Just Friend's Scenario

Vina Marlina
Chapter #19

Lika-Liku Grand Opening

Bandung dan kemacetan pagi hari memang seperti hubungan toxic—tak sehat tapi selalu ada. Di atas motor yang merayap pelan, Adimas mengelus sepasang tangan mungil yang bertengger di perutnya.

“Nanti kalau udah nyampe ruko, baru tidur, Ki,” katanya mengingatkan. Kirana hanya berdehem tak jelas, sebuah pertanda bahwa kesadarannya hampir lumat oleh kantuk yang berat.

Adimas tersenyum tipis. Ini adalah kali pertama Kirana berani bermanja-manja lagi setelah tiga tahun berlalu. Maka, sambil tetap menahan tangan Kirana supaya tetap melingkar tepat di perutnya, Adimas membelokkan motor matik itu menuju ruko yang jaraknya sudah tidak jauh lagi.

Pukul sembilan lewat lima, mereka baru tiba di ruko yang suasananya sudah mirip keriuhan pasar kaget. Tanpa banyak cingcong, Adimas langsung menggandeng Kirana masuk ke dalam, membelah antrean pelanggan di antara spanduk “Grand Opening” yang melambai tertiup angin.

Ahlan wa sahlan pengantin baru! Mabruk, mabruk!” Yasser berseru dengan nada qori yang dibuat-buat dari balik meja kasir. “Kirain ente masih iktikaf di kamar, Dim!”

Adimas hanya melirik dingin ke arah tumpukan struk di meja. “Banyak bunyi lo, Yass. Itu nota udah setinggi gunung Uhud nggak lo kelola?”

Tiba-tiba, Medi muncul dari balik rak dengan dua kardus mi instan di bahu. “Masya Allah, Akhi Dimas hadiiir! Tolong kami rakyat jelata ini! Bawa oleh-oleh nggak? Minimal air zam-zam satu galon!”

“Oleh-oleh mah nanti. Sekarang kita hadapi dulu jihad ekonomi pas lagi banjir orderan,” jawab Adimas santai sambil menyambar selembar nota.

“Khusus ente yang baru halal, tugasnya berat!” Yasser menunjuk Adimas penuh semangat. “Ente dapet jatah nyusun telur retak di gudang belakang. Ini namanya ujian kesabaran tingkat Ulul Azmi!”

Adimas hanya tersenyum tipis. Sambil mencontreng orderan, ia bergumam pelan di dekat telinga Kirana, “Ini cinta dalam sekarung beras dan dua dus minyak goreng. Insya Allah sakinah, mawaddah, warrahmah.”

Kirana hampir tertawa. Kalau cinta versi Adimas berbentuk sembako barokah seperti ini, ia rela dicintai tiap hari pakai paket sembako. Sepasang maniknya kini mengitari suasana ruko yang sudah resmi menjadi rumahnya itu.

Namun di tengah kekacauan itu, Kirana sempat berdiri canggung selama beberapa lama. Ia masih memakai pashmina yang sedikit miring dan jaket gedombrangan milik Adimas. Kok gua jadi kayak anak nyasar di antah berantah gini…

“Gue bantuin packing, ya, Dim?” tawar Kirana semangat.

Adimas bergegas mendekat, matanya menyipit masuk ke mode strict. “Naik aja ke atas.”

“Hah? Tapi gue—”

“Nggak usah ngeyel, Sholeha,” kata Adimas lembut, namun sedetik kemudian nadanya berubah tegas. “Sana naik. Lantai dua kosong. Mau tidur atau ngelukis naga, terserah.”

Mata Kirana sempat membulat. Ada rasa panas samar yang menjalar di wajahnya begitu mendengar panggilan 'Sholeha' itu. Buru-buru ia menyahut asal untuk menutupi salah tingkahnya. “Tapi kan gue juga bagian dari tim, Dimas!” Kirana cemberut.

Adimas menatapnya sebentar. Nadanya melunak, tapi tetap mantap. “Jaga kesehatan itu amanah, Ki. Lo udah seminggu begadang ngerjain proyek. Rebahan aja sana.”

Lihat selengkapnya