"Kadang, diam itu lebih nyakitin daripada ribuan kata yang nggak pernah terucap."
-Naya-
Aku udah nyoba pasrah. Kalau komunikasi aku dan Aldi emang harus berhenti selamanya, ya udahlah. Tapi waktu Aldi tiba-tiba nyamperin aku siang ini, aku beneran nggak siap.
"Nay, Pak Kunrat nyuruh kita ke ruangannya," suara Aldi lembut, kayak dulu. Spontan bikin tanganku berhenti gerak.
Aku ngangkat kepala. Tatapan aku ketemu matanya. Campur aduk antara kangen, kaget, dan bingung.
"Nggak tahu. Kita langsung aja, atau... aku duluan, ya?" katanya sambil ngasih senyum kecil yang kayak dipaksa. Datar. Nggak ada semangatnya sama sekali.
Aku angguk pelan. "Ya udah, aku nyusul."
Suara aku sok tenang, padahal tenggorokan rasanya udah nyangkut. Aku pengen nangis. Liat Aldi dari deket kayak gini, dengan ekspresi sedingin itu... rasanya kayak ditonjok pake es batu.
Di depan ruang Pak Kunrat, bau minyak kayu putih dan kertas lama langsung menyambut. Bau ini biasanya bikin tenang, tapi sekarang malah bikin sesak.
"Waalaikum salam. Hayu kadieu, bungsu!" suara Pak Kunrat nyaring. 'Si bungsu', panggilan khas beliau buat aku karena absen terakhir di kelas 1 D.
"Sok duduk didinya, di sebelah Aldi," katanya sambil duduk santai di singgasananya. Tangannya nunjuk kursi kosong sebelah Aldi. Aku duduk pelan. Curi-curi lirik, tapi mimik Aldi datar. Masih saja dingin. Pak Kunrat langsung jelasin tugas nulis rapor bayangan.