Suasana panik langsung terasa begitu Nico tiba di Unit Gawat Darurat rumah sakit terdekat dari gereja. Tim dokter langsung bergantian keluar masuk ke ruang UGD untuk menstabilkan kondisi Nico. Berbagai macam alat juga langsung dipasang ke tubuh Nico yang masih tidak sadarkan diri. Sementara itu, Devano hanya bisa terduduk diam di kursi depan ruang itu sambil melipat kedua tangannya. Kepalanya sedikit tertunduk sambil kedua tangannya berada di dekat wajahnya. Devano masih belum bisa berpikir jernih karena masih berusaha memproses apa yang baru saja terjadi pada sahabatnya itu.
“Tuhan, tolong Nico ya. Semoga dia bisa segera sadar lagi.”
Hanya kalimat itu saja yang sanggup Devano ucapkan berulang-ulang. Ia masih berharap bahwa Nico hanya kelelahan saja dan pingsan. Tapi, setiap kali ia mengintip dari jendela dan melihat tim dokter masih terus bergerak cepat, Devano merasa Nico menderita penyakit parah dan kini tim dokter berusaha menyelamatkan Nico.
Sudah beberapa jam berlalu. Masih belum ada kabar dari tim dokter. Bahkan, ketika Devano mencoba mencegat salah satu perawat yang hendak masuk dari ruang tindakan maupun perawat yang baru keluar dari ruangan itu, jawabannya sama semua. “Kami masih berusaha menyelamatkan Nico. Kami akan kabari lebih lanjut nanti.”
Bahkan, ketika Devano berusaha untuk curi-curi makan di kantin rumah sakit, perasaannya masih tidak tenang. Takut jika tiba-tiba dokter sudah ada kabar lebih lanjut, tapi dirinya tidak ada di sana. Jadinya, Devano hanya sesekali saja pergi meninggalkan ruang tindakan untuk beristirahat, lalu setelah semua urusannya selesai, ia kembali lagi ke ruangan UGD.
Delapan jam berlalu. Di saat Devano masih tertunduk di kursi itu, pintu ruang UGD akhirnya terbuka. Tim perawat pergi meninggalkan ruangan, lalu salah satu dokter bertanya apakah ada keluarga Nico yang bisa dihubungi atau tidak. Devano langsung mengangkat tubuhnya begitu mendengar dokter itu bisa diajak berbicara.
“Nico tidak punya keluarga, Dok. Hanya saya saja, sahabatnya, yang Nico punya saat ini. Jadi, untuk sekarang, cuma saya yang bisa mewakili Nico.” Devano teringat bahwa selama pengalamannya berkunjung ke tempat Nico, tidak ada satupun keluarga yang ada di tempat tinggal Nico. Anak itu juga tidak pernah menyinggung masalah keluarga pada Devano, jadinya kesimpulan yang bisa Devano ambil adalah Nico hidup sendiri tanpa ada keluarga yang bisa dihubungi.
Wajah lelah jelas terlihat dari dokter itu. Setelah mendengar penjelasan Devano, dokter itu hanya bisa menghela napas panjang. Usai meyakinkan Devano lagi apakah benar tidak ada keluarga Nico yang bisa menjadi perwakilan, akhirnya dokter itu meminta Devano untuk mendatangi ruang kerja miliknya.
Sepanjang perjalanan menuju ruang kerja dokter, firasat Devano menjadi tidak enak. Ia merasa sepertinya topik bahasan kali ini akan berat, karena jika tidak, untuk apa dokter itu sampai repot-repot harus mencari keluarga Nico dan mengajak dirinya ke ruang kerjanya. Jadinya, selama beberapa menit, Devano berusaha untuk menguatkan dirinya mendengarkan kabar dari dokter.
“Jadi, kondisi Nico yang sebenarnya bagaimana, Dok?”
Devano langsung memburu dokter itu dengan pertanyaan, bahkan di saat mereka baru masuk ke ruangan. Setelah itu, dokter kemudian berjalan ke meja kerjanya dan seperti menulis sesuatu. Devano pun mengikuti dan duduk di kursi yang tersedia di meja itu. Beberapa saat kemudian, dokter itu menghentikan tulisannya dan menatap dalam wajah Devano.
“Sebelumnya, apakah kamu tahu mengenai kondisi kesehatan Nico yang sebenarnya?”
Devano menggelengkan kepalanya. Ia memang benar tidak tahu apa-apa mengenai kondisi sahabatnya itu. “Dia memang sudah mulai lemah beberapa bulan terakhir, Dok. Padahal, di tahun sebelumnya, dia masih energik. Tapi, tingkah laku dia agak aneh di seminggu ini. Nico bilang dia lemas, bahkan saya kadang melihat dia oleng saat berjalan, tapi masih memaksakan diri untuk ikut ibadah, bahkan ikut full misa beberapa hari kemarin.”
Dokter itu kemudian memijat dahinya saat mendengar penjelasan Devano. Setelahnya, ia menarik napas panjang, lalu mencoba menjelaskan kondisi Nico kepada Devano.
“Sebenarnya, kondisi ini saya hanya bisa ceritakan ke keluarga Nico. Sifatnya rahasia. Namun, karena kata kamu dia tidak ada keluarga di sini, lalu tidak ada kontak yang bisa dihubungi, dan menurut saya ini cukup penting dan harus segera dibicarakan, jadinya saya akan memberitahu kamu bagaimana kondisi Nico saat ini.”
Devano menahan napasnya saat mendengar penjelasan dokter. Sepertinya akan menjadi kabar yang buruk untuk dirinya.
“Kondisi Nico sudah benar-benar kritis. Dia sepertinya sudah memaksakan kondisi tubuhnya untuk melakukan sesuatu yang melelahkan untuk dirinya. Kalo dari cerita kamu, sepertinya sesuai. Nico sudah kelelahan dan dia sudah mencapai batasnya sekarang.”
Bagai tersambar petir, Devano hanya bisa mematung saat mendengar penjelasan dari dokter. Walaupun sebelumnya Devano sudah memprediksi kabar buruk itu, tapi begitu kabar buruknya benar keluar dari mulut dokter, Devano tetap masih tidak mampu mencerna kalimat itu.
“Jadi, Nico udah separah itu?”
Dokter menganggukkan kepalanya. “Penyakitnya sudah menyebar cukup luas. Dari catatan medis saudara Nico, sebenarnya masih ada peluang untuk memperpanjang harapan hidup melalui terapi. Namun, Nico menolaknya karena ingin fokus menikmati sisa hidupnya.”
“Kalo begitu, waktu Nico sisa berapa lama lagi?”
Seketika, ruangan itu menjadi hening. Hanya ada hembusan napas yang terdengar, membuat suasana menjadi semakin mencekam. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya dokter itu memecah keheningan. “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan Nico untuk saat ini.”
Kini, pertahanan diri Devano benar-benar runtuh. Tangisan yang sedari tadi ia tahan kini langsung pecah. Ruangan itu kini bergema dengan suara isak tangis dari seseorang yang tidak menyangka bahwa sahabatnya ternyata tidak bisa hidup lama lagi. Sementara itu, dokter yang ada di depannya juga masih berada di tempatnya, seolah membiarkan orang yang menangis di depannya menerima keadaannya terlebih dahulu.
Usai Devano mulai tenang, dokter itu akhirnya mengeluarkan kembali suaranya. “Kami akan terus berusaha agar Nico bisa sadar kembali. Tapi, mengingat catatan medisnya berkata demikian, saya juga harus jujur. Itu sebabnya saya butuh keluarga Nico untuk mengetahuinya. Namun, karena saat ini hanya ada kamu yang Nico miliki, saya harap kamu juga bisa ikut membantu sebanyak yang kamu bisa, untuk mendukung Nico yang masih berjuang di dalam ruangan UGD ya.”
Devano hanya bisa mengangguk lemah. Setelah menangis kencang, ia butuh waktu untuk menenangkan diri. Jadi, setelah semua informasi dirasa sudah diberikan oleh dokter, Devano berterima kasih kepada dokter dan kemudian pamit undur diri. Devano kemudian berjalan pelan ke arah ruang UGD tempat Nico masih dirawat.