"Mereka itu berbahaya."
"Gitu doang." Tanyaku heran.
"Ya." Jawab Very singkat sambil memakan baksonya.
"Nanti aku jelaskan panjang lebarnya kalau ada waktu yang pas." Katanya lagi sambil melanjutkan makanannya.
"Kenapa gak sekaranga aja ceritanya?" Gesakku.
"Apa segitu penasaran nya dirimu. Tidak bisa ditahan?" Tanyanya heran sambil menatap mataku.
"Yaa, jawabku antusias."
"Ah." Kata Very sambil menghela napas dengan panjang. "Lain kali saja, Aku janji akan menceritakannya. Yang pasti sekarang kau jangan sampai terlibat dengan mereka. Mereka itu berbahaya. Itu saja sih saranku."Jelasnya sambil menseeup kuah bakso miliknya.
"Janji lagi. Aku paling gaksuka kalau dikhianati." Tatap Zefa ke Very dengan sinis.
"Ingatkan saja kalau aku lupa. Tapi aku gak bisa menceritakannya disini, mungkin nanti.
" Janji, ya. Kamu gak akan buat alasan lagi kalau nanti aku menagihnya" Kata Zefa sambil mengangkat jari kelingking tangan kanannya.
" Ya." Kata Very sambil membalas tangan Zefa.
" Janji adalah hutang. Pasti aku bayar."katanya lagi.
"Omong-omong bukankah kamu juga berbahaya?" Kata Zefa memulai kembali pembicaraan.
"Kenapa?"
"Kita baru kenal tapi kau sudah begitu akrab denganku bahkan sampai ngasih tau orang yang kamu suka."
"Bukankah wajar kalau ingin merasa akrab dengan murib baru?"
"Kau itu aneh, apa kau juga suruhan Tanteku?"
"Apa?" Tanya Very dengan bingung.
"Ah. Lupakan saja." Kata Zefa sambil mengalihkan pandangannya dari Very. Dengan canggung dan malu karena salah sangka.
"Cepat habiskan makananmu. Bentar lagi bel masuk akan berbunyi." Kata Very sambil menserup kuah baksonya.
"Aku sudah selesai."
"Apanya yang sudah selesai? Kamu baru memakannya 3 suap. Dan baksonya masih banyak, bahkan seperti tanpa tergerak sedikitpun." Kata Very sambil menunjuk ke arah mangkok bakso milik Zefa.
"Apa gak enak?" Tanya Very
"Bukan gitu, aku hanya gak selera makan, kalau kamu mau boleh unt..."
Belum selesai Zefa berkata sudah dipotong oleh Very.
"Benar boleh untukku? makasih." Tangannya sambil mengambil mangkok Zefa.
" Kau beneran gak mau?" Tanya Very lagi.
" Iya."
" Jangan nyesel ya, karena sudah memberikannya kepadaku ."
" Buat apa aku menyesal, kan itu emang kamu yang beli."
" Tapi apa gak masalah, itu bekasku loh?"
" Gakpapa lah, lagi pula kamu makannya cuma beberapa Senduk itupun cuma kuahnya aja. Bahkan bakso kamu tanpa apa-apa. Jadi gakpapa." kata Very sambil menuangkan saos dan kecap ke bakso yang baru saja dia ambil dari Zefa.
'kenapa aku malah menawarinya makanan bekasku. Harusnya aku belikan yang baru saja.' Pikir Zefa dengan menyesal.
" Anu.. Ver." Belum selesai Zefa berbicara Very sudah memotongnya.
" Makasih Zefa, aku merasa gak enak. Sebagai gantinya kamu mau makan apa biar aku bayar." Tawar Very.
" Gak perlu, dan sepertinya sudah gak sempat." Tolak Zefa gak enak.
" Gakpapa, pesan aja." Kata Very lagi.
"Gak perlu." Tolak Zefa dengan lembut.
"Harusnya aku yang membelikan mu makanan baru dan bukan makan bekasku." Gumam Zefa.
" Gakpapa kok Zefa, andai kata kau memberikanku yang baru tentu saja baksonya sudah gak ada. Karena ini memang bakso terkahir. Jadi biarkan saja aku yang memakannya lumayankan gak mubazir." Jelas Very sambil memakan bakso itu yang sisa sedikit.
'eh dia kok bisa dengar? Apa terlalu nyaring ya?' pikir Zefa dalam hati dengan malu.
"Lain kali aku akan membelikan mu bakso sebagai permintaan maafku ke-kamu." Kata Zefa dengan rasa bersalah.
"Baik kalau gitu, aku gak akan sungkan menerimanya. Semoga kau bisa mendapatkan banyak itu. Karena Aku sangat menantikannya."
Kata Very dengan antusias.
'Memang sesusah itu buat mendapakannya? Pikir Zefa dalam hati.'