Sagala Aya Store mulai mereda dari kegaduhan siang. Suara derit pintu kaca yang terbuka setiap menit kini melambat. Di meja kasir, layar monitor hanya sesekali memunculkan bunyi ’klik’ yang malas. Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui celah kaca depan, menciptakan garis-garis debu yang menari di atas rak-rak detergen.
Adimas muncul dari pintu belakang dengan bahu yang merosot. Kaos abu-abunya basah oleh keringat, membentuk bercak gelap di bagian punggung dan dada. Ia mengusap dahinya dengan lengan baju, membuat rambutnya semakin berantakan tak beraturan. Napasnya masih menderu pendek setelah memacu motor mengantar paket ke kompleks sebelah yang tanjakannya cukup curam.
Namun, bagi Yasser dan Medi yang sedang duduk di balik meja kasir, pemandangan itu tidak terlihat seperti kuli yang kelelahan.
"Bro, liat nggak?" bisik Yasser sambil menyikut lengan Medi yang sedang asyik menghitung kembalian. "Ente perhatikan baik-baik. Makin capek, makin 'menjual' mukanya. Keringatnya itu lho, Akhi... kayak efek filter mahal di Instagram. Ini kesempatan emas buat kita!"
Medi mendongak, matanya menyipit fokus ke arah Adimas. "Bah! Betul kali kau cakap itu, Ser. Estetik kali kulihat mukanya pas lagi menderita begitu. Macam aktor drachin CEO yang sedang menyamar di pasar!"
Tanpa aba-aba, Medi merogoh saku jeans-nya, mengeluarkan ponsel dengan gerakan taktis. Sementara itu, Yasser dengan gerakan yang tak kalah lincah menarik ringlight mini dari laci kasir dan membentangkan spanduk diskon bertuliskan: "Diskon 30% untuk Sabun Mandi Favorit Anda!" tepat di belakang rak sabun.
Adimas berhenti melangkah, matanya memicing penuh kecurigaan. "Ngapain lo semua nyiapin properti aneh-aneh? Mau syuting FTV?"
Yasser menyeringai, jempolnya sibuk mengatur pencahayaan di layar ponsel. "Kita mau bikin konten, Akhi. Promosi sabun mandi. Ente jadi modelnya. Konsepnya: 'Ganteng-Ganteng Nganterin Sabun'. Natural, tanpa skincare, cuma keringat murni!"
"Tugas gue di sini antar paket, bukan jadi duta sabun cair," potong Adimas ketus, hendak melengos pergi.
"Justru itu kelebihannya, Dim!" seru Medi bersemangat. "Orang-orang di Reels itu bosan sama yang terlalu rapi. Mereka suka yang real, yang 'kurir-kurir manis' macam kau ini! Ayolah, jangan pelit kali kau sama wajah itu!"
Adimas memutar bola mata, tapi Yasser dengan dramatis menahan pundaknya, memasang wajah memelas yang dibuat-buat.
"Dim, Ente ngerti nggak? Ini demi toko kita. Demi masa depan ekonomi mikro kita. Demi... feed Instagram kita yang sudah kusam dan butuh pencerahan nurani!"
Adimas menghela napas panjang, bahunya lunglai tanda menyerah. Ia dipandu berdiri di depan rak sabun, menggenggam botol sabun cair aroma lavender yang dingin. Ekspresi wajahnya setegang satpam yang sedang menginterogasi maling jemuran.
"Oke, Dim! Satu... dua... pose! Sedikit senyum dong, Akhi. Bayangin Ente baru saja dapat tahu goreng gratis dari Kang Fajri!" perintah Yasser.
Adimas tetap bergeming dengan wajah datarnya. "Gue senyum, harga sabun ini naik dua ribu."
Medi meledak dalam tawa sampai ponsel di tangannya goyang. "DEAL! Naik dua ribu pun laku itu kalau kau yang jual!"
Yasser mulai bergerak memutar, mengambil footage dari berbagai sudut. "Tangan kiri pegang sabunnya lebih tinggi dikit... ya, begitu! Mata Ente tatap jauh ke depan, kayak lagi mikirin diskon akhir bulan atau mikirin nasib umat!"
Adimas hanya menatap lensa kamera dengan sorot mata penuh penderitaan, yang justru terlihat "dingin dan misterius" di layar ponsel Yasser. Setelah dirasa cukup, Yasser mengecek hasil video sambil tertawa puas.
"Wah, viral ini mah. Caption-nya sudah Ane pikirin: 'Mau sabunnya... atau Mas-nya?'"