Minggu Pagi, Februari 2001
Aku bangun tanpa semangat. Hanya meringkuk di balik selimut, menatap langit-langit kamar yang seolah ikut mendung. Feeling blue banget.
Kemarin aku sudah ngambil keputusan yang bikin hati nyesek: aku memutuskan buat nyalamin Irwan balik. Lewat Eci, pastinya. Si Eci yang tiap hari mengejarku dengan pertanyaan, "Naya, gimana? Mau salam balik ke A Irwan, nggak?" sudah mirip debt collector majalah dinding.
Yah... kayaknya ini jalan paling masuk akal. Aku nggak sanggup menghadapi tatapan sinis anak-anak kelas—apalagi yang hobi julid soal kedekatanku dengan Aldi. Jadian sama cowok kuliahan sekeren Irwan kelihatannya lebih make sense. Lebih aman. Lebih bisa dibanggakan di depan geng tukang gosip.
Tapi sejak insiden Nelly nyaranin aku buat menolak Aldi terang-terangan di kantin, Aldi jadi beda. Dia lebih murung. Aku bisa lihat itu dari caranya nulis di papan tulis yang biasanya penuh semangat, sampai ekspresinya waktu lewat di depan bangkuku. Dan yang paling bikin nyesek... binar matanya yang biasanya selalu bisa bikin aku meleleh, sekarang hilang. Menguap entah ke mana.
Aku jadi overthinking. Gimana kalau Aldi dengar celotehan Nelly tempo hari? Gimana kalau dia pikir aku setuju? Apa dia lagi sakit hati sekarang?
"Ah, mungkin aja Aldi emang lagi ada masalah lain," batinku mencoba menghibur diri. Mungkin urusan rumah, atau mungkin dia sebenarnya sudah punya cewek lain tapi nggak cerita. Jadi, aku nggak usah merasa bersalah. Aku cewek bebas. Nggak punya pacar. Nggak menjanjikan apa-apa ke siapa-siapa. Secara teknis, aku nggak menyakiti siapa-siapa, kan?
Pas mikir gitu, aku merasa agak lega—atau tepatnya, maksain diri buat lega. Aku langsung menyambar handuk. Baru ingat: aku janji ketemuan sama Irwan 20 menit lagi!
Lokasi janjian: depan kantor Karang Taruna. Aku yang minta, soalnya kalau janjian di tempat fancy atau kafe romantis, ya bukan karena takut kesannya kayak kencan beneran. Tapi masalahnya... Ciwidey kagak punya tempat hits begitu. Dan lagi, sebenarnya aku cuma mau dengar "hal penting" yang Irwan ingin obrolkan.
Irwan sudah menunggu. Senyumnya menyambutku—gaya cool-nya masih khas, tapi kali ini terasa lebih "anak kota". Parfumnya cowok banget, aroma musk yang kalem tapi nempel. Dia pakai topi pet hitam, kaos putih dilapisi kemeja kotak-kotak dengan lengan digulung, jeans hitam pas badan, dan sandal karet model cowok gaul yang sering muncul di majalah Hai.
Aku sempat membatin, "Ini anak kesambet siapa sih? Kayak model nyasar ke kampung."
Aku duduk di sebelahnya. Jaga jarak, obviously.
"Naya, kumaha damang?" sapanya santai.
"Alhamdulillah, sehat..." jawabku kikuk. Heran juga melihatnya makin gaul begini. Pasti sudah terbawa suasana Bandung.