Ruko tempat mereka bekerja perlahan sepi setelah lampu etalase dimatikan. Di ruang belakang yang sempit, empat lelaki duduk melingkar di sekitar meja kayu tua, ditemani gelas-gelas kopi sisa sore tadi dan beberapa bungkus gorengan yang tinggal remah-remahnya.
Kirana sedang jadwal menginap di rumah Bunda Sofie. Semenjak beliau sakit tempo hari, akhirnya Kirana dan Adimas sepakat membagi waktu menginap. Empat hari bersama Bunda, tiga hari di ruko.
Saat ini, Yasser selonjoran di lantai sambil memainkan tutup botol mineral, sementara Medi sibuk mengunyah keripik singkong yang tinggal setengah bungkus. Kang Fajri berdiri bersandar di ambang pintu, tangannya bersilang di dada, matanya tak lepas dari Adimas yang sedang menatap selembar kertas di tangannya dengan wajah bingung.
Proposal taaruf.
Surat resmi, rapi, lengkap dengan biodata, motivasi, dan lampiran surat dari wali akhwat yang tak dikenal. Masuk begitu saja lewat jalur teman dari teman, lalu sampai ke tangan Kang Fajri yang secara refleks langsung menyerahkannya pada Adimas tadi sore. Hanya karena sopan santun.
“Keren sih, Dim,” celetuk Yasser dengan gaya santainya. “Ane tuh udah lama banget ngarep dapet ginian. Tapi realitanya, yang nyangkut di HP ane malah chat spam pinjol. Ente bener-bener magnet akhwat ya, barakallah.”
Medi tertawa sambil menunjuk proposal itu dengan logat Medannya yang kental. “Bah, kalau kau memang nggak selera, bisa aku daur ulang nggak? Tinggal ganti foto, edit nama sikit... kurasa akhwatnya nggak bakal sadar kalau yang datang pemuda Medan macam aku ni.”
Adimas tertawa kecil, tapi wajahnya tetap canggung. Tangannya meremas bagian bawah proposal itu pelan, nyaris seperti sedang menahan sesuatu dari dalam dirinya.
“Lucu-lucuan kalian, ya,” gumamnya, separuh geli, separuh gelisah.
Kang Fajri akhirnya bicara. Suaranya rendah, terjaga, namun setiap katanya terasa berbobot. “Dim, kalau boleh, saya ingin bicara sedikit lebih serius.”
Semua langsung diam. Udara terasa sedikit lebih berat. Adimas mengangguk pelan, menatap Kang Fajri dengan hormat.
“Apa tidak sebaiknya status kalian mulai diperjelas pelan-pelan?” tanya Fajri lembut. “Kita berempat tahu kalian sudah sah secara agama dan negara. Tapi orang luar tidak tahu. Dan di titik itulah celah fitnah mulai terbuka. Spekulasi orang terkadang lebih tajam dari apa yang kita bayangkan.”
Adimas menunduk. "Gue tahu, Kang. Gue juga ngerasa makin nggak nyaman. Tapi… itu permintaan Kirana. Dia bilang, setidaknya tunggu dia semester tujuh, waktu udah mulai nyusun skripsi. Baru kita bisa terbuka.”
Yasser dan Medi saling pandang. Mereka tahu betul sejak awal, Adimas dan Kirana melangsungkan akad secara sederhana. Hanya keluarga inti dan tetangga yang hadir. Tapi setelah berbulan-bulan, rutinitas Kirana yang sering keluar masuk ke ruko mulai menimbulkan tanda tanya di lingkungan sekitar.
“Kami paham posisi kau, Dim,” kata Medi, nadanya lebih serius dari biasanya. “Tapi dari kemarin sudah mulai muncul omongan tak enak. Ada yang bilang kalian FWB-an lah, ada yang bilang kau terlalu ‘bebas’ buat ukuran ikhwan. Kami sudah coba tahan dan luruskan, tapi kau tahu sendiri, tak semua orang mau dengar penjelasan kita.”
“Ane sih insya Allah siap terus pasang badan buat ente,” tambah Yasser. “Tapi jujur, hati ane nggak tenang denger Kirana diomongin yang enggak-enggak. Dia perempuan baik. Ente juga. Nggak semestinya dapet fitnah murahan kayak gitu.”
Adimas mengepalkan tangannya. Hatinya mencelos. Dia tahu Kirana rapuh soal ini. Sekuat apapun tampak luar Kirana, dia tetap perempuan muda yang berjuang menjaga kehormatannya. Mereka pernah sepakat untuk menyembunyikan dulu pernikahan ini, tapi kini, kompromi itu mulai terasa mahal harganya.
“Gue bakal omongin lagi ke Kirana,” ucap Adimas pelan. “Gue juga udah mulai merasa… ini bukan soal kenyamanan kita lagi. Tapi soal lindungin dia dari omongan yang nggak bener.”
Fajri menatapnya lekat-lekat, lalu mengangguk kecil. “Keputusan yang bijak, Dim. Sebagai suami, tugas pertamamu adalah melindungi kehormatannya. Jangan sampai Kirana merasa sendirian menghadapi prasangka hanya karena kesepakatan yang kalian buat di awal.”
Sejenak ruangan hening. Lalu, seperti biasa, Yasser memecah suasana.
“Tapi serius, Ya Akhi. Proposalnya masih ada kan? Boleh dong ane pinjem buat bahan referensi. Biar ane tahu standar penulisan proposal taaruf yang baik dan benar bin memikat hati…”
Medi tertawa keras. “Bah, kubantu desain brosur-nya nanti! Tulisannya: Ikhwan berkualitas? Yasser jawabannya. Stok terbatas!”
Adimas hanya bisa menggeleng-geleng sambil ikut tertawa kecil. Tapi di balik tawanya, pikirannya sudah melayang jauh ke arah Kirana. Mungkin, memang sudah waktunya bicara ulang. Sebab menjaga privasi itu perlu, namun membiarkan cinta terus bersembunyi dalam gelap hanya akan mengundang badai fitnah yang jauh lebih menyakitkan
Malam itu, Adimas sampai di rumah Bunda Sofie sambil menyeret langkah kaki. Bukan karena capek fisik, tapi karena pikirannya masih sibuk berdebat sendiri. Namun, baru juga membuka pintu pagar, ia disambut kejutan manis.