Just Friend's Scenario

Vina Marlina
Chapter #3

Ultimatum Mami

"Dim, subuh...! Assalaaatu khairumminannauuum! Shalat itu lebih baik daripada tiduuur! Bangun wahai pemuda harapan umat! Jangan mau dikalahkan sama setan yang kencing di telingamu!"

Saking kencangnya suara gedoran, Adimas jadi bertanya-tanya, apa sebenarnya Yasser sedang melakukan penggerebekan atau razia maksiat. Matanya bergerak-gerak dan mulai membuka, berusaha menghimpun kesadaran. Terpaksa. Daripada ujung-ujungnya ia kudu mereparasi pintu karena hantaman "semangat" sahabatnya itu.

"Iyaaa, gue udah bangun!" jawab Adimas dengan suara serak, menendang selimutnya ke ujung kasur. Tubuhnya serasa dihimpit beban satu ton. Capek luar biasa. Terlebih, ia baru bisa tidur sekitar pukul dua dini hari, setelah berjuang menjadikan kamarnya lebih layak ditinggali.

"Jawablah shadaqta wabararta wa anaa 'alaa dzalika minasy syahidiina, wahai saudaraku! Benar dan baguslah ucapanmu itu dan aku pun termasuk orang-orang yang menyaksikan!" seru Yasser dari balik pintu dengan nada sableng-nya yang khas, terdengar sangat bangga pada dirinya sendiri.

Setelah melafadzkan itu, tampaknya Yasser puas dan langsung pergi. Bacaan selepas adzan subuh itu kini terdengar bergaung di ujung lorong. Tepatnya di depan kamar Medi.

Namun, ketabahan Yasser langsung diuji karena bukannya merespon seruannya, dengkur Medi malah terdengar makin menantang langit. Tak heran Yasser berubah beringas. Apalagi masjid belakang ruko sedang melantunkan iqamat, tanda shalat berjamaah akan dimulai. Suaranya naik seketika beberapa oktav.

"Woy, Meediiiii! Bangun kau, Lae! Apa tak dengar kau suara iqamat itu? Cepatlah, jangan sampai kupanggilkan malaikat maut buat jemput kau karena melalaikan subuh! Nanti menyesal kau jadi kerak neraka!"

Adimas menopang sikunya sambil menggeleng beberapa kali. Suara kekehan lolos dari bibirnya. Sudah mendapatkan gambaran suasana pagi yang akan ia jalani ke depannya dengan teman-teman ajaibnya ini.

Usai shalat subuh di Masjid, Adimas kembali membaringkan tubuhnya di kamar, bermaksud mengecek ponsel yang ia charge semalaman. Tak menghiraukan kericuhan dua sahabatnya di lantai bawah yang sedang berusaha memasang kompor.

"Bah! Peganglah selang gas ini pelan-pelan, Ser! Meledak ruko kita ini nanti, tak jadilah kita jadi saudagar!" suara Medi terdengar membahana dari dapur.

"Tenang, Med! Bismillah... api perjuangan ini tidak akan padam, apalagi cuma api kompor!" sahut Yasser asal bunyi.

Adimas mengabaikan mereka, namun keningnya langsung berkerut karena membaca ledakan pesan dari Kirana.

"Disuruh mami nikah, katanya. Lawak. Lo mau nge-prank gue apa gimana, Ki," dengusnya. Secepat kilat jemarinya mengetik balasan, kemudian ia melemparkan hapenya serampangan di atas tempat tidur.

Barakallahumma wabaraka'alaika... Moga samawa. Mau kado apaan lo dari gue?

Matanya lalu dipejamkan, mumpung jadwal perkuliahannya baru akan dimulai tiga jam lagi, rencananya ia akan meneruskan istirahatnya.

Sementara Adimas tertidur, Kirana terbelalak membaca balasan WhatsApp cowok itu di meja makan. Ternyata, Adimas menganggapnya bercanda. Sialan banget! Udah ditungguin semalaman juga! Kirana menggigit roti bakarnya keras-keras sebagai pelampiasan. Rasa kesal dan frustrasi menguasai hatinya.

"Kalau makan tuh, pelan-pelan, Ki," tegur Papi di sebelah puteri semata wayangnya itu.

Aha! Mendadak, Kirana mendapat ide. Sedikit menyesal kenapa baru terpikir sekarang. Bukankah cinta pertama seorang anak perempuan itu adalah ayahnya? Papi takkan mungkin tega mematahkan hatinya. Dasar gue durhaka. Inget Papi kalau pas butuhnya doang. Kirana kontan merasa bersalah.

Setelah memastikan mami sudah ngeloyor ke dapur untuk mengambil menu sarapan yang lain, Kirana beringsut mendekati sang papi.

"Ehem, Pi... Papi sayang Kiki, kan?" bisiknya sambil mengerjap-ngerjapkan mata serta menyetel nada suaranya penuh kesedihan.

"Tolong bujukin Mami, dong, supaya ngijinin Kiki tetap di Bandung. Satu tahuuuuun aja, Pi. Please..." Dua tangannya ditangkupkan di depan dada seraya menaik turunkannya penuh permohonan. Biasanya, siasatnya ini selalu berhasil.

Tetapi, mungkin ini memang hari sialnya. Karena, Papi balas berbisik dengan serius, "Sorry, Ki. Papi nggak berani ngelawan Mami. Kamu sayang nyawa Papi, kan?"

Lihat selengkapnya