Malam itu, hujan turun dengan deras, menabuh jendela kamarku dengan irama yang monoton dan menyesakkan.
Aku duduk di sudut tempat tidur, memeluk lutut, menatap layar ponsel yang sengaja kumatikan.
Semuanya berjalan sesuai rencana, Aku sudah menjauh dari Daren. Aku sudah fokus pada tulisanku, Aku sudah bersikap tegas di depan Valen.
Tapi, kenapa di dalam keheningan kamar ini, hatiku masih terasa seperti dihantam palu godam?.
Satu tetes air mata jatuh, disusul oleh yang lainnya, hingga akhirnya aku tidak bisa lagi menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
"Kenapa susah sekali?" bisikku di antara isak tangis.
Aku merindukannya. Bukan hanya sebagai sosok yang pernah kumiliki, atau lebih tepatnya, yang pernah kuperjuangkan—tapi sebagai bagian dari diriku.