"Waktu itu, aku kira hari pertamaku di sekolah baru adalah mimpi buruk. Tapi ternyata, di tengah riuh rendah dan perasaan malu-malu, aku nemuin satu senyuman termanis yang mengubah segalanya."
Naya, 16 tahun dan (mungkin) jatuh cinta untuk pertama kali. Eh, apa kedua kali ya, selain Kak Chandra. Ehem.
***
Ciwidey, September 2000
Hari ini, kagak peduli gimana sejuknya udara yang berembus meriangkan paru-paruku, atau burung-burung yang berkicau riang melagukan nyanyian pagi, atau delman-delman yang berseliweran dengan centilnya.
Gimanapun indahnya hari ini di mata semua orang, buatku hanyalah nightmare!
Aku cuma bisa menatap gerbang di depanku dengan tatapan tak berdaya, sementara hati kelojotan nggak menentu. Kepalaku pun ikut pening tujuh puluh tujuh keliling.
Oh My!
Kenapa kadang takdir terasa begitu aneh? Ya Rabb... maafin, bukannya aku nggak ridho tapi semua ini bener-bener ngagetin. Aku ngerasa shock atas perubahan yang begitu tiba-tiba.
Seminggu kemarin, aku masih bareng sohib-sohibku di Cimahi. Kita masih hangout bareng pas pulang sekolah, masih sempet gosipin kakak kelas cowok yang kece, masih seru maen ke kios majalah langganan buat hunting pernak-pernik Moffats & Westlife.
Sekarang?
Aku kudu ngelepas atributku sebagai siswi SMA 1 Cimahi karena tepat setelah aku ngelewatin gerbang, aku bakal resmi jadi Naya Aurina si murid baru. Di umurku yang sudah 16 tahun ini, harusnya aku sudah jago adaptasi, tapi kenyatannya aku malah gemeteran.
Ugh..
"Naya, ayo kita masuk," Eni dengan teganya ngagetin aku dari lamunanku sendiri.
Gadis berkepang itu adalah tetanggaku di rumah nenek. Per hari ini, dia bakal ngejelma jadi temen sekolahku.
"Iya, ayo, En," aku cuma bisa pringas-pringis merana nggak berdaya natap Eni yang lagi senyam-senyum lucu di sebelahku. Geli kali ya, liat tampang aku yang penuh penderitaan ini.
Aku emang tipe orang yang susah ngendaliin ekspresi wajah. Kata sohibku di Cimahi sana, aku ibarat buku yang gampang dibaca, soalnya emosiku bisa langsung keliatan jelas di muka. I think that's why they called me "si funny".
Bismillahirrohmanirrohim, aku sibuk komat-kamit sekuat tenaga nguatin diri, buat ngadepin 1001 hal yang unknown. Dengan langkah yang ditegap-tegapin, aku masuk ke gerbang dengan Eni nemenin di sebelahku.
Aku pasang muka super cuek pas ngelewatin lautan makhluk berseragam putih abu yang berlalu-lalang di sekelilingku. Banyak dari mereka yang melemparkan pandangan mengamati ke arahku, seolah-olah aku alien. Uh, aku benci jadi pusat perhatian orang!
Hati ini nggak brenti ngedumel, "Dasar! ngeliatin orang nggak ada sopan santunnya. Ngeliatin sih boleh, tapi biasa aja kale!"
Sambil jalan ngikutin Eni, aku kelilingin mataku natap bangunan ini. Mataku neliti, sementara badanku lemes. Sumpah, ya. Inilah penampakan sekolah baruku, SMA 1 Ciwidey. Nama yang asing. Seperti tempat ini yang aneh. Seperti orang-orangnya yang juga aneh!
Please, jangan salah paham. Bukannya aku sok atau apa, tapi situasi di sini bener-bener beda. Nggak ada minimarket, apalagi mall! Yang ada cuma pasar tradisional. Nggak ada bioskop, nggak ada toko buku yang bisa muasin koleksi novel favoritku.