K O L A K A

Dwi Septina
Chapter #2

Pelepasan yang Pahit

Awan membukanya. Botol itu pecah di bibirnya yang kering dan pecah-pecah, menyeruput cairan pahit yang menawarkan kenangan dan pelepasan. Matanya masih terpejam. Ratna? Galih? Kata-kata itu lenyap, hilang dalam desisan air di luar yang menulikan.


Semuanya hambar, tumpul. Seperti kabut yang menggelayuti otak, menawarkan kesunyian palsu yang sangat ia butuhkan.


"Awan!" suara Ratna begitu renyah, begitu menyakitkan, menariknya paksa kembali dari ambang kegelapan. Sebuah tamparan di pipinya yang dingin.


"Hei! Apa-apaan, sih?!" Awan mengusap pipinya. Nggak ada basah, nggak ada pedih. Ruangan remang-remang yang pengap. Bukan pantry yang lembab itu.


"Sampai kapan kamu mau ngelamun terus?" Ratna berkacak pinggang di depan pintu, seolah ingin menyemprotnya. Wajahnya ditekuk, kesal luar biasa, "Pak Broto sudah menunggu dari tadi. Aku harus menahan-nahan dia supaya tidak pergi lagi. Ini penting, Awan! Kamu ini sudah dapat pekerjaan, tapi tingkah lakumu masih saja seenak jidat!"


Awan mendengus. Ia melirik tumpukan koper dan dus yang berserakan di rumah petak sewaannya yang sempit. Semuanya sudah siap. Tinggal angkut, "Iya, iya, ini mau. Aku cuma..."


"Cuma apa? Mikirin apa lagi?" Ratna melipat tangannya, nada suaranya mengancam, "Pikiranmu ke mana-mana. Katanya mau fokus menulis, mau hidup baru. Tapi matamu itu loh, kayak mau minum alkohol tiap lihat botol sirup di dapur!"


"Lebih ke obat kumur sebenarnya," sahut Awan enteng, meski perutnya melilit. Ia menyentuh sudut bibirnya, rasanya seperti ia benar-benar telah menyeruput sesuatu (Tidak mungkin mimpi itu senyata itu, kan?), "Sana, suruh dia masuk. Jangan buang waktu, aku tahu dia sibuk!"


Ratna menatap Awan tajam, mendesah berat, lalu berbalik memanggil Pak Broto.


Suasana mendadak menjadi lebih pengap dengan kedatangan Pak Broto. Bau minyak kayu putih dari dirinya menusuk tajam, seolah bisa membius pikiran Awan yang sudah ruwet. Dia tampak sabar, senyumnya tetap tipis dan aneh.


"Permisi, Pak Awan. Ratna," kata Pak Broto sopan, matanya bergerak mengamati isi ruangan, "Cukup rapi juga untuk orang yang sedang beres-beres!"


"Ini sudah sisa barang yang nggak perlu kami bawa, Pak," sahut Ratna, "Sisanya sudah dikirim duluan kemarin. Kebetulan sekali Bapak datang!"


"Ah, iya. Justru karena ini terakhir, saya ingin memastikan lagi semuanya," kata Pak Broto, duduk di satu-satunya bangku kayu yang tersedia, yang dulunya dipakai Awan menulis, kini penuh debu, "Jadi, Pak Awan dan keluarga sudah benar-benar siap dengan pondok Kaloka itu? Siap hidup berbulan-bulan diatas sana?"


Awan menatapnya, ada sorot tidak suka di matanya. Pertanyaan itu terus diulang, terus seperti ingin mengetes dirinya, "Tentu saja. Saya kan sudah bilang. Saya tidak punya pilihan, Pak. Lagipula, siapa juga yang tidak mau ketenangan absolut, bukan? Cocok sekali untuk… penulis seperti saya,"


Pak Broto tersenyum simpul, tatapannya menyusup jauh, seolah ada rahasia tak terucap di balik kata-katanya, "Absolut memang. Sangat absolut, sampai-sampai, jangankan telepon, sinyal operator seluler pun susah nyangkut. Ada juga sih, radio lama. Tapi lebih ke statisnya yang jelas daripada siarannya. Tidak akan ada yang bisa menghubungi Anda selama berbulan-bulan, Pak Awan. Kalaupun terjadi apa-apa, mungkin cuma 'penghuni' pondok yang tahu duluan. Atau mungkin yang dari desa. Kalau kebetulan lewat dan sedang tidak kabut!"


Ratna spontan mengencangkan pegangan tangan Galih, putranya yang sejak tadi bermain-main dengan gasing butut di sudut ruangan. Galih sendiri diam saja, tak seperti biasanya.


"Apalagi dengan hujan lebat seperti sekarang, tanah longsor adalah rutinitas. Jalan utama bisa tertutup total, Pak. Bukan sekali ini saja saya mendengar kisah tentang penjaga yang terjebak di sana. Sampai harus mengirimkan surat botol agar bisa selamat dari 'sesuatu' yang menerornya. Jadi, siapkan diri dengan baik, mental dan fisik. Stok makanan juga!" Pak Broto menyesap kopi buatan Ratna, matanya menatap tajam ke arah Awan.


Lihat selengkapnya