“Devano, temanin gua yuk. Lihat pohon Natal.”
“Sekarang banget? Emangnya udah ada?”
Nico menunjukkan layar handphone-nya. “Udah kok. Sekarang kan udah awal Desember. Liat deh, postingan di mall ini bagus kan? Gua mau ke sana, tapi gak mau sendirian.”
Devano menimbang sejenak. Nico terlihat sedikit pucat, walaupun anak itu masih terlihat bersemangat ketika mengajaknya pergi. “Lo gak mau istirahat aja? Lihat pohon Natalnya nanti aja. Kan tanggal 25 Desember juga masih lama kan?”
Nico menolak usulan Devano. “Kalo makin dekat tanggal Natal, makin rame nanti. Orang-orang kan udah pada libur. Kalo sekarang belom.”
“Tapi lo kuat gak? Gua ngelihat lo agak pucat. Sesekali batuk juga.”
“Oh? Ini kan udah mulai musim hujan juga. Biasa gak sih? Anggap aja penyakit musiman.”
Devano mengernyitkan dahinya. Setelahnya, ia menatap lagi wajah Nico untuk memastikan kondisi anak itu. “Benar. Kayaknya lo lebih pucat dari biasanya. Beneran lo gak apa?”
“Aman kok. Lagian kan kita ke mall cuma buat lihat pohon Natal. Sama palingan jajan. Bukan buat belanja yang harus keliling satu mall kok. Jadi, kalo cuma buat itu, gua masih kuat kok.”
Devano tampak berpikir beberapa saat. Setelah itu, Devano mengangguk dan menyetujui ajakan Nico. “Oke. Berarti cuma lihat pohon Natal sama makan aja ya. Kalo misalkan lo kenapa-kenapa atau gak kuat, kita langsung pulang. Gimana?”
Nico langsung mengacungkan jempolnya ke arah Devano. “Good. Yuk kita pergi sekarang.” Setelah itu, usai menunggu Devano bersiap untuk beberapa saat, mereka berdua lalu pergi menuju mall yang sudah dipilih oleh Nico.
*****
“Pohon Natalnya gede banget.”
Baik Nico dan Devano, keduanya sama-sama terpana saat melihat pohon Natal di salah satu mall yang Nico pilih. Dekorasi yang megah serta ornamen-ornamen turut meramaikan pohon Natal itu. Kemudian, ukuran pohon juga cukup besar sehingga jika dilihat dari sedikit kejauhan masih terlihat indah. Setelahnya, Devano sibuk memotret pohon Natal itu dengan kamera handphone-nya. Di sebelah Devano, Nico masih terdiam sambil menatap pohon Natal yang ada di depannya.
“Terang di tengah kegelapan, kah?”
Dengan sedikit berbisik, Nico mengucapkan tema Natal 2026 yang ada di dekat pohon Natal itu. Tanpa sadar, air mata menetes di wajah Nico. Sementara itu, Devano sayup-sayup mendengar Nico mengucapkan sesuatu. Saat hendak mengonfirmasi ke Nico, Devano tidak sengaja menangkap ada air mata di wajah anak itu. Sementara itu, menyadari Devano bertingkah aneh, Nico menyadari ada sesuatu di wajahnya. Cepat-cepat ia membersihkan air mata itu, lalu Nico tertawa kikuk.
“Gua gak apa kok, beneran,” ucap Nico lagi saat Devano masih memastikan kondisinya.
“Tapi suara lo agak serak? Bener gak apa? Jarang-jarang loh ada orang yang nangis pas lihat pohon Natal.”
“Bener kok. Dan emang jarang, karena orang yang mengalami itu adalah gua.”
Walaupun Devano masih belum paham mengenai kondisi Nico, namun karena merasa Nico seperti hendak menyembunyikan kondisinya, jadinya Devano memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Setelahnya, Nico mengajak Devano untuk ke food court karena anak itu ingin duduk-duduk dahulu setelah berdiri saat melihat pohon Natal.