Just Keep Living, Please?

William Oktavius
Chapter #3

Is This A New Chapter Of Life?

“Gak ada yang ngizinin lo boleh bersih-bersih ruangan gua.”

“Oh ya? Terus kalo gak dibersihin, ini ruangan bakal bersih sendiri gitu? Atau lo sendiri yang bakal beresin?”

Devano hanya menatap pergerakan Nico dari sudut kamarnya sambil tetap ditutupi selimut. Ia tidak menyangka bahwa Nico akan menepati ucapannya. Awalnya, Devano mengira Nico hanya membual saja. Namun, ia terkejut saat mengetahui di pagi harinya, Nico kembali mengganggu dengan ketukan pintu tanpa hentinya itu.

“Janjinya kan lo bakal bertanggung jawab sama diri gua ke depannya. Kenapa malah jadinya sekarang lo seenaknya ngebersihin tempat gua?”

“Hidup normal itu salah satunya berasal dari ruangan bersih. Gimana bisa lo berpikir jernih kalo ini aja masih banyak di atas kasur lo.” Nico mengucapkan kalimat itu sambil memungut tumpukan tisu di salah satu sisi kasur Devano.

“Tenang aja, kita bakal jalanin step by step. Jadi, sebelum kita memulai langkah yang besar, kita harus mulai dari langkah kecil dulu. Dan langkah pertamanya harus dimulai dari membuat ruangan lo menjadi bersih,” lanjut Nico lagi sambil menyapu beberapa kotoran yang ada di pojok ruangan Devano.

Devano tidak merespons ucapan Nico. Pikirannya malah terbang menjauh dari ruangan itu. “Apa ini langkah yang tepat ya ngebiarin anak ini masuk ke hidup gua?” gumamnya pelan.

“Tepat dong. Kan gua udah yakin. Harusnya lo juga yakin kalo ini adalah pilihan yang tepat.” Devano terkesiap saat tiba-tiba Nico sudah berada di sampingnya. “Lo denger apa yang gua ucap tadi?” tanya Devano pelan. Nico mengangguk sambil melebarkan senyumannya. “Terdengar jelas, jadi lo gak perlu khawatir atau kepikiran yang gimana-gimana banget.”

Usai merapikan kamar itu, Nico kemudian pamit undur diri. Tidak lupa juga Nico meninggalkan makanan untuk Devano, lalu Nico membiarkan Devano menikmati waktu sendirinya itu. Nico merasa, Devano juga perlu untuk me time dengan kondisi kamar yang sudah bersih. Jadinya, setelah yakin keperluan Devano sudah cukup untuk hari ini, Nico memilih untuk pergi dari tempat itu.

Keesokan harinya, Nico kembali bertamu. Nico menarik napas lega karena kamar Devano tidak kembali kacau seperti hari kemarin. Di pikirannya, jika Devano kembali depresi, maka ruangan itu akan seperti kapal pecah kembali. Namun untungnya, sekalipun kamar itu sedikit berantakan, tapi hal itu masih dalam tahap wajar.

“Gua udah gak separah dulu ya,” protes Devano saat Nico berkata ia tidak menyangka Devano masih bisa menjaga kerapian kamarnya itu.

“Berarti treatment gua berhasil nih,” balas Nico dengan bangga sambil mengacungkan jari jempolnya ke arah dirinya.

“Ini semua tetap salah lo. Harusnya gua udah gak ada di sini dan mikirin ruangan ini perlu tetap rapi atau nggak,” jawab Devano lagi dan membuat Nico sedikit panik karena aura depresi Devano terasa membesar kembali.

“Jangan gitu dong. Kan sekarang jadinya lo bisa nikmatin ruangan ini. Gak perlu lo bersihin, biar gua aja yang repot. Enak di lo juga kan? Ya kan? Jangan suram lagi ya, please?”

“Hmph.”

Merasa tidak ada penolakan lagi dari Devano, Nico menarik napas lega. Mereka pun kembali tenggelam dalam aktivitasnya masing-masing. Nico membereskan kamar Devano, sementara pemilik tempat hanya menontonnya saja dari pojok ruangan.

Beberapa hari setelahnya, Nico tetap berkunjung dan memastikan kamar milik Devano terlihat fresh. Meskipun Devano terkadang masih mengeluarkan aura depresinya, namun Nico merasa kondisi Devano setiap harinya jauh lebih baik. Devano sudah tidak terlihat suram seperti saat pertama kali Nico masuk ke ruangan itu.

Devano juga setiap hari masih melakukan protes ketika Nico dengan sesuka hati masuk ke wilayah kekuasaannya. Tapi, Nico hanya tertawa saja karena tahu, sekalipun Devano mengusir dirinya, Devano tidak benar-benar bisa membuat dirinya angkat kaki dari ruangan itu. Jadinya, Nico terus melakukan apa yang menurutnya bisa membuat Devano lebih riang, sementara Devano hanya bisa pasrah karena tidak bisa melawan balik tingkah laku Nico.

*****

“Nah, karena sekarang udara sore masih bagus, ayo kita jalan-jalan sebentar.”

Usai menyelesaikan sesi pembersihan ruangan pada hari ini, Nico mendapat ide untuk mengajak Devano berganti suasana. Namun, Devano menggelengkan kepalanya.

“Gak mau.”

“Lo terakhir kali lihat matahari itu kapan?”

Devano diam dan berpikir sejenak. Sesaat, ia terkejut begitu menyadari jawabannya terhadap pertanyaan Nico itu. “Benar, kan? Pasti udah lama banget,” jawab Nico lagi setelah yakin dengan ekspresi Devano.

Lihat selengkapnya