Adimas duduk bersila di lantai ruko, dikelilingi lautan kardus dan gulungan lakban. Tangannya lincah melipat karton, membungkus paket sembako orderan kecamatan sebelah. Namun, fokusnya terbelah. Matanya terus mencuri pandang ke arah tangga—ke lantai dua tempat Kirana berada—lalu beralih ke jam dinding yang detaknya seolah mengejeknya.
Adimas baru sadar setengah jam yang lalu: hari ini adalah tepat satu bulan pernikahan mereka.
Dadanya menghangat, namun sesak secara bersamaan. Bagaimana bisa ia nyaris melewatkan hari sepenting ini? Keterlaluan. Di kepalanya, skenario ideal mulai bermunculan. Makan jagung bakar di Punclut dengan angin malam yang menggigit, berendam air panas di Ciwidey, atau sekadar menonton bioskop. Ia sudah rindu ingin menjadi "sepasang kekasih", bukan sekadar sahabat atau rekan kerja yang terjebak ritme ruko dan pesanan.
Namun, tumpukan paket di depannya seolah berkata lain. Tak mungkin ia membebankan semua ini pada rekan-rekannya. Tapi di sisi lain, Kirana juga pantas mendapatkan lebih dari sekadar ucapan singkat. Dengan napas panjang, Adimas pun menghampiri Medi, Yasser, dan Kang Fajri. Di antara lautan kardus dan lakban yang berserakan, ia bertanya dengan raut serius penuh harap.
"Bro, gue pengen sesuatu yang beda malam ini. Biar Kirana ngerasa spesial, tapi nggak bikin ribet. Monthly anniversary, gitu."
Medi langsung bersinar-sinar dan mengacungkan jari. "Bah! Kasih cokelat aja! Simbol cinta yang manis dan universal, nggak pake pening kepala kau!"
Adimas menggeleng pelan. "Hmm, cokelat mah terlalu biasa. Kiki nggak suka yang klise-klise."
Kang Fajri tersenyum. "Kalau begitu, bagaimana kalau kasih mushaf kecil? Biar jadi pengingat dan penyemangat ngaji bareng."
Adimas mengangguk menghargai, tapi kembali melirik ke lantai atas. "Bagus, Kang. Tapi Kiki lebih suka ngaji dari HP. Katanya lebih praktis."
Yasser tiba-tiba mengangkat tangan dengan gaya penuh semangat. "Ya Akhi Adimas! Ane punya ide paling gokil. Kita bikin candle light dinner di tempat jemuran ruko lantai dua, tepat di bawah langit ciptaan-Nya!"
Tawa pecah seketika di antara tumpukan kardus itu.
"Maksud kau... tempat jemuran yang buat ngejemur?" Medi tergelak sampai memegang perut.
"Eit, ente jangan meremehkan, Medi!" seru Yasser tak mau kalah. "Bayangin, Dim... lampu remang, lilin kecil di sela tiang jemuran, angin malam yang semilir. Ini namanya khidmah untuk istri. Romantisnya dapet, pahala berlimpah, dan yang pasti hemat anggaran dakwah ente!"
Adimas ikut tertawa. Senyumnya tumbuh semakin lebar. "Gue suka. Justru karena absurd, momen ini bakal diingat terus. Candle light dinner di tempat jemuran. Deal."
Kang Fajri mengangguk. "Kalau begitu, kita akan membantu menyiapkan yang terbaik. Bukan cuma romantis, tapi juga sesuai karakter kalian. Tapi beresin dulu kerjaan kita, ya," Kang Fajri menepuk bahu Adimas.
"Siap!" seru mereka bertiga serempak.
Malam merayap pelan. Lampu-lampu rumah di kejauhan menyala seperti kunang-kunang yang menyaingi cahaya bulan purnama. Lantai dua ruko, area jemuran yang biasanya berantakan, disulap jadi ruang terbuka kecil penuh pesona. Satu jam lalu ruko sudah tutup.
Yasser menggantung lampu-lampu kecil berwarna kuning hangat di sepanjang tali jemuran. Cahaya lembut itu menari-nari, menciptakan suasana hangat dan intim. Medi merapikan karpet kecil dan meletakkan bantal-bantal pastel agar Kirana dan Adimas bisa duduk nyaman nantinya. Kang Fajri membawa nampan berisi lilin aromaterapi, menyalakannya satu per satu hingga harum lavender dan vanila mulai memenuhi udara malam.
Adimas berdiri di pojok, memperhatikan semua dengan senyum bangga—dan jantung berdegup kencang. Bakal berhasil nggak ya? Jangan-jangan Kirana malah geli...
Sesekali, ia mengintip ke pintu kamar, memastikan Kirana belum menyadari apapun. Saat semuanya siap, Yasser dan kawan-kawan pamit turun ke bawah. Yasser menyalami Adimas ala ikhwan. "Semoga sukses menjalankan misi mulia ini, Akhi. Ane sama yang lain pamit i'tikaf di bawah dulu ya. Barakallahu lakuma!" bisiknya pada Adimas.
Adimas menarik napas dalam, lalu beringsut masuk kamar dan memanggil Kirana dengan suara manis. "Ki, ayo ikut sebentar. Gue ada sesuatu buat lo."
Kirana mendongak dari lipatan baju di tangannya. "Apaan sih, Dim? Gue belum selesai beberes."
"Lima menit aja. Serius. Lo harus lihat ini."
Nada suaranya yang berbeda membuat Kirana menurut. Meski lelah, ia melangkah tanpa banyak tanya. Begitu pintu menuju jemuran dibuka, matanya membelalak. Lampu-lampu kecil berkelip, lilin menyala, karpet lembut dengan bantal warna pastel. Ada termos kecil dan dua gelas mungil di tengahnya, ditambah sepiring roti bakar hasil GoFood dadakan.