Just Keep Living, Please?

William Oktavius
Chapter #8

Small Achievement For Someone Already Fighting

“Semoga kita semua diberkati selalu. Dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.”

“Amin.”

“Perayaan ekaristi mengenangkan hari arwah pada sore hari ini telah selesai. Pergilah, kita semua diutus mewartakan sabda bahagia.”

“Syukur kepada Allah.”

Nyanyian penutup berkumandang usai berkat penutup selesai diberikan. Setelah petugas liturgi meninggalkan altar, Nico berlutut dan berdoa. Di hari ini, meskipun bukan misa mingguan, Nico menyempatkan hadir di misa harian pada sore hari di Gereja Katedral, Jakarta. Usai berdoa, Nico tidak langsung pulang. Ia menatap sejenak manusia yang tengah berlalu-lalang di depan altar gereja.

Suasana gereja hari ini sedikit berbeda. Banyak pigura foto yang ditempatkan di sekitar altar. Karena hari ini adalah hari arwah semua orang beriman, maka gereja secara khusus memberikan kesempatan bagi umat untuk mendoakan mereka yang telah meninggal dunia.

Nico terus menatap orang-orang yang ada di depannya itu. Tidak ada senyum maupun ekspresi dari anak itu. Pikirannya seolah hanyut di dalam keheningan gereja. Setelah terdiam cukup lama, Nico memutuskan untuk pergi meninggalkan gereja. Anak itu pun terkejut saat menyalakan kembali handphone-nya karena langsung banyak notifikasi yang masuk. Setelah membaca isi pesan itu, Nico tersenyum dan melangkah pergi dari tempat itu.

*****

“Congratulations!”

Ucapan selamat langsung Nico berikan ketika ia melihat Devano di depan pintu. Setelah itu, Devano segera mempersilakan Nico untuk masuk ke dalam kamarnya dan Devano menunjukkan layar laptopnya itu.

“Lo coba lihat nih. Berarti ini real kan?”

Nico menatap sejenak dan setelah membaca isinya, ia tersenyum kepada Devano. “Yes. That’s really a legit job offer. Lo akhirnya gak nganggur lagi, Devano.”

“Tapi, gua masih takut kalo ini scam.”

Nico paham jika Devano masih sedikit takut dengan kabar bahagia akibat dikecewakan di masa lalunya. Jadinya, yang ada di pikiran Devano masih sering negatif, sekalipun berita yang ada di depannya positif. Karena itu, Nico mencoba untuk menenangkan pikiran Devano.

“Kemaren kalo gak salah kan lo ada daftar ke perusahaan ini. Udah interview juga, datang ke kantornya pula buat tes lanjutan. Udah nego gaji dan spill benefit, kalo misalkan sekarang dikasih job offer, wajar kok. Mereka merasa cocok dengan lo. Nah. kalo lo ngerasa sreg, ambil offer-nya. Tapi kalo dirasa masih ada yang ngeganjel, yaudah gak apa untuk di-skip, walaupun saran gua, ambil sih.”

Lihat selengkapnya