Dua minggu setelah malam di aula itu, sekolah terasa berbeda.
Aku tidak lagi berjalan dengan menunduk atau terburu-buru menghindari tatapan orang-orang di koridor.
Aku berjalan dengan santai, sering kali ditemani Siska yang ternyata adalah pendengar yang jauh lebih baik daripada siapa pun yang pernah kukenal.
Kami sering menghabiskan waktu istirahat di sudut perpustakaan yang tenang.
Di sana, aku kembali membuka buku catatan lamaku. .
Catatan yang sudah lama berdebu karena aku sibuk mengurus jadwal rapat dan daftar hadir OSIS.
"Jadi, tentang apa cerita yang lagi lo tulis?" tanya Siska sambil menyesap minumannya.
Aku menatap lembaran kertas yang penuh dengan coretan ide. "Tentang seorang gadis yang selalu menatap ke arah orang lain, sampai dia lupa bahwa dia sendiri sebenarnya adalah tokoh utama di hidupnya sendiri."
Siska tersenyum. "Kedengarannya... seperti refleksi diri, ya?"
Aku terkekeh. "Mungkin. Tapi kali ini, aku ingin dia berhenti menatap orang itu dan mulai menulis bab baru untuk dirinya sendiri."
Saat sedang asyik menulis, tiba-tiba suasana perpustakaan yang tenang terusik oleh suara gaduh dari pintu masuk.
Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Suara tawa Viona yang nyaring selalu menjadi penanda kehadiran mereka.