“Ini siapa?”
Pemuda itu hanya tertawa mendengar dua kata yang terucap dari mulut Devano. Setelah itu, ia melambaikan tangannya di depan Devano seraya memperkenalkan dirinya. “Kenalin, gua Nico. Orang yang udah nyelamatin lo di jembatan waktu itu. Feel free to say thank you ya.”
Mendengar orang di depannya tidak masuk akal, Devano langsung menutup pintu itu tanpa menjawab ucapan Nico. Nico sedikit panik karena Devano tiba-tiba pergi dan tidak merespons ucapannya, jadinya ia segera menahan pintu dan meminta Devano untuk tidak pergi meninggalkannya.
“Gua gak kenal lo. Thanks.”
“Gua cuma mau balikin ini ke lo.” Nico kemudian mengeluarkan dompet dan handphone milik Devano. “Waktu itu ketinggalan di jembatan. Daripada kenapa-kenapa, yaudah gua simpan, terus sekarang gua balikin deh.”
Devano menatap sejenak dua benda yang berada di tangan orang asing di depannya. Menyadari itu adalah barang miliknya, Devano dengan segera mengambil dompet dan handphone-nya dari tangan Nico. Setelah itu, tanpa mengucapkan apa-apa, Devano menutup pintunya lagi.
Belum sempat pintu tertutup, Nico kembali menahannya dengan tangan. “Udah dibalikin kok langsung kabur sih? Thank you-nya mana?”
“Apaan sih.”
“Wow, how rude you are.”
“Gua lagi pusing. Please, jangan ganggu gua.”
Nico memperhatikan sejenak postur tubuh Devano. Memang, menurut Nico, Devano terlihat seperti orang yang tidak sehat. Rambut acak-acakan, wajah terlihat kusut, pakaian seperti tidak diganti berhari-hari, ditambah pula badan tinggi itu terlihat sedikit lemas.
Nico juga sempat melirik ke arah dalam ruang milik Devano. Ia sempat terkejut melihat betapa berantakannya tempat itu. Namun, karena merasa Devano butuh waktu sendiri, terlebih setelah mendapatkan kembali barang-barangnya dan kondisi tubuhnya yang terlihat kurang baik, Nico merasa waktunya untuk hari ini sudah cukup. Sambil tersenyum, Nico kemudian pamit undur diri.
“Oke kalo gitu, kayaknya untuk hari ini cukup sekian. Gua bakal ke sini lagi besok. Sampai ketemu lagi!”
“Gak usah ke sini lagi juga gak apa kok,” gumam Devano pelan sambil menutup pintu. Heran karena masih ada orang yang ceria seperti Nico. seperti tidak ada beban hidup. Terlebih lagi, anak itu masih mau berbicara dengan dirinya yang suram. Tapi, Devano memilih untuk tidak mau memusingkan Nico. Toh, dia juga tidak mengenal Nico, jadi bisa saja Nico hanya basa-basi terhadap dirinya yang sedang muram.