“Kalo misalkan gua coba apply job ini, gapapa kan?
“Ya gak apa dong. Kan itu bagus, artinya lo mau mencoba untuk bangkit.”
“Lo liat dulu, baru comment.”
Devano merajuk saat ia mendengar Nico membalas pertanyaannya dengan asal. Nico tengah asik memainkan games yang ada di handphone-nya sambil berbaring di atas kasur Devano, sementara pemilik kasur tengah tertekan saat menatap layar laptopnya itu.
“Ucapan gua kan gak ada yang salah.”
“Iya. Tapi at least lihat dulu. Jangan ngejawab sambil main games terus tidur-tiduran.”
Dengan malas-malasan, Nico memutar tubuhnya dan kemudian menghadap layar laptop. Karena posisi Nico tengkurap dan berada di belakang Devano, jadinya Devano tidak perlu menggeser layar laptopnya lagi.
“Bagus-bagus aja kok. Masih sejalur juga kan sama kerjaan lama lo? Ya gua gak tahu juga sih kerjaan lama lo kayak apa. Tapi, kalo lo ngerasa yakin ini cocok, gua bakal dukung juga kok.”
“Tapi gua takut.”
“Takut apa emangnya?”
Devano hanya menghela napasnya. Wajahnya tampak menunjukkan keraguan, meskipun akhirnya ia memilih untuk menjawab pertanyaan Nico beberapa saat kemudian. “Kan dulu gua udah pernah gagal. Kalo sekarang gagal lagi, berarti gua not worth dong?”
“Tapi kalo gak dicoba apply, artinya kan lo fix not worth. Diri lo aja gak berani ngukur kemampuan, berarti nilai lo jelas gak ketauan kan. Kalo lo apply, at least masih ada kemungkinan gagal atau diterima.”
“Terus kalo misalkan beneran ketolak gimana?”
“Itulah gunanya coba lagi dan lagi sampai berhasil. Seandainya gagal, kan pengalamannya udah ada. Jadiin itu sebagai evaluasi, terus melangkah maju lagi deh.”
“Jadi, beneran gak apa kan kalo misalkan gua coba apply?”
“Of course. Apply aja dulu, gak usah ragu. Urusan selanjutnya, ya liat nanti aja.”
Devano akhirnya mengikuti saran dari Nico. Setelahnya, dalam beberapa hari, Devano terus mengirimkan berbagai macam lamaran yang menurutnya sesuai dengan kriterianya. Namun, karena tidak kunjung mendapatkan panggilan, Devano akhirnya depresi kembali.
“Ternyata bener. Gua emang gak berguna.”
Dalam ratapannya, dengan posisi ia duduk di pojok kamar sambil menenggelamkan kepalanya di antara kedua kakinya, Devano kembali merasa dirinya tidak berharga akibat lamaran kerjanya tidak ada yang merespons.
“Kan belom dua minggu. Wajar gak sih?”
Nico kemudian bangkit dari kasur Devano, lalu menggeser laptop milik Devano dan melihat isi lamarannya.
“Hah? Yang bener aja lo? CV lo kayak gini? Surat lamarannya juga kayak gini doang? Gimana mau diterima?”
“Lo aja udah mengakui kan. Gua emang gak berguna,” sahut Devano lagi sambil sedikit terisak. Sementara itu, Nico menghela napasnya. Bingung antara kalimatnya memang benar atau terlalu sadis bagi Devano.
“Gua bantuin lo bikinin CV deh. Surat lamaran juga. Dan sekalian nanti kita latihan interview deh. Kondisi lo kayak gini bikin gua ragu kalo misalkan lo bisa dipanggil interview, lo bisa ngelaluinnya dengan baik atau nggak.”
Tanpa menunggu jawaban Devano, Nico mulai mencoba mengutak-atik daftar riwayat hidup milik Devano. Dengan bermodalkan data yang sudah tersedia, Nico lalu menyusun CV itu menjadi lebih rapi. Setelahnya, ia bangun dan menarik Devano, lalu memintanya melakukan review terhadap hasil yang sudah ia buat.