Just Friend's Scenario

Vina Marlina
Chapter #26

Teh Manis dan Angin Nakal

Kirana menarik selimut hingga dagu, namun kain flanel itu gagal mengusir gigil yang merayap dari sumsum tulangnya. Efek dari drama jas hujan ponco yang bocor rupanya belum usai. Tubuhnya menyerah; maagnya meradang hebat karena hanya diisi seblak pedas level neraka siang tadi, sementara masuk angin mulai menggerogoti daya tahannya. Untung saja, asmanya tidak ikut kumat malam ini.

Setiap embusan angin yang menyusup dari ventilasi kamar terasa seperti sembilu—musuh yang tahu benar di mana titik paling rapuh tubuhnya. Perutnya mulas, kepala berdenyut seperti dihantam palu godam, dan pikirannya melayang kacau. Dingin memang selalu terasa lebih menusuk saat hati sedang merasa kesepian.

Entah sudah berapa kali ia menyeret langkah ke kamar mandi. Empat? Lima? Setiap langkah terasa seperti menggotong beban ribuan ton yang bukan miliknya. Biasanya, saat kondisi seperti ini, Mami akan datang membawa aroma minyak kayu putih yang menenangkan.

“Udah, tiduran. Biar Mami kerokin,” suara lembut itu terngiang, diikuti bunyi denting sendok yang mengaduk teh di cangkir bunga sakura. Teh manis hangat dengan takaran madu yang pas—resep rahasia yang selalu berhasil mengusir sakitnya.

Namun kini, saat Kirana menatap langit-langit kamar yang putih hambar, ia hanya menemukan kekosongan. Segalanya harus ia lakukan sendiri; mencari minyak kayu putih di kedalaman tas, mengelus punggung sendiri yang tak terjangkau, hingga merangkak ke dapur dengan tubuh gemetar. Bahkan teh racikannya sendiri terasa hambar, seolah kehilangan ruhnya.

Air mata Kirana jatuh perlahan, hangat di pipinya yang pucat. Ia rindu rumah. Ia rindu Mami. Isakan kecil pecah di keheningan kamar. Sebenarnya, ia ingin sekali berteriak, “Dim, gue sakit. Temenin...”

Namun, suara tawa riuh dan deru motor dari bawah menyadarkannya. Toko sedang ramai karena malam minggu. Adimas pasti sibuk bersama Medi, Yasser, dan Kang Fajri. Kirana tak tega menjadi beban.

“Hiks... Mami... aku kangen...” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar di balik bantal.

Di bawah, Adimas sedang menyusun dus minuman ke rak. Keringat membasahi dahi, tapi ia tetap sigap melayani pelanggan. Namun, sebuah kegelisahan mendadak menyengat dadanya. Biasanya, jam segini Kirana sudah muncul—entah menyodorkan keripik, menyanyi ngawur di dekat kasir, atau sekadar mengganggunya. Malam ini ruko terasa sunyi. Bahkan suara TV dari lantai atas pun tak terdengar.

Begitu toko tutup dan briefing kilat selesai, Adimas langsung melompat naik ke lantai dua. Perasaannya tidak enak.

Ia lalu membuka pintu kamar perlahan dan disambut pemandangan yang membuat jantungnya mencelos. Kirana tertidur dalam posisi duduk bersandar, cangkir kosong masih tergenggam erat, sementara selimutnya melorot ke lantai. Wajahnya pucat pasi dengan bekas air mata yang mengering di pipi.

“Ki? Hey, Kiki?” Adimas mendekat, menyentuh kening istrinya. “Gila... panas banget...”

Perlahan, ia mengambil cangkir dari tangan Kirana yang lemas, menyelimuti tubuh itu, dan mengusap rambutnya dengan gerakan kaku namun lembut. “Harusnya lo bilang, Ki.”

Kirana mengerjap, matanya yang sayu terbuka perlahan. “Gue nggak mau ganggu...” suaranya parau, nyaris hilang.

“Ganggu gimana? Gue bukan orang lain,” sahut Adimas, suaranya sedikit meninggi karena khawatir.

“Tadi di motor lo bilang... kalau gue sakit, lo jadi repot...” Kirana mencoba memasang wajah ngambek meski tubuhnya menggigil hebat.

Lihat selengkapnya