa ngebut.
Sopir ojek langgananku, A Ujang, terlihat setengah mati ngegenjot gas motor tua itu. Asap knalpotnya sudah kayak fogging demam berdarah, mengepul memenuhi jalanan Cimahi yang mulai padat.
“Aduh, Neng… ini juga udah kenceng! Lagian motor tua gini kagak bisa diajak terbang!” rutuknya sambil nyalip-nyalip angkot jurusan Pasar Atas-Padalarang. “Salah sendiri bangunnya kesiangan!”
Buseeet. Gue ngomong satu kalimat, eh dibalasnya satu paragraf.
Aku cuma bisa manyun sambil berusaha berpegangan di pinggang si A Ujang yang kerempeng. Sebenarnya, aku bangun kesiangan karena suasana rumah yang mencekam sejak subuh. Tadi pagi, kulihat Ibu sudah berdiri di depan pintu rumah sambil melipat tangan di dada. Wajahnya keras, matanya menatap tajam ke arah pagar seolah sedang menantang siapa pun yang berani lewat.
Saat aku berpamitan, Ibu tidak memberiku wejangan lembut. Beliau malah menyalak, "Cepat berangkat! Jangan bikin malu Ibu dengan catatan telat lagi. Ibu sudah cukup pusing ngurusin bapakmu yang nggak pulang-pulang!" Suaranya yang tegas bin galak itu sanggup membuat kucing di dapur pun lari tunggang langgang.
Namun, fokusku sekarang cuma satu: jangan sampai jadi ikan asin di tengah lapangan SMAN Cimahi pagi ini.
Masalahnya, sekolahku ini terkenal sadis soal kedisiplinan. Sialnya, hari ini adalah upacara bulanan. Seluruh siswa dari kelas satu sampai tiga plus jajaran guru akan hadir.
Kulirik jam tangan yang ternyata menunjukkan pukul 08.15. Mampus!
Motor berhenti dengan sukses di depan gerbang. Aku lalu turun dalam keadaan setengah hidup. Beberapa guru piket sudah berdiri tegak sambil memegang buku catatan dosa. Terpaksa, aku melangkah masuk dengan pasrah.
Saat aku digiring ke barisan anak-anak telat, mataku tak sengaja menangkap sosok di barisan kelas 3. Itu dia! Kak Chandra, anak OSIS kelas 3 H yang tinggi, putih, pinter, dan kiyut abis.
Jantungku mau copot saat mata kami bertemu. Bukannya buang muka, dia malah menatapku dengan sorot mata geli. Lalu, pelan-pelan tapi mematikan, dua sudut bibirnya mengukir senyuman tipis.