Jurnal Hati Naya

Vina Marlina
Chapter #9

Februari dan Awal Cinta yang Lain

Ciwidey, Februari 2026

Dear diary...

"Di antara keripik dan gosip kantin, aku belajar bahwa cinta itu bukan soal seberapa 'desa' atau 'kota' seseorang, tapi tentang seberapa berani kita melawan omongan orang dan tetap percaya pada rasa sendiri."

***

Sore itu, aku lagi jongkok di pekarangan rumah Eci, temen sebangkuku yang item manis mungil. Kami berdua lagi asyik ngukir kayu buat tugas Seni Rupa yang bakal dikumpulin tiga hari lagi. Kayunya panjang 30 cm, lebar 10 cm, dan kami harus mengukir pola batik pakai palu dan paku. Rumah Eci cuma beda RW dari rumahku, jadi gampang kalau mau mampir-mampiran.

Bau tanah basah sisa hujan tadi siang masih menguar kuat, bercampur dengan aroma kayu pinus yang kami ukir.

Tiba-tiba, aku keingat kejadian beberapa bulan lalu, pas baru pindah ke Ciwidey. Menjelang Agustusan, Eci ngajakin aku gabung vocal group karang taruna. Yah, buat ngenalin diri sebagai warga baru, sekalian latihan bahasa Sunda dikit-dikit.

Awalnya aku males, soalnya pas dateng liat personilnya, yaa... gitu-gitu aja. Nggak ada yang bisa dikecengin. Tapi terus... muncullah dia.

Dia dateng paling telat, katanya habis dari Bandung ngurus pendaftaran kuliah.

Wuah....MAHASISWA.

Cowok ini akhirnya jadi partner latihanku karena tinggi badannya bisa ngimbangin body kutilang alias kurus tinggi langsung ku. Sekilas, aku langsung menilai: oke juga nih cowok. Gayanya kota banget—gelang plastik item di tangan, jeans dan kaos simpel tapi gaul, rambut spiky yang berkilap karena gel. Pasti kutu-kutu bakal kepeleset kalau coba nangkring di situ. Aku ngikik dalam hati.

Dia Irwan. Namanya Nyunda, dan tampangnya lebih cakep dari rata-rata cowok sini. Menang di gaya fashionable-nya. Meski yah... sebenernya aku punya feeling kalau dia itu termasuk playboy cap kuda liar.

Soalnya aku pernah liat dia lagi ngobrol intens sama cewek entah siapa. Duduk dempetan banget di bangku kayu depan gedung karang taruna. Aku sampe merhatiin lama saking penasarannya—eh, tiba-tiba aja dia noleh. Dan mata kami ketemu! Panik dong, aku buru-buru sembunyiin muka di balik teks lagu.

"Adooow!!"

Aku mendadak balik ke dunia nyata gara-gara palu kepentok ke jari sendiri. Sakitnya ampun! Eci langsung nyamperin. "Aduh Nay, kamu teh kenapa? Makanya ati-ati atuh!"

Tiga jariku merah dan bengkak. Tapi untung nggak berdarah. "Bentar aku ambilin balsem!" Eci langsung ngacir ke dalam rumah.

Aku duduk selonjoran di teras, ngeliatin suasana sore yang adem. Kabut tipis mulai turun dari arah Patuha, pelan-pelan menelan deretan pohon kayu manis di kejauhan. Suara ayam, rumah-rumah semi permanen dengan bilik kayu—setengah modern, setengah tradisional.

Lihat selengkapnya