“Pokoknya lo harus temenin gua ke gereja malam ini.”
“Hah?”
Devano sedikit kaget ketika ia mengangkat panggilan telepon dari Nico, tiba-tiba ia ditodong untuk menemani Nico ke gereja. Setelah memastikan benar bahwa panggilan itu benar dari Nico, dan mengecek tanggal hari ini, Devano kembali melanjutkan panggilan teleponnya.
“Ini kan hari Kamis. Emangnya ada apaan di gereja hari ini?”
Dari seberang telepon terdengar suara tertawa. Setelah itu, barulah Nico memberikan jawabannya. “Nanti lo juga bakalan tahu kok. Susah jelasinnya kalo dari sini. Nanti aja pas udah di tempatnya langsung.”
“Oke. Kalo gitu, nanti ketemuan di gereja aja langsung kan? Gereja yang kemarin itu kan?”
Namun, tidak ada jawaban langsung dari seberang telepon. Setelah Devano memastikan apakah Nico masih berada di panggilan ini atau tidak, Nico akhirnya melanjutkan ucapannya.
“Tapi gua sebenarnya lagi agak lemas, jadi lo bantuin anterin dari tempat gua, boleh ya?”
Sesaat, Devano terkejut mendengar permintaan dari Nico. “Kalo udah tahu sakit, kenapa masih maksain ke gereja sih?”
“Karena sekarang kan lagi ada kesempatannya. Tahun depan masih terlalu lama, jadi selagi tahun ini masih bisa, why not?”
Walaupun sebenarnya Devano masih belum paham mengapa Nico sebegitu ngebet-nya ingin ke gereja hari ini, padahal masih ada hari lainnya, akhirnya Devano memilih untuk mengikuti kemauan temannya itu. Lagipula, hari-hari pertama mulai bekerja kembali setelah libur panjang Idul Fitri membuat pekerjaan Devano tidak begitu berat, jadinya ia bisa pulang tepat waktu hari ini dan pergi menjemput Nico.
“Ya udah, nanti gua jemput jam enam sore di tempat lo. Gua bisa pulang on time hari ini. Jadi, lo harus bersyukur tentang hal itu,” ucap Devano beberapa saat kemudian usai berpikir mengenai peluang dirinya menemani Nico hari ini. Setelah itu, terdengar suara bahagia dari lawan bicara Devano sekaligus berterima kasih karena Devano mau menuruti permintaannya itu.
*****
“Jadi?”
“Maksudnya?”
Nico hanya memiringkan kepalanya saat ia menyambut Devano yang sudah tiba di depan rumahnya. Tanpa basa-basi, Devano langsung bertanya mengenai alasan Nico mengapa ingin sekali pergi ke gereja di hari Kamis sore menuju malam ini.
“Kan minggu depan udah tri hari suci sekaligus paskah. Sebelum itu, umat Katolik sebaiknya mengaku dosa dulu agar pantas hatinya menyambut paskah. Kebetulan hari ini terakhir kalo di gereja Damai Kristus. Jadinya, selagi kita masih ada waktu, kenapa enggak?”
“Kalo misalkan gua hari ini gak bisa anterin lo gimana?”
Nico hanya tertawa saja. “Gua percaya lo bisa kok. Buktinya lo udah ada di sini sekarang.”
“Tapi, lo masih lemas kan? Lihat tuh, lo aja masih pegangin tembok biar gak jatoh.”
“Karena itu, gua butuh bantuan lo. Ini hari terakhir, Devano. Jadi, gua gak mau ketinggalan buat mengakui dosa-dosa gua di gereja. So, please help me, okay?”
Mendengar permintaan Nico, Devano merasa berat untuk menolak hal itu. Ditambah, Nico terlihat seperti sangat ingin bisa melakukan kegiatan yang baru saja ia jelaskan itu, jadinya tidak ada pilihan selain menerima permintaan Nico. Devano berusaha memapah Nico untuk membantu ia mempersiapkan kebutuhannya. Lalu, setelah dirasa semuanya siap, Devano membantu Nico pergi menuju gereja.
*****
Suasana gereja sudah cukup sepi. Sekalipun ini hari terakhir untuk mengaku dosa, tapi karena sudah dua jam sejak sesi pengakuan dibuka, jadinya umat sudah banyak yang selesai mengakui dosa-dosanya. Maka dari itu, ketika Nico dan Devano tiba, antrian sudah memendek dan Nico cukup menunggu beberapa orang saja yang ada di depannya. Di sisi lain, Devano menunggu dari kursi kosong lainnya dan tidak masuk ke antrian. Hitung-hitung juga untuk stand by saat tiba giliran Nico agar Devano bisa membantu memapah Nico masuk ke bilik pengakuan dari kursi antrian.
Usai mengantarkan Nico masuk ke dalam bilik, Devano kembali menunggu di kursi itu. Tapi, setelah memperhatikan situasi sebelumnya, Devano merasa umat lainnya tidak begitu lama berada di bilik pengakuan. Jadi, setelah menyadari Nico sudah lebih dari lima menit berada di bilik itu, Devano menjadi sedikit khawatir. Dan kekhawatiran Devano menjadi semakin memuncak karena setelah 10 menit, Nico akhirnya keluar dari bilik itu dengan kondisi menangis.
Dengan segera, Devano langsung menghampiri Nico yang masih memegang pintu bilik. Namun, begitu tangan Devano meraih pundak anak itu, tangisan itu menjadi sesenggukan. Nico tampaknya sadar bahwa dirinya masih berada di dalam gereja, jadinya ia berusaha menahan tangis agar suaranya tidak keluar, meskipun itu jadinya bahunya menjadi tidak terkontrol dan air mata itu semakin mengalir deras.
Devano kemudian menuntun Nico untuk duduk dahulu di salah satu kursi gereja di bagian depan. Masih dalam diam, Devano mencoba menenangkan Nico yang masih menangis. Butuh waktu cukup lama agar Nico bisa kembali tenang. Setelah itu, Nico meminta maaf kepada Devano karena sudah membuatnya panik dan ia meminta waktu sejenak karena hendak berdoa usai ia mengakui dosa-dosanya di balik bilik pengakuan.
*****
“Sorry, tadi gua udah bikin lo panik.”
Usai menyelesaikan doa-doanya di dalam gereja, Nico mengajak Devano untuk duduk sejenak di teras gereja. Devano kemudian kembali menenangkan Nico dengan menepuk pundak temannya itu ketika Nico meminta maaf lagi kepadanya.
“Jadi, lo mau cerita?”
Nico menghela napasnya, lalu menatap langit-langit bangunan itu. “Gua kayak kaget aja, ternyata dosa-dosa gua banyak banget.” Nico menghentikan sejenak ucapannya. Setelahnya, ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan lagi ceritanya. “Jadi, ketika romo bilang kalo dosa-dosa gua dilepaskan, gua tanpa sadar nangis. Dan ketika keluar dari bilik itu, dan lo pegang pundak gua, tangisan gua malah jadi makin gak kekontrol.”
“Tapi, kalo sekarang, lo udah merasa lebih baik?”