Just Keep Living, Please?

William Oktavius
Chapter #13

Our Limit

“Tubuh Kristus.”

“Amin.”

Nico kembali meneteskan air matanya seusai menerima Tubuh Kristus dalam bentuk hosti yang diberikan oleh imam kepadanya. Sudah satu minggu, karena keterbatasan fisiknya, Nico tidak bisa ikut mengantri untuk menerima hosti kudus. Jadinya, dengan bantuan panitia, seusai antrian berakhir, tim panitia akan berbicara kepada imam dan imam akan mengantarkan hosti kudus itu ke tempat duduk Nico.

Devano tidak berhak untuk menerima komuni kudus, karena ia sendiri masih belum tahu kejelasan status agama Katoliknya. Jadi, Devano kadang memperhatikan Nico ketika anak itu telah menerima Tubuh Kristus. Tapi, pandangannya kali ini menjadi khawatir karena sudah beberapa kali ia melihat Nico meneteskan air mata, baik sejak awal mula pekan suci di Minggu Palma kemarin hingga di misa Malam Paskah sekarang. Meskipun sudah diam-diam mengamati tingkah laku Nico, Devano masih bingung bagaimana caranya bisa mendapatkan jawaban dari Nico karena pasti anak itu akan mengelak jika ia mengatakan telah melihatnya menangis.

Usai doa penutup, dan mendengarkan pengumuman gereja, serta sambutan pesta paskah dari tim panitia, misa hari ini berakhir. Imam memberikan berkat penutup meriah, dan setelah itu, umat saling memberikan ucapan selamat paskah kepada orang-orang yang mereka kenal.

“Selamat Paskah, Devano!”

Nico mengulurkan tangannya ke Devano yang berada di sebelahnya. Devano menyambut tangan itu dan mereka bersalaman dan Devano ikut mengucapkan salam seperti yang sudah dikatakan Nico.

“Selamat Paskah juga, Nico!”

Usai berjabat tangan, Nico kembali menatap altar yang ada di depannya. Setelah itu, ia melihat ke sekeliling gereja, masih banyak umat yang hilir-mudik dan bercengkrama karena misa malam ini sudah selesai. Sementara itu, melihat kondisi Nico yang sudah begitu terkuras akibat pe tiga hari berturut-turut, Devano kemudian menatap anak itu.

“Besok lo harus full rest, Nico. Kan kita udah ucapin selamat Paskah malam ini, artinya udah Paskah, kan?”

Nico menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Gak mau. Ibadah Malam Paskah dan Minggu Paskah itu beda. Jadi gua mau ikut lagi besok.”

Mendengar Nico masih terus bersikeras ingin hadir di misa esok pagi, Devano mengernyitkan dahinya. “Alasannya? Kan udah aleluya aleluya juga tadi?”

“Misanya beda. Kalo Malam Paskah tuh benar, Tuhan Yesus udah bangkit. Tapi, ceritanya kan kayak baru disebar dari malaikat. Sedangkan besok, Tuhan Yesus akhirnya menampakan diri setelah bangkit. Bacaan injilnya juga beda. Jadi, besok tuh buat negasin, Paskah-nya beneran karena Tuhan Yesus udah bangkit dan ada buktinya.”

Lihat selengkapnya