Just Keep Living, Please?

William Oktavius
Chapter #4

The World Is Beautiful, Isn't It?

“Kayaknya emang bener deh, gua manusia gak berguna.”

Nico tengah berbaring di atas kasur milik Devano langsung duduk dan memukul kepala Devano yang berada di samping kasur menggunakan majalah yang sedang ia baca. “Mulutnya ya, tolong dijaga.”

Sambil mengaduh kesakitan, Devano menggerutu kepada Nico dan berkata bahwa tindakan yang Nico lakukan barusan itu tidak perlu dan cukup berbahaya untuk keselamatan dirinya.

“Biar otak lo bisa lurus lagi. Anggap aja lagi ketok magic,” jawab Nico asal. Setelah itu, Devano hanya menghembuskan napasnya kasar.

“Emangnya kenapa lagi sih? Udah bagus kan kemarin-kemarin bisa senyum dan tertawa normal, kok sekarang gloomy lagi sih?”

Devano menundukkan kepalanya. “Habisnya gua ngerasa gini-gini aja. Belum ada improvement, kayak terkurung di dalam kotak. Tapi, gua juga takut buat nyobain hal baru karena gagal itu rasanya nyakitin. Kayaknya benar deh, gua manusia….”

“Lo lanjutin lagi itu kalimat, ini bakal terbang lagi ke kepala lo.”

Devano langsung memohon ampun saat melihat Nico bersiap untuk melempar majalah itu ke arah dirinya. Setelahnya, Nico membuang napasnya sedikit kencang. “Just enjoy your time dulu aja. Gak salah kok. Lagian, gak setiap orang yang lagi jatuh harus langsung bangkit. Nikmatin aja dulu fase lagi jatuhnya. Nanti kalo udah siap, baru bangkit lagi.”

“Tapi kalo terus-terusan ngerasa gak siap?”

“Itulah sebabnya lo butuh seseorang buat menopang lo. Jangan biarin lo mikul beban itu sendirian. Jadi, inilah gunanya your lovely Nico di sini.”

“Jadi, gua masih punya kesempatan? Dan itu bakalan tetap oke kalo gak diburu-buruin?”

“Exactly.”

Setelahnya, mereka berdua terdiam. Nico merasa ia mengingat sesuatu, jadinya ia segera membuka handphone-nya dan mencari sebuah postingan. Sementara itu, Devano hanya duduk diam saja di samping kasur itu sambil menenggelamkan kepalanya di antara kedua kakinya.

“Hmm. tapi kayaknya gua rasa kita emang perlu ganti suasana deh. Biar lo gak ngerasa stuck di sini terus, kita nginap aja yuk? Mumpung lo juga masih punya banyak waktu luang, daripada stres di tempat ini terus, mending kita cobain nginap di satu tempat yang berbeda suasananya dibanding tempat ini.”

“Di mana?”

“Di sini.” Nico lalu menunjukkan layar handphone-nya dan tertera paket berlibur dua hari satu malam ke sebuah pulau. Terdapat penginapan juga di sana dan wisatawan yang berkunjung juga dapat menikmati suasana malam di pantai. Devano menatap sejenak sambil menggeser foto di postingan itu.

“Tapi, ini kayaknya acaranya padat banget?”

“Kalo gitu, kita buat aja paket liburan pribadi. Jadi, gak perlu ikut tour, tapi individual picnic.”

“Emangnya bakalan ngaruh?”

“Pulang dari sana, gua jamin lo bakalan lebih fresh. Pemandangan alam tuh obat buat batin. Percaya deh.”

Devano melihat lagi postingan yang ada di handphone milik Nico. Di saat Devano masih ragu dengan ajakan Nico, anak satu itu malah sudah antusias merencanakan rute perjalanan liburan mereka. Bahkan, Nico sudah langsung menyebut tanggal untuk keberangkatan mereka. Setelah itu, Nico pun mencoba untuk menulis apa saja kebutuhan mereka.

“Udah, intinya lo tinggal ikut aja. Cukup bawa diri sama keperluan pribadi lo, sisanya gua yang urus. Lo tenang aja.”

“Kok jadi lo yang antusias banget?”

“Karena bisa lihat pemandangan alam itu salah satu anugerah, Devano. Lihat diri lo sekarang. Apa yang bisa lo lihat di sini? Gak ada kan? Makanya lo depresi mulu. Mending kita ke pulau, tarik napas dalam bisa dapat udara bersih. Bonus lihat pemandangan yang bagus pula.”

Mencoba untuk percaya dengan antusias Nico, Devano akhirnya memilih untuk mengikuti ajakan Nico. Siapa tahu apa yang diucapkan Nico benar, jadi ia bisa lebih fresh dari tempat liburan itu.

Lihat selengkapnya