Just Friend's Scenario

Vina Marlina
Chapter #31

Semburat Pagi di Ruko Sembako

Langit di luar masih sepucuk kuku, biru gelap yang pekat. Angin dingin khas Bandung menyusup perlahan dari celah ventilasi ruko, menyentuh kulit dengan lembut seperti tangan yang enggan membangunkan.

Alarm ponsel Kirana berdering pelan, nyaris malu-malu, namun cukup untuk membuatnya mengerjap. Ia menggeliat pelan di balik selimut tebal yang masih menyimpan sisa hangat semalam. Saat menoleh, ia dapati Adimas masih tertidur lelap di sampingnya. Napas suaminya teratur, dan rambut yang biasanya klimis rapi setiap pagi, kini berantakan lucu ke segala arah. Di bawah matanya ada bayangan lelah sisa kerja lembur paket semalam, tapi garis wajahnya terlihat sangat damai. Bahagia.

Lengan kokoh Adimas masih melingkar protektif di pinggang Kirana, seolah secara bawah sadar tubuhnya tahu bahwa pagi ini mereka harus berpisah barang sejenak. Kirana menatap wajah itu selama beberapa detik. Ada keinginan egois untuk membekukan momen ini; menyimpannya rapat-rapat di sudut hati yang paling hangat agar tidak dicuri waktu.

Ia menarik napas pelan, lalu menyentuh jemari Adimas yang masih menggenggam erat ujung kaosnya.

"Dim," bisiknya lembut. "Bangun... aku harus siap-siap ke kampus."

Yang ia dapat hanyalah gumaman kecil dan pelukan yang justru mengerat. Wajah Adimas tenggelam di ceruk leher Kirana, napas hangatnya menyapu kulit. "Lima menit lagi..." lirihnya dengan suara serak khas bangun tidur yang berat.

"Dim, serius deh. Aku ada kelas jam tujuh. Ujian juga. Belum sempat ngapalin bab terakhir..." Kirana menggoyang bahu suaminya pelan, tapi Adimas tetap tak bergeming, malah semakin mengeratkan dekapannya.

"Susulan aja, Ki. Sekali-sekali bolos. Kampus juga pasti ngerti kalau kita lagi... butuh waktu," gumam Adimas malas.

Kirana terkekeh pelan. "Kampus mungkin ngerti, Dim, tapi dosennya belum tentu."

Tiba-tiba, dari lantai bawah, terdengar suara lantang yang memecah keheningan fajar.

"Assalatu khairum minannaum... Assalatu khairum minannaum!"

Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki yang tergesa terdengar menaiki tangga kayu ruko mereka.

Tok! Tok! Tok!

"Akhi Dimas! Maaf ane ganggu manten... tapi jamaah masjid nungguin imamnya! Giliran ente kan pagi ini!" suara Yasser menggema dari balik pintu, terdengar bersemangat sekaligus tidak enak hati.

Kirana menahan tawa melihat reaksi suaminya. Adimas menghela napas panjang, sebelum akhirnya melepas pelukannya dengan berat hati. Ia bangkit duduk; rambutnya kini benar-benar mirip ayam habis dicabutin. "Astagfirullah, gue lupa jadwal."

Dengan mata setengah terpejam, ia berteriak ke arah pintu. "Yasss, sorry! Tolong gantiin dulu rakaat pertama kalau telat. Gue belum... mandi!" katanya sambil menahan kuap lebar.

Hening sejenak di balik pintu. Lalu...

"ASTAGHFIRULLAH!!"

"Bah! Tega-teganya kau umumkan itu di hadapan kami kaum jomblo fisabilillah ini, Dim!" seru Medi dari lantai bawah dengan logat Batak yang kental. Suaranya serak karena kaget, disusul suara batuk-batuk dramatis. "Kacau kali kurasa kawan kita satu ini, Yasser! Belum mandi katanya! Bisa guncang iman awak mendengarnya!"

Kirana tak kuat lagi. Ia menutup wajah dengan bantal sambil tergelak hebat. Adimas langsung menepuk dahinya sendiri, baru sadar ucapannya barusan bisa diartikan macam-macam. "Ya Allah, kenapa mulut gue jujur banget kalau baru bangun tidur."

Lihat selengkapnya