Valen berdiri di sampin Daren, sibuk membolak-balik handphone dengan raut wajah penuh kekesalan, sesekali memberikan instruksi yang semakin membingungkan staf tersebut.
Ketika Citra berjalan melewati pintu ruang OSIS, ia tidak berhenti.
Ia tidak masuk untuk menaruh tas, ia tidak menyapa Daren, dan ia tidak menawarkan diri untuk membantu merapikan kekacauan yang ada.
Ia terus berjalan menuju perpustakaan, tempat yang sudah lama ia tinggalkan demi memenuhi ambisi organisasi Daren.
"Citra!"
Suara itu menggema di koridor yang mulai ramai.
Daren memanggilnya, Citra bisa mendengar suara kursi yang terdorong kasar dan langkah kaki yang menyusulnya dengan cepat.
Citra berhenti, namun ia tidak berbalik.
Ia hanya berdiri di sana, membiarkan angin koridor meniup anak rambutnya.
"Lo tuli atau gimana? Gue panggil dari tadi," suara Daren kini tepat di belakangnya, terengah-engah dan penuh ketidaksabaran.
Citra berbalik dengan perlahan.
Ia menatap Daren pria yang selama Bertahun-tahun telah menjadi pusat gravitasi dalam hidupnya.
Ia memperhatikan bagaimana Daren terlihat jauh lebih berantakan saat ia tidak ada di sana untuk merapikan segalanya.
"Gue denger, Daren" jawab Citra datar.
Suaranya tidak bergetar.
"Tapi gue udah nggak ada urusan sama lo atau kegiatan di ruangan itu" Sambungnya lagi.
Daren terdiam, matanya melebar sejenak.
"Maksud lo? Ini jam tujuh pagi, Lo sekretaris gue.. " Suara Daren mulai meninggi.
"Ada laporan yang harus lo beresin sebelum bel masuk bunyi" Titahnya.
Citra tertawa kecil, Itu bukan tawa bahagia, melainkan tawa getir yang lahir dari kesadaran pahit.
"Sekretaris lo? Sejak kapan gue jadi milik lo? Sejak kapan gue jadi barang yang bisa lo perintah sesuka hati? Gue milik diri gw sendiri, Daren, Bukan asisten pribadi yang nggak punya kehidupan" Ujar Citra Yang kemudian tersenyum miris.
Valen muncul di belakang Daren, wajahnya berubah merah padam.
"Heh, lo pikir lo siapa? Jangan sok yaaa, Kalau bukan karena Daren yang narik lo masuk ke OSIS, lo nggak bakal dikenal siapa-siapa di sekolah ini, Jangan lupa siapa yang bikin lo punya nama!" Ujar Valen kesal.
Citra menatap Valen dengan tatapan yang tenang, sebuah ketenangan yang justru membuat Valen semakin marah.
"Nama gue? Nama gue ada jauh sebelum kalian menganggap gue sebagai alat buat melancarkan ambisi kalian, Dan kalau buat kalian, gue cuma 'orang yang ditarik', maka sekarang gue bakal pergi, Anggap aja gue nggak pernah ada di sana" Ujar Citra dengan lantang namun dengan nada Tenang.