Suara bel pintu berdenting pelan, memecah riuh rendah aktivitas di lantai satu ruko. Siang itu, ruang depan yang biasanya penuh tumpukan kardus dan deru printer label terasa lebih padat dari biasanya. Kang Fajri tampak sibuk mencatat resi, sementara Yasser dan Medi tengah berdebat sengit soal cara melilitkan bubble wrap yang paling estetis untuk pesanan edisi Hari Pendidikan Nasional.
Adimas baru saja meletakkan semangkuk mi rebus—menu penyelamat yang selalu menjadi favorit istrinya—di meja dekat kasir saat pintu terbuka.
Kirana berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih sembap, sisa tangis yang belum kering sepenuhnya, namun matanya memancarkan kejernihan yang ganjil. Tas selempangnya menggantung miring, napasnya sedikit memburu seolah baru saja menempuh perjalanan panjang. Namun, langkahnya mantap. Tanpa sepatah kata pun, ia melintasi ruangan, menuju meja kasir, dan langsung melingkarkan lengannya di pinggang Adimas dari samping.
Pelukan itu erat. Diam. Seolah seluruh hiruk-pikuk ruko mendadak senyap, menyisakan dua detak jantung yang saling bersahutan.
Adimas membeku. Tangannya yang masih memegang sendok sayur menggantung kaku di udara. Refleks, ia menoleh ke arah rekan-rekannya; Kang Fajri tertegun dengan pena yang menggantung, Yasser mematung memegang gunting, dan Medi melongo dari balik rak sembako.
“K-Ki...” bisik Adimas canggung, pelan-pelan meletakkan sendoknya. “Ini... lagi banyak orang, lho.”
“Bodo amat,” gumam Kirana, menyembunyikan wajahnya lebih dalam di pundak Adimas.
Adimas menelan ludah, hatinya mencelos melihat kerapuhan istrinya. “Lo kenapa? Ada apa?”
“Ayo ke atas.”
Kirana melepas pelukannya perlahan, namun jemarinya segera mengunci tangan Adimas, menariknya menuju tangga kayu. Tak ada satu pun penghuni ruko yang berani bersuara. Hanya bunyi plastik jatuh ke lantai dan desahan takjub yang lolos dari bibir Kang Fajri.
“Masya Allah…” Kang Fajri tersenyum tipis, memandangi dua juniornya yang masih terpaku seperti patung. Dengan gaya kebapakan, ia merangkul pundak Yasser dan Medi. “Sabar, ya. Sebentar lagi, insya Allah giliran kalian yang bisa ngerasain indahnya halal.”
Di lantai dua, begitu pintu tertutup, keheningan terasa lebih pekat. Adimas masih berdiri kaku di sisi jendela. Napasnya naik-turun tak beraturan—bukan karena marah, melainkan karena jantungnya belum kembali ke ritme normal pasca serangan afeksi mendadak tadi.
Kirana duduk di atas bean bag, menatap suaminya lekat-lekat.
“Gue habis ketemu Bobby.”
Jantung Adimas seolah berhenti berdetak sesaat. Ia perlahan duduk di sebelah Kirana, tak ingin mendesak, hanya menunggu.
“Gue sudah bilang semuanya. Tentang rasa yang memang sudah lewat. Tentang lo. Tentang gue yang sudah lelah menunggu sesuatu yang nggak pasti.” Kirana menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. “Tadi gue bilang ke dia… kalau gue sudah milih lo.”
Kata-kata itu jatuh seperti gerimis pertama setelah kemarau yang menyiksa. Adimas membuka mulutnya, hendak bicara, namun lidahnya kelu. Ia hanya mampu mengangguk pelan sembari menggenggam tangan Kirana erat-erat, seolah takut sosok di depannya akan menguap.
“Maaf ya, tadi tiba-tiba pelukin lo tiba-tiba,” bisik Kirana, matanya berkedip cepat menahan haru.
Adimas terkekeh kecil, mencoba mengurai ketegangan. “Gue kaget. Beneran. Kirain lo shock habis nabrak truk atau gimana.”
Kirana ikut tertawa, tawa yang terdengar lelah namun sangat lega. “Kayaknya emang baru saja nabrak masa lalu. Untungnya gue selamat.”
Adimas mengusap punggung tangan Kirana dengan ibu jarinya, lembut sekali. “Selamat datang.”