K O L A K A

Dwi Septina
Chapter #3

Jemari Dingin

Ratna meremas jemari putranya yang dingin, gemetaran, "Kita nggak akan ke mana-mana, Sayang. Mama sama Ayah akan selalu di sini buat kamu," bisiknya, suaranya parau, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada Galih. Awan, yang duduk di samping Pak Sopir, melirik lewat spion tengah, ekspresinya sulit dibaca. Matanya tertuju pada punggung anaknya yang kurus.


Pak Sopir, seorang pria tua bertopi lusuh dengan giginya yang tersisa hanya empat di depan, berdeham. Dia sedari tadi hanya menghela napas panjang setiap kali mobil berderit, "Bocah, memang gitu, Nona. Kalau mau nempel sama bapak ibunya terus. Ya, maklum sih, pondok di atas sana itu memang sering bikin orang merasa 'terasing'," ucapnya sambil menyunggingkan senyum miris.


"Terasing gimana maksud Bapak?" Ratna mengerutkan kening, rasa cemas kembali mencengkeram. Bisikan Galih tadi masih terngiang.


"Ya... terasing dari dunia. Dulu aja pernah ada insinyur muda yang datang dari Belanda buat mengukur tanah, bilangnya biar tenang mikir proyek. Tiga hari, cuma teriak-teriak minta pulang, bilangnya ada yang narik-narik kakinya pas tidur," sahut Pak Sopir, tertawa kering, terdengar agak seram di telinga Ratna.


"Itu cuma sugesti saja, kan, Pak Sopir?" Awan akhirnya buka suara, berusaha menyangkal meskipun ia tahu suara bisikan "teman-teman" dari pondok di kepalanya semalam juga masih mengganggu. Ia tak mau dengar cerita begitu, otaknya mulai panas.


"Sugesti apanya, Mas. Wong tangannya sampai biru-biru. Bilangnya lagi dikubur hidup-hidup sama perempuan berambut panjang, pucat kayak pocong, gitu," tambah Pak Sopir cuek, sibuk memutar kemudi tajam, membuat ban mobil berderit di jalan menanjak yang mulai berbatu.


Galih yang tadinya hanya menyandar pada Ratna, kini mengangkat kepala. Matanya yang gelap memandang ke luar jendela, seolah ia bisa melihat apa yang dibicarakan Pak Sopir.


"Masih jauh, Pak?" Ratna merasa napasnya tersangkut, pandangannya tertuju pada pepohonan karet yang semakin rimbun dan gelap di kiri-kanan jalan.


"Wah, baru masuk belantara ini, Nona," jawab Pak Sopir, "Tadi masih perkebunan kopi, ya toh? Sekarang sudah hutan tua. Jalannya masih panjang, berbatu lagi. Biasalah, proyek pemerintah nggak pernah kelar kalau urusan pelosok. Jalannya tetap gitu-gitu aja, padahal sudah berapa puluh tahun katanya mau diperbaiki!"


Mobil yang mereka tumpangi mulai berderit lebih kencang, menanjak dengan susah payah. Suara mesin meraung, ban sesekali selip di tanah berlumpur yang diguyur hujan. Kabut mulai turun, tebal dan dingin, menyelimuti jendela. Suara riuh kota yang sempat terdengar dari jauh kini lenyap, digantikan suara jangkrik yang sahut-menyahut dan derit ranting yang tertiup angin dingin.


"Untungnya tadi Pak Broto cepat perginya," kata Awan, berusaha mengganti topik, terdengar lebih optimis, "Orang tua itu cerewet sekali!"


"Pak Broto mah, cuma menampakkan saja, Mas," sahut Pak Sopir, "Dari dulu gitu. Bilangnya dia mau ngasih peringatan baik-baik. Tapi ujung-ujungnya ya, pasti dilebih-lebihkan. Namanya juga orang bisnis!"


"Orang bisnis macam apa kalau cuma kasih horor?" gerutu Awan, merasa kesal karena terus-terusan jadi objek "drama" dari Pak Broto dan sekelilingnya. Matanya yang merah masih terbayang botol arak tadi malam, atau... mimpi buruk itu?


“Pak, kabutnya tebal sekali, ini tidak berbahaya?” Ratna kini cemas melihat jarak pandang di depan hanya sekitar beberapa meter.


“Ah, sudah biasa ini, Nona. Namanya juga puncak. Anggap saja pemandangan kabut salju kayak di film-film barat sana. Lagipula, jalannya sudah hafal di luar kepala. Paling serem kalau pas turunnya, rem blong, nah itu baru bisa nangis,” canda Pak Sopir lagi, tertawa terkekeh, padahal air muka Ratna semakin tegang. Galih sudah menggenggam erat lengan ibunya, sesekali matanya melirik ke balik jok mobil, seperti mencari sesuatu yang tak terlihat.


Awan terdiam. Candaan Pak Sopir sama sekali tidak membantu. Kabut ini memang terlalu tebal. Mobilnya terus-menerus berguncang, membanting tubuh mereka dari satu sisi ke sisi lain. Setiap belokan tajam adalah pertaruhan, setiap turunan curam terasa seperti lompatan ke dalam jurang.


"Kamu lihat apa lagi, Nak?" Ratna berbisik, mendekatkan wajahnya ke telinga Galih. Anak itu hanya menggeleng, bibirnya rapat, namun air matanya mulai mengalir.

Lihat selengkapnya