Usai tahun baru, Nico dan Devano kembali sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Namun, Devano merasakan ada sedikit keanehan pada Nico. Sebelum-sebelumnya, Nico paling tidak satu minggu sekali muncul di tempatnya. Tapi kini, sudah 2 minggu berlalu, belum ada tanda-tanda anak itu datang ke tempat Devano. Jadinya, Devano sedikit mengkhawatirkan kondisi anak itu.
“Nico lagi kenapa ya? Apa dia benar lagi sibuk?”
Di saat Devano masih memikirkan keadaan Nico, tiba-tiba datang pesan dari anak itu. “Devano, lo boleh datang ke tempat gua gak?”
Devano mengernyitkan dahinya saat menerima pesan dari Nico. Tidak biasanya anak itu meminta dirinya mampir ke rumah Nico. Yang ada, Nico pasti tanpa seizin dirinya sudah tiba-tiba berada di depan tempat tinggalnya. Jadinya, Devano menjadi tambah khawatir dengan keadaan Nico.
“Oke. Nanti habis pulang kerja, gua mampir ke tempat lo.”
Hanya ada balasan singkat sebagai tanda bahwa pesan itu sudah dibaca oleh si penerima. Setelah melihat isi pesan singkat itu, Devano kembali fokus ke pekerjaan dan menanti jam pulang kerjanya.
*****
“Wow, tempat lo berantakan juga ternyata.”
Tanpa sadar, Devano langsung mengucapkan kesan pertamanya saat melihat isi kamar Nico. Usai menerima ajakan untuk berkunjung ke tempat Nico, Devano jadi sedikit tidak berkonsentrasi di pekerjaannya. Jadinya, setelah jam pulang tiba, ia langsung pergi menuju alamat yang telah diberikan Nico. Devano pun terkejut saat masuk ke ruangan itu dan menyaksikan pemandangan yang ada di depan matanya.
Nico hanya terkekeh saja saat mendengar komplain dari Devano. Setelah itu, Devano duduk di salah satu sisi ruangan Nico dan melihat ke sekelilingnya. “Harusnya lo gak boleh komen ruangan gua kalo ternyata ruangan lo juga sama pecahnya,” gerutu Devano lagi karena tidak terima jika kamarnya dulu dibilang berantakan oleh orang yang ternyata kamarnya juga sama tidak terurusnya.
Nico lalu menghampiri Devano dan duduk di atas kasurnya. Devano menatap Nico sejenak. “Lo lagi sakit?” tanya Devano beberapa saat kemudian.
“Kok gitu?”
“Penampilan lo aneh soalnya.” Devano lalu menjelaskan bahwa Nico tidak terlihat se-energik dahulu. Bahkan, jika dibandingkan saat mereka terakhir bertemu ketika malam tahun baru, Nico masih terlihat segar. Selain itu, kondisi diri Nico juga sedikit berantakan, sama seperti keadaan kamarnya.
“Ternyata lo kalo ngomong tajam juga ya,” ledek Nico. Kemudian, Nico bergeser ke salah satu sudut kasurnya yang menempel ke tembok. “Tapi, tebakan lo benar. Gua lagi gak se-sehat dulu. Cuma, gua bukan sakit yang gimana-gimana banget kok. Jadi, sorry kalo gua tiba-tiba hilang ya selama beberapa minggu ini.”
“Kan seenggaknya lo bisa kabarin gua.”
Nico tertawa pelan. “Biar lo fokus aja dulu sama kerjaan lo. Pegawai baru sebaiknya pikirin kerjaan di kantor aja, gak usah pikirin hal lain.”
Devano hanya mengerucutkan bibirnya. Setelah itu, Devano memesankan beberapa makanan untuk Nico, jaga-jaga agar Nico tidak perlu terlalu kelelahan jika seandainya ia kelaparan. Karena hari sudah malam, jadinya Devano tidak bisa berkunjung terlalu lama di tempat Nico, sebab besok Devano harus kembali bekerja. Sebelum pulang, Nico menahan sejenak Devano lagi.