"Hai, bukannya tadi kau bilang ingin keliling sekolah. Ayo kenapa malah bengong." Teriak Very dari depan memecahkan lamunanku.
Aku berlari mengejar Very yang tak jauh dariku. Setelah menghabiskan minumanku.
" Apa ada tempat yang ingin kau datangi?" Tanya veri sambil meminum minuman yang ku beri.
"Gak ada jawabaku."
"Baiklah kalau begitu kita mulai dari lantai dua lalu lantai satu baru lapangan dan setelah itu wilayah klub." Kata Very sambil membuat rencana.
"Baiklah."
"Dilantai dua ini gak banyak yang menarik, hanya ada kelas 10, kelas 11, ruang musik, ruang laboratorium tempat yang cocok buat anak-anak yang ingin eksperimen, memasak dan kelas seni buat prakarya seperti memahat dan lain-lain."Jelas Very.
"Dilantai dua ini terbagi 8 kelas. Empat kelas 11 dan empat kelas 10. Kelas 10 ada dilantai bawah.
Apa kau mau melihat lihat?" Tanyanya.
"Okeh." Jawabku.
" Ini ruang musik." Tunjuknya kesebuah ruangan yang didalamnya terdapat beberapa alat musik, tapi aku lebih tertarik dengan piano yang ada diruang. Itu.
"Kelas ini jarang sekali dipakai, makanya ruangannya berdebu." Jelasnya.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Karena ruang musik biasanya dipakai hanya untuk latihan acara tertentu, seperti acara kelulusan atau acara besar lainnya. Dulu katanya ada kelasnya tapi setelah ada suatu insiden kelas ini diberhentikan. Makanya gak ada lagi kelas musik tapi sebagai gantinya diadakan klub musik." Jelasnya.
" Insiden?" Tanyaku dengan heran.
"Iya, dulu disini pernah terjadi suatu insiden beberapa bulan lalu sebelum kamu masuk ke sekolah ini." Jelasnya lagi.
"Insiden apa?" Tanyaku.
"Entahlah, aku juga kurang tau." Jelasnya.
" Tapi ku saranin jangan masuk keruang musik itu apalagi menyentuh piano itu." Kata Very dengan wajah ketakutan.
" Katanya gak tau tapi kok takut?" Tanya Zefa dengan heran.
" Aku cuma dengar ruangan ini angker. Aku juga kurang tau telah terjadi insiden apa saat itu. Aku gak masuk sekolah karena sakit. Makanya kurang tau." Jelasnya.
" Tapi romor yang paling aku dengar kalau nyentuh piano itu akan kena sial. Setiap beberapa pianis yang memainkan piano itu saat latihan untuk acara penting. Malah gak bisa hadir atau ada kendala yang membuat mereka gak bisa memainkan piano itu saat hari-H." katanya dengan wajah ngeri ketakutan .
" Kamu percaya akan romor itu?"
" Gak juga sih." Jawabnya acuh.
"Lalu kenapa takut?" Tany Zefa.
" Aku bukannya takut. Aku hanya hati-hati, agar gak bernasib sama seperti para pianis itu. Tapi untungnya aku gak terlalu suka dan gak peduli soal musik. Jadi pasti bakalan aman saja." Katanya dengan percaya diri.
"Dah. Yu kita lanjut. Aku malas kalau lama-lama disini."
Katanya sambil berjalan menjauhi ruangan musik itu.
" Kalau takut kenapa mengajakku ke ruangan ini?"
"U UDAH, KU BILANG. AKU GAK TAKUT. "Teriak Very.