Hujan tumpah begitu saja di langit Bandung, deras tiba-tiba seolah langit sedang memuntahkan emosi terpendamnya dalam satu waktu. Aspal di depan warung seblak kampus itu berubah menjadi genangan keruh dalam sekejap, sementara suara rintiknya menciptakan melodi dramatis yang menghantam atap seng dengan bunyi yang memekakkan telinga.
Di tempat inilah, warung seblak yang jadi pelarian dari tugas kuliah dan realita hidup mahasiswa, Kirana masih duduk berhadapan dengan Debby.
Gadis blonde itu melirik ke luar. Ngeri melihat jalanan mulai berkabut, memburamkan pandangan. "Duh, gila, Ki. Ini sih badai," gumamnya. Ia lalu menoleh pada Kirana yang masih memegang gelas es teh yang sudah berembun. "Heh, dengerin gue ya. Nggak ada ceritanya sahabat gue pulang terus besoknya jadi berita di grup angkatan gara-gara pingsan kedinginan. Mending lo ke kosan gue dulu. Deket kok dari sini. Nunggu ojek juga mustahil jam segini."
Kirana menatap hujan, menimbang tawaran Debby. Tempting. Sangat menggiurkan. Mumpung Mami dan Papi sedang di Pontianak, kapan lagi bisa pajama party di tempat teman tanpa harus mengisi formulir izin tertulis tiga rangkap?
Namun, baru saja ia hendak mengangguk, bayangan cowok berkaus oblong dengan ketek bolong yang suka mengatur jam makannya mendadak muncul di kepala. Adimas. Suaminya.
"Aduh," Kirana mendesah panjang, bahunya merosot. "Gue lupa, ada satpam galak nungguin di rumah."
Debby mengernyit. "Satpam?"
"Alias Adimas."
"Oh... Bodyguard pribadi," goda Debby sambil menyikut lengan Kirana.
Kirana mencibir, tapi matanya tak bisa bohong. "Heem. Model langka. Bisa ngambek, bisa marah, dan hobi nge-chat 'kamu di mana?' tiap kali jadwal kuliah gue kelar."
"Hahaha...Baru juga kawin, Ki, lagaknya udah kayak bapak-bapak anak tiga," ledek Debby.
"Ya gimana. Mungkin itu cara dia nunjukin kalau dia care," jawab Kirana spontan sambil mengangkat bahu.
Debby langsung menyambar cepat, matanya menyipit penuh selidik. "Ciee, belain suami sendiri! Yang tadinya kesel diceramahin, sekarang bilangnya 'perhatian'. Perkembangan signifikan, nih, buat skenario drama rumah tangga temen kita!"
"Apaan sih, lo lebay!" Kirana memalingkan muka, tapi pipinya mendadak terasa lebih hangat dibanding sisa kuah seblak level neraka tadi.
"Eh, beneran, Ki. Lo tuh kayak tokoh utama drakor, yang awalnya nikah karena situasi, terus lama-lama baper sendiri. Gue tinggal nunggu lo bilang, 'ternyata dia manis kalau lagi tidur'."
"Ih, Deb, jijik banget! Gue nggak selebay itu."
"Oh, ya? Mau taruhan? Nggak lama lagi lo bakal kena sindrom baper sama bodyguard sendiri!"
Baru saja kata "nggak" itu keluar, ponsel Kirana di atas meja kayu bergetar hebat. Layarnya menyala terang. Dimas Bakpao Calling...
"Panjang umur. Baru dighibahin udah nelpon," ujar Kirana.
"Hah, kok Bakpao?" tanya Debby bingung.