K O L A K A

Dwi Septina
Chapter #1

Lumpuh oleh Masa Lalu

Awan tersentak bangun, dadanya bergemuruh, napasnya tercekik. Darah. Teriakan Galih. Pecahan kaca menusuk punggung tangan, terasa bagai kulitnya sendiri yang terkoyak. Aroma amis tercium tajam diantara desauan air hujan yang meluluhlantakkan jendela, menggemuruhkan pondok. Kuali dodol raksasa di depannya, kini lengket dan berbau busuk, seolah saksi bisu kekalutan masa lalu yang baru saja melumpuhkannya dalam mimpi.


Jauh di dalam dirinya, jeritan sunyi bergema. Bayangan berkelebat, menertawakan dari sudut pantry tua, selaras dengan kilasan mimpi tentang darah dan Galih. Tangannya bergetar tak terkendali. Pandangannya terkunci pada sebotol arak brem, tertulis nama yang tak lagi bisa ia eja, tapi ingatan akan rasanya terukir abadi di lidah.


“Minum saja, Wan,” bisikan kering menyusup, begitu nyata di telinganya. Begitu akrab, begitu mematikan, “Cuma satu teguk. Kan cuma sedikit. Siapa juga yang akan tahu di tempat terpencil ini? Tidak ada polisi moral di Kaloka ini,”


Awan mengepalkan tangan, kuku jarinya memutih, mencengkeram erat tepi meja dapur yang lapuk. "Nggak," bisiknya, suaranya parau dan terputus-putus, "Aku sudah janji. Pada Ratna. Pada Galih. Aku tidak akan lagi!"


“Oh, janji? Cih. Dasar pecundang. Beraninya sama diri sendiri. Kenapa tidak jujur saja? Bilang pada Ratna, bilang pada Galih, ‘Aku lemah! Aku ingin lepas! Aku ingin kembali pada diri yang asli!’” Tawa renyah bergema di antara rak-rak, menggema di dinding usang, “Lihat pondok ini. Ia sendiri menyambutmu, tahu? Lihat arak itu, datang begitu saja, kan? Dia ingin kau bahagia. Lepaskan saja semua beban itu, Wan!”


"Untuk apa... untuk apa kalian semua mendesakku?" Awan nyaris tidak bisa bernapas, matanya berkeliaran, mencari-cari sumber suara. Tidak ada. Hanya kegelapan dan kelembaban, seperti penjara yang mencengkram kuat.


“Untuk apa, kau tanya? Oh, banyak, Wan! Bukankah kau dulu hebat? Kau seorang pendidik, penulis yang punya idealisme tinggi. Semuanya runtuh gara-gara 'air' yang satu ini. Itu konyol sekali. Sekarang, kau bisa memulai lagi. Buktikan bahwa kau layak mendapatkan kesempatan kedua. Hanya saja... cara membuktikannya beda dari yang dipikirkan istrimu yang kaku itu!” Suara itu mendesis, mengulik setiap sudut pikiran Awan yang paling kelam, "Percaya pada kami. Kami temanmu, disini, di Kaloka ini, kita saling berbagi beban!"


Tubuh Awan lemas, hampir ambruk. Dia membungkuk, menumpukan seluruh bebannya pada meja pantry yang dingin dan lembab, berharap bisa menahan dirinya. Dinginnya menembus hingga ke sumsum tulangnya. Kata-kata itu, “pecundang”, “lemah”, “kaku”. Menariknya kembali pada momen yang jadi awal segalanya, yang membuatnya terdampar di neraka ini. Momen wawancara kerja yang tak masuk akal itu.


Hujan rintik di luar jendela kafe yang kacanya beruap. Aroma kopi arabika bercampur asap kretek murahan yang terasa mencekik mengisi seluruh ruangan. Awan Rakabumi, kemejanya lusuh, noda tinta memulas jari-jemari. Keringat dingin membasahi. Jantungnya bergemuruh tidak karuan. Dia membenci semua ini. Dia tahu sedang diadili, dipandang rendah. Namun, inilah satu-satunya harapannya. Dia harus kuat. Dia sudah berjanji pada Ratna, pada Galih, dan terlebih, pada dirinya sendiri.


Seorang pria berkumis tebal dan rapi, dengan aroma minyak kayu putih menusuk hidung, Pak Broto, duduk di hadapan Awan. Batik motif klasik yang dikenakannya tampak mahal, kontras dengan penampilan Awan yang kusut. Ekspresi Pak Broto datar, tetapi matanya memancarkan ketajaman yang menelanjangi.


“Jadi, Bapak Awan Rakabumi,” Pak Broto mengawali, menyesap kopinya dengan pelan, membiarkan keheningan menyelimuti sejenak, sengaja untuk memancing kegelisahan Awan, “Anda benar-benar serius dengan 'hidup tenang' itu? Sudah siap, Bapak?”


Awan berdeham, berusaha menyingkirkan ganjalan di tenggorokannya, "Sangat siap, Pak Broto. Serius. Saya sangat butuh tempat tenang untuk... fokus menulis!" Dia sengaja menekankan kata ‘fokus’, berharap mengabaikan rasa perih di dadanya, "Dan yang paling penting, Pak. Saya ingin memulai hidup baru. Benar-benar dari awal. Tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang dulu!"


"Fokus, ya? Bagus. Bagus sekali, Bapak Awan!" Pak Broto menelusuri wajah Awan, seolah mencoba membaca jiwa yang tersembunyi, "Kami butuh penjaga yang memang mau fokus. Tidak banyak tingkah. Tidak banyak drama. Terutama untuk pondok yang satu ini!"


Lihat selengkapnya