Sudah beberapa hari, Adimas nyaris tak mengindahkan pesan-pesan yang masuk. Tepatnya, ponselnya terlupakan. Kecuali saling berkabar dengan bunda dan kakak lelakinya, Adimas menutup akses pada yang lain, terutama Kirana.
"Malam nanti, bagaimana jika kita mulai silaturahim menemui Pak RT dan jajaran pengurus untuk memohon izin? Agar usaha kita ini mendapat keberkahan dan legalitas yang tayyib," usul Kang Fajri dengan nada teduh yang diiyakan Adimas dan dua rekannya.
Medi dan Adimas sepakat ber-ishlah. Setelah Medi berjanji akan mulai menyicil utangnya pada Kirana secara rutin, menggunakan uang bulanannya. Saatnya mengesampingkan ego. Bagaimanapun, the show must go on.
"Dalam koridor syariah, porsi bagi hasil atau nisbah biasanya berkisar 40-60. Yang berarti, 40% akan didistribusikan kepada pemilik dana atau shahibul maal dan 60% didistribusikan pada pengelola atau mudharib. Namun, berhubung kita menjalankan double job, sebagai pemilik sekaligus pengelola, maka atas dasar keadilan, kita bagi rata keuntungan per bulannya. Afwan, ane juga sudah menyiapkan draf kontrak. Tolong ente semua telaah dulu dengan saksama sebelum menandatangani," Kang Fajri mengeluarkan secarik kertas berisi perjanjian dari dalam tasnya, lalu menaruhnya di atas meja dengan rapi.
"Aduh, Kang... Kenapa harus pakai kontrak segala? Kan kita sudah saling kenal, sudah ukhuwah banget lah kita ini. Kesannya kok jadi kayak orang asing, gitu," timpal Yasser, menggaruk pipinya sambil menyeringai sungkan.
Namun, Kang Fajri hanya tersenyum bijak. Seraya membetulkan kacamatanya, cowok itu menunjukkan poin-poin dalam kertas tersebut. "Justru, perjanjian tertulis ini adalah perintah Al-Qur'an dalam surah Al-Baqarah ayat 282, agar jika di kemudian hari timbul fitnah atau pelanggaran, kontrak ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua."
Yasser dan Medi mengangguk-angguk paham. Berbeda dengan Adimas yang mendadak salah tingkah. Teringat isi kontrak friends with benefit punya Kirana.
Ironis. Yang satu mengikat kerja sama demi keberkahan, sementara yang lain pernah mencoba mengikat perasaan tanpa arah.
"Nah, berbisnis di dunia ritel berarti kita harus mencari supplier yang menawarkan harga paling bersaing, karena kita harus berkompetisi dengan banyak kompetitor. Kemarin-kemarin, ane sudah sampaikan tentang kenalan yang bisa memasok produk murah melalui sistem dropship. Jadi, kita bisa menjual dulu barang-barang itu, baru melakukan pembayaran ke supplier. Besok atau lusa, ayo kita bareng-bareng silaturahim ke perusahaannya. Jangan lupa bawa proposal bisnis kita. Persiapkan dengan itqan (maksimal)."
Mimik Adimas dan dua rekannya menjadi berbinar-binar mendengarkan uraian Kang Fajri. Tidak menyesal sudah mengangkat beliau menjadi mentor. Mungkin banyak orang memilih berbisnis secara otodidak dan mandiri. Mengandalkan feeling dan kerja keras. Tapi di zaman modern ini, keberadaan seorang penasihat bisnis ternyata sangat membantu, supaya lebih mengefektifkan waktu dan tenaga, terlebih Adimas dan rekan-rekannya masih berstatus mahasiswa dengan kelimuan bisnis dan koneksi yang belum seberapa.
"Alhamdulillah, persiapan kita sudah 80 persen. Yang lalu biarlah berlalu menjadi penggugur khilaf, kita perbaharui niat untuk terus istiqomah di jalan kebaikan. Siap, wahai pemuda dakwah?" Kang Fajri mengingatkan para juniornya.
"Insya Allah, siap, Kang!"
Sungguh satu minggu yang padat.
Adimas baru bisa merebahkan tubuh di kamarnya larut malam. Usai menyelesaikan tugas praktikum di kampus dan mengawasi penginstalan aplikasi penjualan online di lantai bawah ruko. Seharusnya, ia manfaatkan waktu yang ada untuk beristirahat. Hari esok kemungkinan besar akan sama sibuknya dengan hari ini. Grand Opening toko online-nya semakin mendekat. Nyatanya ia masih belum dapat memejamkan mata. Ucapan bunda di telepon tadi sore masih terngiang.
"Kapan kamu pulang, Dim? Kita akan antar keluarga Kiki ke bandara seminggu lagi."
Rasanya masih sulit dipercaya. Ia dan Kirana memang tidak sedekat dulu. Tapi, kemungkinan mereka tidak akan bisa berjumpa lagi dalam waktu lama, agak mengusiknya. Jarak Bandung-Pontianak tidak dekat, meskipun bisa diakses melalui pesawat.
Ah, bingung...
Adimas berguling-guling di atas tempat tidur. Kadang-kadang ia menggigiti bantalnya. Sejujurnya, hal yang paling mengusiknya bukan soal kepindahan itu. Beberapa hari kemarin, Kirana telah mengirimkannya pesan yang membuat matanya terbelalak.
Hey, Dim. Aku siap lho, melakoni adegan tujuh belas tahun ke atas bareng kamu. Jadi, will you marry me?
Adimas membaca ulang. Sekali. Dua kali. Bukan karena tidak paham. Tapi karena berharap itu hanya salah kirim.
Rasanya Adimas bisa gila memikirkannya! Lalu apa-apaan panggilan 'aku-kamu' itu? Seolah Kirana sudah pasang kuda-kuda buat melewati batas pertemanan yang selama ini mereka jaga.
Tak bisa terus begini. Adimas merasa takkan sanggup memikirkannya seorang diri. Ia butuh bantuan. Maka, jemarinya menekan tombol yang menunjukkan nomor 'Mas Raka', kakak lelakinya yang sedang menuntut ilmu di negeri paman Sam.
Hanya perlu beberapa kali nada dering sebelum terdengar sahutan di seberang sana.
"Assalamualaikum, Dim... Tumben jam segini nelpon? Di sini baru jam tujuh pagi, tapi di Indonesia pasti sudah mau tengah malam sekarang. Ada apa gerangan?"
Adimas terdiam, bibirnya mengulum senyuman. Suara riang kakaknya selalu memberikan suntikan kenyamanan tersendiri. Mas Raka sangat mirip figur almarhum ayah. Baik hati dan selalu bisa diandalkan.
"Aku kangen..." balas Adimas sekenanya, menerbitkan tawa renyah sang kakak.