Just Friend's Scenario

Vina Marlina
Chapter #14

Evening Primrose

Adimas terbangun di tengah malam. Bukan karena ia mendengar dengkuran keras Medi di lantai bawah yang mirip suara mesin parut kelapa, tapi karena ia belum terbiasa tidur di atas karpet yang dingin di ruang keluarga. Sebagian lagi, ia merasa gelisah memikirkan grand opening toko online-nya besok. Otaknya menjadi siaga.

Kira-kira bagaimana respon masyarakat? Menyambut baik? Atau biasa-biasa saja?

Dana investasi yang ia tanam memang tidak terlalu banyak, tapi ia sangat ingin membantu Bunda. Apalagi sekarang, ia sudah mempunyai tanggung jawab lain. Sebelum Papi Kirana pergi, beliau sempat memanggilnya dan berbicara empat mata. Papi menyerahkan kepengurusan kontrakan milik keluarga di Bandung untuk ia olah.

"Jangan dibutakan gengsi," kata Papi waktu itu. "Harga diri lelaki tidak akan jatuh karena ingin menyenangkan istri. Pakai uang itu kalau perlu."

Dengan kata lain, Papi ingin Adimas membahagiakan Kirana. Namun Adimas berharap ia bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan Kirana menggunakan hasil keringatnya sendiri. Itu akan terasa jauh lebih bermakna.

Menyerah untuk meneruskan tidurnya, Adimas bangkit dan memutar kenop pintu kamarnya perlahan. Tampak Bunda dan Kirana sedang tertidur pulas berdempetan di kasur yang tidak terlalu besar itu. Bibir Adimas mengukir senyuman, menatapi mereka penuh rasa sayang. Ada dua wanita kesayangan yang harus ia jaga mulai sekarang. Ia harus lebih kuat. Setelah puas mengamati mereka, amat perlahan, pintu kembali ia tutup.

Hamparan sajadah digelar. Adimas menghabiskan sisa malam itu dengan menyerahkan seluruh pengharapannya pada Sang Pemilik Semesta.

Hari selanjutnya menyapa tanpa terasa. Kang Fajri tiba di ruko dan dibuat terperanjat mendengar kabar baik Adimas melalui Medi dan Yasser. Pukul enam pagi mereka sudah berkumpul di lantai bawah ruko.

"Masya Allah, Barakallahu laka wa baraka 'alaika, semoga Allah memberikan keberkahan pada kalian..." sambut Kang Fajri sumringah dengan suaranya yang adem, saat Adimas terlihat menuruni tangga.

"Aamiin. Hatur nuhun, Kang." Adimas tersenyum dikulum, membawa turun panci magic com. Di belakangnya, Bunda dan Kirana masing-masing membawa piring berisi lauk pauk untuk sarapan.

"Wah, ini pasti Bunda dan... istrinya Dimas, ya?" Kang Fajri menyapa sopan sambil menangkup dua tangan di depan dadanya, menjaga pandangan.

"Iya, betul. Mari sarapan dulu," balas Bunda. Sementara Kirana mengulum senyuman dengan agak canggung. Sosok Kang Fajri ini baru pertama kali ia lihat, tapi auranya yang alim seketika membuatnya segan.

"Alhamdulillah, terima kasih banyak. Maaf ya malah merepotkan begini," sahut Kang Fajri ramah.

"Kamu jadi ke kampus? Mau bareng?" tanya Adimas, melirik Kirana yang sudah berpakaian rapi di jeda acara makan mereka. Atmosfer ruangan berangsur hening, seolah Yasser dan Medi sengaja memasang telinga lebar-lebar untuk menyimak obrolan pengantin baru.

Kirana menggeleng pelan. Sejak semalam, perasaannya tak karuan. Banyak sekali alasan kegelisahannya pagi ini: harus bertemu mantan dan Profesor Smith, yang artinya nasib beasiswanya mungkin akan segera ditentukan. Ia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri sebelum sampai di kampus.

Lihat selengkapnya