Ciwidey, November 2000
Dear diary...
"Di lapangan olahraga siang bolong, aku bukan siapa-siapa. Tapi saat dia teriak 'Hidup Naya!' rasanya kayak aku baru aja memenangkan olimpiade paling bergengsi: olimpiade hati."
***
Jujur, aku nggak peduli kalau harus dicuekin sama cewek bernama Maurin di kelasku ini.
Sejak awal CAWU II, dia berubah jadi super-parno-Naya-mania! Rasanya seluruh hidupnya mendadak tentang gimana caranya ngalahin aku. Serius, aku tuh udah kayak dikuntit paparazzi amatir—semua gerak-gerikku di kelas, di perpus, sampai di lab (kecuali di kamar mandi, tentu saja!), pasti diawasi dengan tatapan tajam setajam silet.
Tapi mau dimusuhin satu CAWU, setahun, atau selamanya pun, aku murni nggak peduli! Toh bukan salahku kalau nilai ulanganku hobi mepetin dia, dan kemampuan Bahasa Inggrisku memang lumayan di atas dia, kan?
Setiap kali kertas ulangan dibagikan, aku selalu menahan tawa melihat drama rebutan antara Maurin dan Aldi. Mereka berebut mengambil kertas nilaiku sebelum aku sempat berdiri dari bangku. Duh, tingkahnya sudah kayak balita rebutan mainan, padahal Pak Guru masih berdiri di depan kelas.
Beda motivasi, sih.
Maurin berebutan demi mengecek apakah aku mengunggulinya lagi. Sementara Aldi? Dia pasang badan karena katanya... nilai aku itu privasi aku, dan dia satu-satunya yang punya "hak veto" buat melindunginya. (Apa banget sih, Al, tapi ya... makasih, sih!)
Meski akhirnya, Aldi sering kalah cepat dari Maurin dan cuma bisa menyerahkan kertas nilaiku yang sudah agak lecek karena diremas-remas tangan yang tak berwenang.
Aku bahagia. Beneran. Siapa sangka, di tempat baru ini, aku bisa merasakan masa remaja yang penuh warna begini?
Sekarang, aku sudah lumayan dekat dengan Cahyani dan Tita, teman sebangkunya. Sayangnya, aku nggak terlalu nyambung sama Eci, teman sebangkuku sendiri. Bukan karena dia jahat, tapi dia itu... bigos—biang gosip. Aku curiga semua info soal aku di kelas bocornya dari dia. Jadi sebisa mungkin, aku meminimalisir interaksi. Kecuali kalau lagi kepepet banget atau terpaksa satu kelompok tugas.
Tentang jam olahraga: ini aneh banget.
Di sekolah sini, jam olahraga dijadwalkan setelah Zuhur. Gila nggak? Nggak heran kulit murid-murid sini pada kompak gelap semua. Di Cimahi, olahraga itu masuk jam pelajaran pagi yang sejuk. Nggak perlu drama berantem sama matahari jam 1 siang begini.