Just Friend's Scenario

Vina Marlina
Chapter #33

Rumah yang Menghangat

Tubuhnya masih lemas, itu pasti. Namun, bukan berarti telinganya kehilangan kepekaan.

Saat Kirana meletakkan cangkir teh di atas nakas dan merapikan selimut ke tubuhnya, Bunda hanya memejamkan mata. Bukan karena sudah terlelap, melainkan karena ingin menyesap lebih jelas suara-suara di sekitarnya. Suara dari dua anak muda yang kini menjadikan rumahnya sebagai rumah mereka juga.

“Baru kali ini aku lihat Bunda selemas ini,” bisik Kirana. Suaranya pelan, namun getar kekhawatiran terasa jelas di sana.

Bunda menahan senyum di balik pejaman matanya. Nada itu terdengar tulus seperti suara seorang anak yang mencemaskan ibunya, bukan sekadar menantu yang menjalankan kewajiban.

“Dulu waktu aku kecil, Bunda nggak pernah mau kelihatan sakit,” sahut Adimas. Suaranya terdengar matang—suara seorang laki-laki yang tidak hanya tumbuh dewasa, tapi juga telah belajar cara mencintai dengan tulus.

Hening sejenak. Bunda nyaris membuka mata, namun ia urungkan.

“Aku takut nggak cukup jadi menantu yang baik buat Bunda,” suara Kirana kini nyaris berupa bisikan yang menyayat. “Takut Bunda bakal bandingin aku sama perempuan lain… yang mungkin lebih dewasa, atau lebih pintar urus rumah. Aku takut, Dim. Bukan karena Bunda galak—justru karena Bunda terlalu baik.”

Jantung Bunda mencelos. Rasanya ia ingin langsung bangun dan memeluk Kirana saat itu juga. Gadis itu benar-benar mencintai keluarga ini, bukan hanya mencintai Adimas. Buktinya adalah rasa takut itu—takut tidak merasa cukup—adalah bentuk ketulusan yang sangat jarang ditemui.

“Kiki, dari dulu Bunda sudah anggap kamu anak sendiri. Kamu nggak perlu jadi orang lain,” suara Adimas terdengar begitu menenangkan.

Bunda menahan napas, mengerjap perlahan di balik kelopak mata yang masih terpejam. Rasa hangat menjalar di dadanya. Rasanya seperti melihat benih yang dulu ia tanam dengan sabar, kini telah tumbuh menjadi pohon yang teduh.

Membanggakan.

Bunda jadi teringat saat Kirana kecil sering menumpang tidur siang di rumah ini lalu meninggalkan buku gambarnya berserakan di ruang tengah. Ia teringat tawa mereka yang menggema dari halaman belakang. Suara-suara yang sama itu kini hadir kembali dalam wujud yang berbeda—lebih dewasa dan lebih hidup.

Kirana membuka laci dan menemukan sebuah map lama. Bunda tahu persis apa isinya. Map yang sudah lama tidak disentuh, namun tak pernah tega ia buang. Di sana, Bunda menyimpan potongan harapan Kirana layaknya menyimpan mimpi anaknya sendiri.

Saat Adimas memeluk Kirana dan berbisik, “Nggak usah selesai sendirian. Kita kejar bareng-bareng,” Bunda tak kuasa menahan senyum tipisnya.

Tubuhnya mungkin sedang melemah, tapi kebahagiaan hatinya hari ini kembali terisi. Melihat anak dan menantunya saling menjaga—bukan hanya menjaga fisik, tapi juga menjaga mimpi satu sama lain—adalah obat yang paling mujarab.

Dalam hati, Bunda merapal doa: Semoga kalian tak pernah lelah untuk saling menjadi sandaran bagi satu sama lain.

Begitu suara langkah kaki mereka menjauh menuju dapur, Bunda perlahan membuka mata. Sudut matanya membasah. Entah karena pengaruh demam, atau karena kata-kata Kirana tadi terasa bagaikan selimut yang paling hangat.

Ia menoleh ke sisi ranjang, menatap termos kecil dan cangkir teh yang isinya tinggal separuh. Tangannya bergerak pelan menyentuh permukaan cangkir itu, seolah ingin menyerap sisa kasih sayang yang diam-diam dituang Kirana ke dalamnya.

Perlahan, Bunda duduk dan bersandar pada bantal besar. Pandangannya menerawang ke luar jendela, menatap pohon mangga yang sudah dua tahun tak berbuah. Namun malam ini, hatinya justru merasa seperti baru saja memetik rasa manis yang luar biasa.

Bunda meraih ponsel dari laci nakas. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena sakit, melainkan karena rasa haru yang meluap. Ia mencari sebuah nama yang disematkan di baris paling atas.

Mami Kirana.

Lihat selengkapnya