Just Keep Living, Please?

William Oktavius
Chapter #5

Hobbies Can't Die

“Nico?”

“Hmmm…?”

“Kalo misalkan gua ajak lo ke sini, lo mau nemenin gua gak?”

Nico menatap sejenak layar handphone yang ditunjukkan oleh Devano. Setelah mengamatinya sebentar, Nico langsung menatap horor Devano, membuat anak itu menjadi salah tingkah.

“Ya udah deh, kayaknya mending gak usah,” ucap Devano sambil menarik lagi handphone-nya dan membuat Nico sedikit panik.

“Eh, ntar dulu. Gua kan belom bilang apa-apa.”

“Tapi ekspresi lo kayak lo gak mau ikut. Lihat aja kan sampai shock kayak gitu. Udahlah, lupain aja kalo gitu.”

“Ih, gitu aja kok ngambek sih?”

Devano sudah berada di posisinya di pojok kamar dan meringkuk dengan kepalanya kembali ditenggelamkan di antara kedua kakinya. Sementara itu, Nico menjadi merasa sedikit bersalah, lalu mengubah posisi tidurnya dan kini ia menghadap ke arah Devano.

"Jangan langsung mojok kayak gitu dong. Kan gua jadi gak enak sama lo."

“Habisnya hobi gua kan kayaknya agak aneh. Wajar kok kalo misalkan lo kaget dan gak mau ikutan. Gak apa.”

Setelah mendengar penjelasan Devano, Nico langsung tertawa kencang. “Gua belom ngasih tahu alasannya padahal. Tapi, lo udah kayak gitu. Overthinking lo kayaknya emang udah another level deh.”

Devano semakin mengecilkan badannya. Jadinya, Nico bangkit berdiri, lalu duduk di depan Devano. “Gua tuh cuma kaget karena lo tiba-tiba ngajak gua pergi, Devano. Biasanya kan gua yang ngajak lo ke sana kemari, bukan kebalikannya. Udah, itu aja alasannya kenapa gua bisa shock. Bukan karena event-nya. Gua mah malah happy karena ternyata lo punya kesenangan lain, gak cuma duduk diam di kamar ini doang.”

“Beneran?”

Devano perlahan mengangkat kepalanya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Nico tengah tersenyum ke arahnya. “Bener. Itu kan tandanya lo udah mulai berani buat mengambil inisiatif, beda sama beberapa minggu lalu. Dan itu bagus, karena artinya bukan gua terus yang jadi leader-nya, tapi lo perlahan juga mulai ambil lead untuk diri lo sendiri.”

“Jadi lo mau ikut?”

Nico langsung menganggukkan kepalanya. “Why not? It’s your favorite, who am I to judge it’s not good for join? Tapi karena ini lo yang ngajak, dan gua emang gak ngerti kegiatannya, everything by your lead, oke?”

Walaupun Devano sempat ragu dengan permintaan Nico, anak itu akhirnya menyetujuinya. Hitung-hitung latihan agar Devano bisa mengembalikan kepercayaan dirinya, lalu di sisi lain, Nico juga bisa mendapatkan pengalaman lain karena ini adalah hal yang baru baginya. Jadinya, Devano pun segera menyiapkan keperluan untuk mereka berdua dan Nico hanya menyaksikan bagaimana temannya itu antusias dalam persiapan jalan-jalan mereka.

*****

Lihat selengkapnya