“Bersama saudara Devano, turut mendoakan keselamatan jiwa, arwah sahabat baik, Nico, yang meninggal pada 18 April 2027. Semoga Nico dapat bersatu dengan Kerajaan Bapa di Surga dan keluarga yang ditinggalkan dapat diberikan kekuatan. Marilah kita mohon….”
“Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.”
2 November 2027. Tepat pada hari ini, seluruh umat Katolik memperingati hari arwah orang beriman. Semua umat dapat mendoakan orang yang dikasihi secara khusus pada hari ini. Begitu juga dengan Devano. Pertemuannya dengan Nico masih membekas di ingatannya, sekalipun Nico telah meninggalkan dirinya beberapa bulan yang lalu. Karena itu, Devano juga tidak mau melewatkan hari ini untuk mendoakan sahabatnya.
Devano bahkan secara khusus mengambil cuti agar dapat berziarah ke makam Nico. seusai mengikuti ibadah pada pagi hari, Devano melanjutkan langkahnya menuju pusara Nico. Di sana, Devano kembali mendoakan keselamatan jiwa bagi temannya itu.
“Semoga lo dapat segera bergabung di kerajaan surga, Nico. Gua di sini juga udah bisa hidup dengan baik, terima kasih atas pendampingan lo saat itu. Sekarang, lo udah bisa beristirahat dengan tenang, doakan gua juga agar gua bisa menjalani hidup ini dengan baik ya.”
Usai membersihkan dan menaburkan bunga di atas makam milik Nico, Devano lalu pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat tinggalnya. Sesampainya di sana, Devano melangkah menuju sebuah meja, tempat dia menyimpan beberapa kenangannya dulu saat masih bersama dengan Nico.
Buku yang diminta Nico untuk dijaga Devano masih ada di sana. Terletak rapi meskipun Devano sudah beberapa kali membacanya. Begitupun juga kali ini. Walaupun sudah tahu isinya, namun Devano masih tetap ingin membacanya lembar demi lembar. Halaman pertama dibuka Devano dan ia kini kembali masuk ke dalam tulisan yang dibuat oleh Nico.
25 April 2026:
Ini pertama kalinya aku nulis diary. Jujur, aku gak tahu harus cerita ke siapa lagi, karena aku ngerasa udah gak punya siapa-siapa. Aku hanya bisa kerja, kerja, kerja. Tapi, aku masih belum bisa menghasilkan apa-apa. Aku malah dapat sakit. Hidup gak adil banget. Aku masih mau berusaha biar bisa nunjukin siapa diri aku, tapi kenapa malah aku dapat vonis kalo hidup aku tinggal 12 bulan? Aku harus apa, Tuhan? Kenapa jadi kayak gini? Aku belum siap kalo harus meninggal tanpa ada hal yang bisa aku banggain.
29 April 2026:
Aku mutusin buat nolak semua kegiatan terapi. Cukup dengan konsumsi obat saja. Untung aja dokter tidak memaksa. Aku tahu, metode ini penting untuk seseorang yang lagi sakit kayak aku. Tapi, kalo kebebasan aku harus ditukar dengan sering tidur di rumah sakit demi penambahan hidup beberapa bulan karena terapi? Gak ah. Kata dokter juga sudah menyebar luas, mau digimanain juga pasti meninggal, jadi lebih baik aku manfaatin aja sisa waktu yang aku punya buat nikmatin hidup. Toh, aku masih punya 12 bulan, semoga aja apa yang mau aku lakuin bisa aku wujudin di sisa waktu aku yang sedikit ini. Tuhan, tolong bantu dan tuntun Nico ya, serta berikan juga kekuatan-Mu biar Nico bisa ikut bersyukur dan menikmati karya ciptaan-Mu sebelum Nico pulang kembali ke rumah-Mu.
30 April 2026:
Demi apapun aku mau ngamuk. Gila kali ya? Aku lagi pusing mikirin hidup tinggal bentar lagi, dari sore sampai tengah malam, ini bisa-bisanya ada orang yang mau buang hidupnya gitu aja! Benar-benar dunia gak adil. Kalo kayak gitu, mending hidup dia kasih ke aku aja deh. Dia udah gak mau hidup lagi kan? Ya udah, harusnya penyakit ini ada di badan dia, bukan aku! Udah gitu, habis diselamatin, bukannya terima kasih malah kabur dan teriak. Devano, awas kamu ya. Aku udah tahu nama dan alamat kamu, lihat nanti kalo misalkan ketemu!
5 Mei 2026:
Well, ternyata kondisi Devano lumayan buruk juga. Udah beberapa hari, akhirnya aku baru bisa balikin handphone sama dompet dia. Tapi, pas aku kunjungin, ternyata tampilannya kusut banget. Kamarnya juga berantakan, dia pasti emang udah gak ada semangat buat hidup. Aku kepikiran sesuatu dan ini egoisnya aku. Maafin aku, Devano. Aku bakalan pakai kamu buat jadi motivasi terakhir aku buat hidup. Aku bakal bikin kamu semangat lagi buat jalanin hidup dan nanti kamu bisa terus ingat aku. Jadi, pas nanti aku udah gak ada, kamu bakal terus ingat kalo ternyata Nico itu pernah muncul di hidup kamu dan membantu kondisi kamu. Semoga sisa waktu yang aku punya masih sempat untuk bisa menolong kamu untuk bangkit lagi ya.
10 Mei 2026:
Aku bawain makanan buat Devano. Walaupun aku sebenarnya pengen ketemu langsung sama dia, tapi karena aku rasa dia masih butuh waktu buat dirinya sendiri, jadinya aku taro makanannya di pintu setelah memanggil nama dia. Beberapa hari lancar, tapi hari ini Devano berhasil bikin aku panik. Makanan dari kemarin masih ada. Berarti kan gak diambil? Aku udah takut kalo misalkan Devano kenapa-kenapa, jadinya aku langsung terobos masuk. Dan hasilnya, Devano masih depresi dan kali ini malah ngamuk. Tapi, aku malah lega karena itu artinya, Devano berhasil mengeluarkan emosinya. Meskipun sedikit, tapi setidaknya dia udah mulai jujur sama perasaannya. Dan aku rasa, ini saatnya buat jadi penanggungjawab dan bantu Devano bangkit lagi. It’s time for Nico to shine!
23 Mei 2026:
Kamar berantakan itu akhirnya bisa aku beresin. Aku juga ajak Devano buat jalan-jalan sejenak biar pikirannya gak di kamar terus. Untung aja dia mau ikut walaupun awalnya sempat nolak. Kalo misalkan dia nolak total, aku benar-benar udah tidak tahu harus ngapain lagi biar anak itu mau bergerak maju.
3 Juni 2026:
Aku ingin nonton Indonesia Open. Tapi, aku juga pengen Devano cobain kegiatan baru. Jadinya, aku beliin aja deh tiket nonton buat dia. Walaupun awalnya bingung, untung aja Devano mau. Akhirnya aku bisa nonton Indonesia Open bareng teman, yang seharusnya ini akan jadi Indonesia Open terakhirku di dunia.
7 Juni 2026:
Aku bingung mau senang atau sedih. Walaupun akhirnya aku bisa kembali nonton Final Indonesia Open, entah kenapa kali ini rasanya berbeda. Aku merasa pusing di tengah keramaian, padahal biasanya aku bisa ikut loncat-loncat dan berteriak bersama dengan penonton. Devano bahkan merasa aneh melihat aku duduk saja padahal pertandingan sedang seru-serunya. Tapi, untung saja, aku berhasil menonton semuanya dengan lancar. Dan ketika Devano bertanya seperti itu, tanpa sadar aku menatap bangunan ini sedikit agak lama. Ini akan jadi pengalaman aku untuk yang terakhir kalinya dan terima kasih, Devano, karena kamu bisa memberikan pengalaman yang berbeda untuk pengalaman terakhirku menonton di tempat ini.
12 Juli 2026:
Dengan spontan aku langsung ngajak Devano buat pergi ke pulau saat anak itu stres. Walaupun niatnya ganti suasana, tapi aku juga pengen bisa nikmatin alam selagi badan aku masih bisa bergerak bebas. Tidak ada yang tahu kapan aku bakal mendadak drop, jadi selagi masih ada kesempatan, tentunya harus dimanfaatkan, kan?
19 Juli 2026:
Aku merasa malu sama diri aku sendiri yang ngomong sok tinggi padahal kenyataannya gak gitu. Sorry, Devano, kalo misalkan kata-kataku itu terkesan menggurui. Tapi, percayalah, kata-kata yang aku ucapin di situ sekaligus juga refleksi buat diri aku. Walaupun berlibur di pulau tujuannya biar kamu bisa lebih fresh, tapi itu juga ada keegoisan aku. Aku ingin kita bisa menikmati pemandangan alam berdua, dan bisa aja itu jadi yang terakhir kalinya buat aku.
16 Agustus 2026:
Aku masih gak nyangka kalo Devano bakal ngajak aku ke Anime Festival. Walaupun H-2 banget sih kabarinnya, tapi ini progress besar buat Devano. Dia bahkan beliin aku gantungan kunci. Aku pasti bakal jaga baik-baik hadiah ini. Akhirnya aku bisa diingat oleh orang lain. Terima kasih, Devano!
13 September 2026:
Untuk pertama kalinya aku ngajarin Devano berdoa. Walaupun hanya doa spontan dan bukan doa yang banyak formatnya, tapi setidaknya Devano punya pegangan seandainya dia butuh tempat untuk bercerita. Aku memang tidak bisa menemani Devano lagi nantinya, tapi setidaknya, apa yang aku wariskan nanti melalui ajaran doa dapat dimanfaatkan oleh Devano jika dia sedang hilang arah. Aku bahkan sampai menangis saat mengingat bahwa hidupku tinggal sedikit, tapi aku masih belum bisa membuat Devano bangkit. Aku terasa seperti berpacu dengan waktu karena aku masih belum bisa menjadi pijakan kokoh untuk dia. Jadi, aku bawa ketakutan ini semua ke dalam doa dan berujung aku menangis dan Devano menyadari tangisan aku. Dan lagi-lagi aku harus berbohong pada anak itu agar Devano tidak semakin terbebani pikirannya. Tuhan, semoga engkau masih memberikan aku waktu hingga aku bisa yakin Devano bisa berdiri mandiri lagi. Aku masih mau menjadi penopang untuk dia dengan sisa kekuatan yang aku miliki.