“Please, anterin gua ke rooftop ya? Sekali ini aja.”
Devano tertegun mendengar permintaan Nico. Sederhana. Hanya satu hal saja. Namun terasa begitu menyesakkan. Nico yang biasanya bisa pergi ke manapun yang ia mau, kini hanya bisa berharap kepada Devano. Bahkan hanya untuk sekadar ke atap rumah sakit, Nico tidak bisa melakukannya sendiri. Karena itu, untuk memenuhi permintaan dari sahabatnya, Devano langsung menganggukkan kepala.
“Biar gua cari kursi roda dulu buat lo.”
Nico mengangguk dan kemudian mengucapkan terima kasih. Sesaat kemudian, Devano kembali ke ruang inap Nico dan membawakan kursi roda. Dengan perlahan, Devano menuntun tubuh lemah Nico bangkit dari tempat tidur. Setelahnya, Devano ikut membantu membereskan selang infus milik Nico. Usai dirasa siap, Devano perlahan mendorong kursi roda itu menuju lantai paling atas rumah sakit.
Sesampainya di lantai paling atas rumah sakit, Devano menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan kondisi lorong aman dari lalu-lalang petugas. Untungnya, karena jam besuk telah usai, jadinya pengunjung sudah jauh berkurang. Setelah memastikan tidak ada petugas yang menghalangi, Devano membawa Nico ke salah satu tangga darurat. Untung saja Devano pernah menyusuri setiap sudut rumah sakit ini ketika Nico masih tidak sadarkan diri, jadinya ketika Nico meminta untuk dibawa ke atap rumah sakit, Devano sudah tahu arah yang benar untuk membawa Nico.
Setibanya di tangga darurat itu, Devano menghentikan langkahnya dan kemudian melepas jaket yang ia kenakan. “Angin di luar kemungkinan kencang. Mending lo pakai jaket gua dulu.” Devano lalu memakaikan jaket miliknya ke Nico. Namun, karena ada selang infus milik Nico, Devano kesulitan untuk mengenakan jaketnya ke Nico. Melihat kesusahan Devano, Nico hanya tertawa pelan. Setelahnya, Nico meminta agar jaketnya itu dipasang ke punggungnya saja. “Maafin gua ya, malah jadi ngerepotin lo,” ucap Nico pelan sambil sedikit menundukkan pandangannya.
Devano langsung menggelengkan kepalanya. “Kayak gini doang, masih bisa kok.” Setelah itu, Devano memastikan agar kursi roda sudah terkunci dan tidak bergerak lagi, kemudian ia melepaskan botol infus dari tiang infus yang dibawa sebelumnya. “Ini agak bahaya. Yakin masih tetap mau dilanjut? Gua takut selang infusnya jadi mampet.”
Nico hanya tersenyum pelan dan menatap botol infus yang masih berada di tangan Devano. “Lo udah tahu kan kondisi gua kayak gimana? Jadi, mau mampet atau gimana, gak begitu ngaruh kok.”
Setelah berkata demikian, Devano akhirnya menyerahkan botol itu kepada Nico. “Ya udah. Lo pegang dulu sebentar, biar nanti pas lo ke punggung gua, udah kepegang.”
Devano lalu membalikkan badan sehingga punggungnya menghadap ke arah Nico. Lalu, dengan sedikit berjongkok, Devano berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya. “Lo bisa naik ke punggung gua?” tanya Devano. Nico mencoba untuk bangkit, tapi karena ia masih sedikit lemas, jadinya Nico kesulitan untuk bangun.
Devano kemudian mencoba cara lain. “Sorry kalo misalkan ini agak ngenganggu lo ya,” ujar Devano meminta izin kepada Nico. Setelah Nico mengizinkan, Devano lalu perlahan melebarkan kedua kaki Nico. Lalu, Devano menyusup ke sela-sela kaki Nico dengan posisi punggung berada di depan wajah Nico. Jadinya, jarak antara mereka berdua menjadi lebih dekat dan Nico mampu menjangkau punggung Devano.
Dengan sekuat tenaga, Nico berusaha menjangkau punggung Devano. Setelah Devano berhasil menangkap Nico, ia memperkuat pegangannya pada bagian paha Nico. usai memastikan semuanya aman, Devano dengan perlahan menaiki tangga, satu per satu, sambil di belakangnya, Nico menyender ke punggung Devano dan memegang botol infusnya.
“Usahain biar botol infusnya lebih tinggi dari tangan yang ketusuk jarum ya. Biar lo gak kenapa-kenapa.”
Nico hanya tertawa pelan, walaupun tetap mengikuti instruksi dari Devano. Usai belasan anak tangga dilalui oleh Devano, akhirnya mereka tiba di atap rumah sakit. Meskipun sempat sedikit kesulitan membuka pintu penghubung, untung saja Devano masih mampu membukanya dengan kondisi ia menggendong Nico. Setelah itu, Devano bergeser sedikit ke samping pintu, lalu menurunkan Nico dengan hati-hati, lalu ia mengambil alih botol infus yang ada di tangan Nico.
Angin malam sama seperti yang sudah diprediksi Devano. Menghembus kencang dan menerpa mereka berdua. Untung saja Devano sudah memberikan lapisan tambahan pada Nico dengan menggunakan jaketnya. Keduanya masih terdiam dan menatap langit yang dipenuhi bintang, seakan sibuk dengan jalan pikir masing-masing.