Just Friend's Scenario

Vina Marlina
Chapter #17

Friendship Marriage

Melihat gelagat mencurigakan Kirana, Adimas sudah paham tanpa perlu konfirmasi. Kirana tadi benar-benar keceplosan memanggilnya 'Bobby'.

Lelaki itu terus menyuap nasi goreng yang asapnya masih mengepul. Suapan demi suapan seolah menjadi benteng pertahanan terakhir dari kekacauan yang berkecamuk di dalam kepalanya. Peduli amat lidahnya terasa terbakar; yang penting, dia punya alasan untuk tidak memulai pembicaraan. Lebih baik ia menelan bara daripada membiarkan kemarahan yang tak bisa ditarik kembali, meluncur dari mulutnya.

Masalahnya, mereka sudah suami istri. Kirana bukan lagi orang asing. Tapi kenapa dia merasa diselingkuhi secara terang-terangan? Bukan oleh orang ketiga, tapi oleh harapan-harapan yang mengecewakannya. Seolah belum cukup ia menahan panas hati seharian. Astaghfirullahaladzim.

Hati Adimas saat ini persis seperti nasi goreng di piringnya: panas, penuh bumbu yang tajam, tapi tetap dia telan. Karena cinta—meski seringkali terasa menyakitkan—tetap ia terima sebagai takdirnya.

Sret... sret...

Bunyi spatula membentur wajan dari lapak angkringan menambah bising dalam sunyi malam. Lampu bohlam kuning menggantung lemah di atas kepala mereka, memantulkan cahaya buram ke meja kayu kusam. Udara malam mulai menusuk kulit, memudarkan uap teh manis hangat.

Kirana mencuri-curi pandang. Berkebalikan dengan Adimas, piringnya masih utuh tak tersentuh. Setelah beberapa lama saling membisu, ia akhirnya memberanikan diri. Tangan mungilnya bergerak mencolek lengan Adimas yang bebas sendok.

"Diiim, maaf. Tadi aku keceplosan. So sorry..." cicitnya pelan. Ia menarik-narik lengan hoodie Adimas, persis anak kecil yang sadar telah berbuat salah.

Adimas mengerling sekilas sebelum menarik lepas lengannya, pura-pura ingin mengambil minum. Ia tahu Kirana sedang mencoba memperbaiki keadaan, tapi kenapa dia masih merasa berjuang sendirian dalam hubungan ini?

Kirana menghela napas. Adimas mode ngambek itu berat. Jika dulu, Kirana mungkin sudah menggebrak meja dan membalas dengan celetukan sinis: "Ooooh, mau perang?! Siapa takut. Lo jual, gue beli!" Tapi sekarang? Gila saja kalau dia harus sekasar itu pada suami sendiri.

Kirana mengembuskan napas kesal, tanpa sadar menggaruk kepalanya yang berbalut pashmina.

Adimas kembali melirik. Ia memperhatikan hijab Kirana yang bergeser miring hingga menampakkan sedikit rambutnya. Sambil mengesah pelan, ia menjulurkan tangan, merapikan kembali hijab istrinya agar kembali rapi. Gerakan refleks itu, sekecil apa pun, membuat hatinya sendiri perih. Ternyata tangannya jauh lebih cepat bergerak daripada hatinya dalam menerima kenyataan.

Setelah itu, Adimas kembali menekuri makan malamnya seolah tidak pernah ada jeda. Kirana yang sempat sumringah karena mengira sudah dimaafkan, kembali cemberut. Perasaan bersalahnya semakin menggurita karena sempat melihat tatapan Adimas barusan—tatapan yang sangat terluka.

Nasi di piring Adimas sudah tandas ketika Kirana bangkit menghampiri bapak penjual nasi goreng. "Berapaan, Pak?" tanyanya lesu sambil merogoh saku.

Hatinya mencelos. Uang dua puluh ribu satu-satunya sudah habis untuk ongkos ojek! Kirana terkesiap. Dompet berisi ATM-nya ketinggalan di ruko. Mampus!

Semua adegan itu tak luput dari pengamatan Adimas. Ia sudah hapal bahasa tubuh Kirana di luar kepala. Sayangnya, ia juga tahu bahwa di halaman-halaman buku itu, namanya belum tertulis sebagai tokoh utama.

"Biar saya yang bayar, Pak. Istri saya juga belum selesai makannya," sahut Adimas sambil menghampiri Kirana, lalu membimbing tangannya untuk kembali duduk.

"Jangan pernah mubazir makanan. Malu sama anak-anak Palestina," kata Adimas setelah Kirana duduk manis. "Apa mau gue suapin?" tambahnya tenang, meski ada kegetiran dalam suaranya.

Lihat selengkapnya