“Sampai kapan ya gua bakal begini terus?”
“Sampai lo sadar kalo hidup ini indah dan lo masih punya banyak kesempatan.”
Nico menjawab asal gurauan Devano. Dengan posisinya berbaring di atas kasur Devano, Nico bisa melihat Devano duduk diam di pojok ruangan sambil menundukkan kepalanya di antara kedua kakinya.
“Kok lo gitu sih?”
“Habisnya lo balik kayak awal lagi. Sekarang kenapa? Ke-trigger apaan lagi sih?”
“Hmph.”
Devano tidak segera menjawab pertanyaan dari Nico, namun hanya menghembuskan napasnya dengan kasar. Sementara itu, Nico menjadi sedikit gemas dengan tingkah Devano yang seperti kembali ke setelan pabrik.
“Jadi? Kenapa lagi sekarang?”
Nico kemudian menggeser arah badannya sehingga kini ia bisa menatap langsung ke arah Devano sekalipun dia masih dalam posisi tengkurap di atas kasur. Di sisi lain, Devano masih tetap dalam posisinya.
“Gak tahu. Kepala gua rasanya penuh. Terus tiba-tiba kayak sedih dan kepikiran, cuma gak tahu kenapa. Mendadak mellow gitu. Mood swing kali.”
Nico mengangguk-anggukkan kepalanya, walaupun ia sepertinya masih belum menangkap maksud dari Devano. “Jadi intinya lo mendadak sedih tapi gak tahu kenapa, tapi pas mau dicari tahu kenapanya, malah bingung ngungkapinnya gimana?”
“Kayaknya iya. Tapi gak tahu juga sih.”
Sesaat, keduanya terdiam. Setelah itu, Nico bangkit dari tidurnya dan duduk di atas kasur Devano dan menghadap ke arah anak itu. “Lo mau jalan-jalan gak? Mumpung hari ini bagus cuacanya.”
“Gak mau. Kemarin-kemarin kan udah.”
“Tapi kali ini beda. Gua jamin.”
“Kenapa gitu?”
“Karena ini tempat biasanya gua datangin kalo gua lagi mumet. Pengen tahu kan tempatnya kayak gimana dan di mana?”
“Nggak.”
Nico menarik napasnya berat. Sepertinya depresi Devano kali ini lumayan parah, sekalipun Nico masih belum tahu penyebabnya apa untuk kali ini. Karena itu, Nico akhirnya bangkit berdiri dan mencoba untuk mengajak Devano berdiri dengan menarik lengannya.
“Pasti lo mau tahu, cuma malu-malu aja. Udah, hitung-hitung lo temenin gua aja. Anggap gua sekarang lagi mumet dan butuh ditemenin, dan sekarang saatnya lo temenin gua.”
“Gak mau, Nico.” Devano berusaha memberontak ketika Nico mencoba untuk menarik lengannya. Namun, walaupun Devano merasa tarikan dari Nico sedikit lemah, tidak seperti sebelum-sebelumnya, usaha Nico tidak kunjung berhenti membuat Devano menyerah. Ia pun perlahan bangkit berdiri dan kemudian mengikuti Nico berjalan ke luar, ke tempat yang Nico rasa dapat menghilangkan rasa stres pada diri Devano.
*****
“Nah, kita sampai deh.”