Kirana terbangun saat sisa-sisa kegelapan masih memeluk kamar. Di sampingnya, Adimas terlelap dalam posisi yang tampak sangat tidak nyaman—kepalanya bersandar pada tepian ranjang dengan tubuh yang masih terduduk di lantai. Wajah lelaki itu tampak letih; semalam ia benar-benar menjadi garda terdepan saat Kirana dikepung demam dan mual hebat.
“Ah...” gumam Kirana sangat lirih, malu-malu saat mengingat bagaimana Adimas merawatnya dengan telaten. Termasuk saat lelaki itu dengan kikuk mengerok punggungnya—jelas bukan keahlian Adimas, tapi ia melakukannya juga dengan penuh kesabaran.
Perlahan, Kirana memiringkan tubuh menghadapnya. Ia menatap wajah tenang Adimas yang terpejam dalam tidur. Ada bayangan letih di bawah matanya. Rambutnya berantakan, seolah tak sempat memikirkan diri sendiri. Kirana, tampaknya, telah menjadi pusat segalanya malam itu.
Tersentuh, Kirana mengulurkan tangan, menyentuh jemari Adimas yang masih menggenggam kain bekas kompres. Ia teringat tubuhnya yang menggigil semalam, dan bagaimana Adimas tak beranjak sedikit pun, membisikkan kata-kata lembut sambil terus mengganti kompres di dahinya.
Kirana tersenyum kecil. “Gue yang sakit, tapi lo yang paling lelah,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Di luar jendela, langit mulai memudar dari hitam ke biru pucat. Tak lama lagi, cahaya subuh akan menyusup ke dalam kamar mungil yang rapi dan nyaman—khas Adimas. Kalau menuruti hatinya, Kirana ingin terus larut dalam keheningan itu. Tak tega membangunkan lelaki yang memberinya kehangatan di malam paling dingin. Namun, ia tahu adzan subuh akan segera berkumandang.
Kirana menatap wajah Adimas lekat-lekat. Pipi yang dulu chubby kini lebih tirus. Muncul kerinduan aneh yang menyelinap, mengingat masa kecil mereka yang sering tidur siang di kasur yang sama. Dulu, Kirana sering mencolek pipi Adimas untuk membangunkannya. Sekarang, ia tergerak melakukannya lagi.
Terkikik kecil, Kirana mengangkat telunjuk dan dengan lembut serta ragu-ragu, menyentuh pipi lelaki itu. Adimas menggeliat pelan. Keningnya berkerut, lalu matanya terbuka perlahan. Sorotnya masih buram, tapi begitu melihat Kirana di sampingnya, kesadaran langsung kembali.
“Udah bangun? Masih pusing nggak?” gumamnya, suaranya berat dan serak.
Kirana mengangguk, tersenyum lembut. “Udah. Makasih ya, Dim.”
Adimas mengusap wajah, mencoba mengumpulkan nyawa. Tanpa diduga, ia meraih tangan Kirana yang masih terulur, lalu mengecup punggung tangan itu lama. Lembut dan khidmat, seolah menyampaikan janji tanpa suara. Kirana tersentak kecil. Suasana mendadak hening. Adimas pun tampak tersadar atas gerakan spontannya dan terlihat terkejut sendiri.
“Gue... gue bangunin Yasser dulu ya,” ujarnya gugup, mencoba bangkit.
Kirana segera menahan lengannya. “Jangan dulu. Sebentar lagi juga dia bakal jadi toa keliling.”
Mereka saling menatap, lalu tertawa kecil. Suara mereka pelan, seolah menghormati malam yang hampir habis.
"ASSALAAAAATU KHAIRUM... MINANNAUUUUM!"
Lengkingan cempreng itu meledak dari lantai bawah, menyusup lewat celah pintu kamar.
"Wahai penghuni ruko yang berbahagia! Ayo bangun, bangun! Salat itu lebih baik daripada lanjutin mimpi indahnya! Buruan turun atau ane bikin konser rebana di depan pintu kamar antum nih!" teriak Yasser dengan semangat yang meluap-luap.
“Tuh, kan! Apa gue bilang,” sambar Kirana sambil menahan tawa. Adimas hanya bisa mengelus dada mendengar ocehan sahabatnya itu.
“Gue ke masjid dulu ya, daripada keburu disidak si Yasser,” Adimas turun dari ranjang. “Mau dibawain sarapan apa? Nasi kuning?”
Kirana mengangguk pelan. “Nasi uduk aja, Dim. Tapi sekalian sambalnya, biar pedesnya berasa.”
Adimas tersenyum, mengangguk. Tapi saat hendak pergi, ia berbalik. “Eh, Ki. Jangan dulu makan sambel. Lo kan baru diare semalam.”