Pagi di ruko Sagala Aya Store dimulai dengan ritme yang sibuk namun menenangkan. Adimas duduk bersila di atas tikar pandan, dikelilingi barikade kardus dan gulungan bubble wrap. Tangannya lincah membungkus pesanan terigu dan mentega. Sebagai mahasiswa Teknik Kimia, ketelitian memang sudah jadi makanannya sehari-hari, jadi urusan membungkus paket begini terasa seperti simulasi praktikum yang jauh lebih santai daripada menghitung neraca massa di kampus.
Printer label di sudut ruangan berdetak pelan, memuntahkan alamat pengiriman satu per satu. Suara lakban yang ditarik kencang—SREEEET!—bersahutan, menjadi musik harian yang rutin. Di luar, langit Bandung menggantung berat, awan kelabu berarak rendah—seperti mendung yang menggelayuti perasaan Adimas sejak semalam.
Langkah kaki ringan terdengar dari tangga kayu. Kirana turun dengan hoodie kebesaran dan pashmina dusty pink. Penampilan sederhana itu entah kenapa selalu berhasil mencuri perhatian Adimas. Kirana berdiri sejenak di ambang pintu, menatap punggung suaminya yang masih membungkuk sibuk.
"Dim, gue berangkat dulu, ya." Suaranya lembut, seolah tak ingin merusak kedamaian yang tercipta.
Adimas hanya mengangguk tanpa langsung menoleh. Ada canggung yang sengaja ia ciptakan sejak semalam. Sejujurnya, Adimas sedang berusaha keras menghindar; ia takut jika mereka bertatapan mata barang sedetik saja, binar "berbunga-bunga" di matanya bakal bocor dan ketahuan. Ia ingin memberi Kirana waktu lebih lama untuk mempertimbangkan segala hal, tanpa terganggu oleh desakan perasaannya yang mulai sulit dikendalikan.
"Bawa jas hujan, nggak?" tanyanya akhirnya, masih menunduk pura-pura fokus pada lakban di tangannya.
"Bawa. Payung, jas hujan, sama bekal juga. Lengkap, deh. Siaga bencana," jawab Kirana ringan.
Adimas menoleh sekilas—hanya ke arah sepatu Kirana—sebelum kembali menatap kardus. "Hmm. Di kampus... Bobby masih sering nongol?"
Langkah Kirana terhenti. "Kadang, kalau ada urusan sama dosen pembimbing. Tapi bakal gue anggap saja kayak background noise. Ada, tapi nggak penting."
Senyum tipis muncul di wajah Adimas, tapi ia segera menelan kembali senyum itu sebelum berubah menjadi tawa bahagia. Ia kembali menggulung lakban, menyembunyikan reaksi alaminya. Ia ingin jadi seseorang yang bisa Kirana andalkan, seseorang yang memberi ruang tenang, bukan seseorang yang mengekang.
"Kalau pulangnya kehujanan, japri aja. Nanti gue jemput."
Kirana menoleh, mengangkat alisnya jahil. "Siap, Pak Suami Siaga."
Adimas pura-pura sibuk memutar posisi kardus, tapi jantungnya justru berdegup lebih kencang. Kirana melangkah pergi, namun sebelum benar-benar membuka pintu, ia menoleh lagi.
"Dim."
"Hm?"
"Terima kasih... buat semalam."
Tiga kata itu lirih, nyaris tenggelam dalam deru kendaraan di depan ruko, tapi cukup untuk membuat napas Adimas tertahan satu detik.
Adimas tahu persis apa arti ucapan itu. Semalam, saat Kirana tampak begitu bingung dengan perasaannya—terjebak di antara sisa masa lalu dengan Bobby dan status baru mereka—Adimas memilih untuk tidak menuntut jawaban. Ia tidak bertanya "lo sayang gue nggak?", tidak mengejar kepastian, dan tidak mendesak Kirana untuk segera membalas rasanya. Ia hanya duduk di sampingnya, menemani dalam diam. Karenanya, Kirana berterima kasih karena Adimas membiarkannya bernapas tanpa tekanan.
Adimas hanya mengangguk, masih tak berani menatap mata Kirana. Begitu pintu menutup, dunia terasa kembali sunyi. Namun, hening itu mendadak pecah oleh suara berat dari arah rak minuman.