Ciwidey. Oktober 2000
Dear diary...
Katanya aku dan Aldi mirip Sharmila dan Erlangga. Bedanya, mereka punya skrip sinetron. Aku nggak.
***
Semenjak peristiwa bersejarah nan malu-maluin itu (thank you, Heri si usil!), aku harus menahan lebih dari sekadar sorot mata aneh teman-teman.
Mereka seolah punya ide baru buat nambahin dosis pusat perhatian ke aku. Bertekad bikin aku makin bete, karena tak ada hari tanpa kata-kata, "Adeuu, Aldi dan Naya! Bagaikan Sharmila dan Erlangga euy!"
Buset! Aku disamain sama pemain sinetron dangdut SCTV?
Rasanya pengen banget aku ngelontarin hujan kutukan pas gossip kami berdua sampai ke telinga para guru.
Bener aja!
Guru-guru mulai suka ngejadiin aku dan Aldi objek contoh pelajaran. Contohnya, Pak Tatan (guru Biologi) yang tanpa malu nyebut nama kami pas jelasin bab reproduksi. Atau Pak Nandang (guru Agama) yang nyelipin nama kami waktu bahas bab munakahat. Tapi kayaknya nggak ada guru yang lebih happy ngerespon gossip panas itu selain Pak Kunrat.
Lewat gossip itu pula, Pak Kunrat seakan sengaja mengatur frekuensi kami supaya makin sering ketemu. Pas pelajaran Seni Rupa, misalnya. Beliau becandain kami, mencetuskan nama anak kami nantinya. "Aldinya" - gabungan nama Aldi dan Naya.
Waduh! Bikin heboh kelas 1D.
Teman-teman otomatis pada ngakak, sementara aku cuma bisa mesem sambil gondok. Maurin, partner sebangku Aldi, langsung iseng ngoretin nama 'Aldinya' di bangku pakai tip-ex buat godain Aldi sampe cowok itu pun panik, buru-buru mupusinnya.
Sebenarnya aku sering bertanya-tanya. Kenapa, sih, Pak Kunrat bisa sebegitu baiknya sama aku? Apa yang bikin beliau segitu peduli?
Kadang, sepulang sekolah, aku dan Aldi sengaja dipanggil ke ruangannya. Entah buat bantuin periksa ulangan, atau sekedar nongkrong di koperasi sambil jajan ciki anak Mas, ngobrol, dan ketawa-ketawa. Beliau juga kadang suka tanya-tanya soal kabar keluargaku.
Aku jadi curiga. Jangan-jangan... ibuku yang emang suka nyambi jadi drama queen itu, punya peranan besar di balik perhatian ini.
Soalnya, waktu ibu mendaftarkan aku ke SMAN 1 Ciwidey, aku tahu betul kalau kuota kelas 1 itu udah penuh. Tapi ibu tetap ngotot supaya aku bisa sekolah di sini juga. Alasannya: jarak rumah lebih dekat, jadi lebih praktis katanya.
Makanya, ibu sempat 'membongkar' kisah keluarga kami ke pihak sekolah. Cerita yang sudah didramatisir tingkat dewa, sampai-sampai aku sendiri bingung harus menanggapi kayak apa. Intinya, aku digambarkan seperti anak ayam kehilangan induk gara-gara orang tua bercerai. Padahal, aslinya ya nggak separah itu juga. Kan masih ada Aki dan Nini.
Aku cuma bisa menunduk waktu cerita itu disampaikan di ruang TU. Para staf menatapku dengan tatapan kasihan, dan bilang bakal bantu aku bertahan.
Nah, dari situlah aku mikir... mungkin Pak Kunrat baik banget sama aku gara-gara itu. Rasa iba.
Suer, aku beneran nggak suka kalau kehidupan pribadiku dikorek-orek. Walau dalam hati aku tahu, bisa jadi Pak Kunrat cuma ingin aku cerita, biar bebanku agak ringan. Tapi aku tetap nggak mau. Setiap kali beliau mancing obrolan, aku betah banget menutup mulut rapat-rapat.
Untungnya, Pak Kunrat nggak maksa. Beliau cuma suka bercanda, kadang bareng Aldi yang udah kayak komplotannya sendiri—berusaha bikin aku bahagia dan menikmati hari-hariku di sekolah ini.