Just Keep Living, Please?

William Oktavius
Chapter #16

The Last Goodbye

Devano kini menerima bahwa saat ini adalah saat-saat terakhir Nico menikmati hidupnya di dunia. Meskipun terlihat tersiksa karena penyakitnya, Nico terkadang masih berusaha menutupi penyakitnya itu di depan Devano. Devano juga mulai mempersiapkan dirinya jika tiba-tiba waktu Nico telah habis, walaupun sebenarnya Devano juga masih berat untuk ikhlas jika nantinya Nico benar-benar meninggal dunia.

Tiga hari sudah berlalu sejak kejadian mereka menikmati bintang di atap rumah sakit. Kondisi Nico masih naik turun, namun tidak sampai collapse lagi seperti sebelumnya. Meskipun begitu, menurut dokter, ini masih ada pengaruh obat. Sekali saja Nico menghentikan obat itu, tubuh Nico akan langsung berhenti berfungsi.

Hari ini, Devano kembali mengecek kondisi Nico. Karena hari ini adalah hari Minggu, jadinya Devano bisa menemani Nico dari malam sebelumnya. Usai membantu Nico membereskan beberapa barang pribadinya, Devano lalu duduk di kursi samping kasur Nico.

“Gimana kondisi lo?”

Nico hanya tersenyum saja. Tapi, napas Nico terasa pendek, seperti membutuhkan kekuatan besar hanya untuk bernapas saja. “Ya begitulah,” jawab Nico tanpa bisa menjelaskan bagaimana kondisinya kepada Devano.

Devano lalu memperhatikan kondisi dari sahabatnya itu. Tubuh sehat yang dulu sanggup berlari menyeret dirinya untuk keluar dari kamar kini sudah tiada. Hanya ada badan kurus dan lemah yang terbaring di atas kasur. Selain itu, senyum semangat yang biasa ada di wajah Nico pun lenyap. Kini, hanya ada tampilan wajah lelah yang seolah ingin menghentikan semua penderitaan yang ada di badan itu.

Nico menatap sejenak Devano, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangannya. Setelah itu, ia melihat Devano lagi. “Kalo kondisi lo sendiri gimana?”

Kali ini, giliran Devano yang terkejut dengan pertanyaan Nico. Tapi, kini Devano bisa menjawabnya dengan penuh percaya diri. “Aman. Kondisi gua sekarang baik-baik aja.”

“Kerjaan lo? Atau keseharian lo?”

“Semuanya masih aman terkendali kok. Walaupun kadang ada hari-hari berat atau momen tertentu yang bikin pusing, tapi semuanya masih bisa gua lewatin dengan baik.”

“Jadi, lo gak ada kepikiran buat bunuh diri lagi kan?”

Devano tersentak saat mendengar ucapan Nico seperti itu. Kini, Devano sadar bahwa Nico hendak memastikan kondisinya baik-baik saja, karena Nico sudah tidak yakin dengan sisa umur hidupnya. Jadi, Devano perlahan menaikkan senyumannya sambil menatap dalam Nico. “Gua udah lebih stabil sekarang. Berkat lo, gua sekarang udah bisa lebih menghargai hidup, sekalipun hari-hari terasa gelap dan terasa kayak udah gak ada harapan lagi. Jadi, gua yakin gua bisa terus menjalani hidup ini ke depannya.”

“Sekalipun gua sebentar lagi udah gak bisa temenin lo lagi?"

Devano menghela napasnya. Seolah pertanyaan terakhir dari Nico digunakan untuk meyakinkan pernyataannya itu.

“Kayak janji gua yang kemarin, Nic. Gua bakal berusaha untuk terus menjalani hidup dan terus menatap ke depan. Sekalipun nantinya ada rintangan yang berat, gua akan terus berusaha buat melewati itu, sampai waktunya nanti selesai. Demi lo, dan juga demi hidup gua ke depannya.”

Usai mendengar Devano mengucapkan janjinya lagi, Nico menghembuskan napas lega. Seolah beban berat yang ada pada dirinya kini telah lepas seutuhnya. “Terima kasih udah bikin gua lebih tenang, Devano.”

Lihat selengkapnya