"Nyonya siapa, Nak? Astaga, Galih! Jangan menakut-nakuti Mama, dong!" Ratna berteriak histeris, langsung memeluk putranya lebih erat. Ia menoleh ke belakang, ke arah semak-semak lebat di pinggir jalan yang tadi Galih tunjuk. Hanya ada kabut tebal dan rimbunan dedaunan basah, "Enggak ada apa-apa, kok, Sayang! Nggak ada siapa-siapa disana!"
Awan, yang baru saja berhasil menguasai diri dari guncangan mobil, ikut menoleh, raut wajahnya mengeras, "Cih, itu cuma khayalanmu saja, Galih! Kamu kebanyakan nonton TV horor! Atau jangan-jangan kamu ketularan omongan ngelantur Pak Broto dan Pak Sopir!"
"Waduh, ini bukan saya lho yang bikin-bikin, Mas," sahut Pak Sopir dengan entengnya, suaranya sedikit berguncang saat ia memaksakan gigi mobil bak untuk merayap melewati dahan tumbang di depan mereka. Ia sedikit terkejut Galih tiba-tiba mengeluarkan ucapan yang tak terduga itu. "Kalau pondok itu memang ada yang nunggu, ya memang benar, Nona. Apalagi 'Nyonya' yang disebut bocah itu... bisa jadi dia memang Nyonya van der Valk sendiri. Konon katanya arwah dia sering 'menunggu' di gerbang utama kalau sedang merasa sepi atau..." Pak Sopir tiba-tiba menghentikan ucapannya, senyum kecut terukir di wajahnya.
"Atau apa, Pak?!" Ratna mencecar, panik. Galih mencengkeram erat lengannya, air mata mulai menggenang di mata bocah itu.
Pak Sopir menggelengkan kepala pelan, "Atau sedang ada mangsanya yang mendekat. Ehehe!" Tawanya terdengar hambar dan kering, seperti gerusan daun kering di bawah sepatu bot. Ia kembali fokus pada kemudi, menginjak gas sedikit lagi, membelah lumpur. Mobil melaju pelan, terseok-seok, seperti sedang menggotong beban ribuan ton.
"Mangsanya?!" Awan mendelik, tak habis pikir. Ia muak dengan cerita seram ini, ingin cepat-cepat tiba dan mengakhiri semua 'drama' ini. Ia harus kuat. Untuk dirinya. Untuk Ratna dan Galih. Tapi ia tahu, setiap kali ada orang yang menyinggung nama Kaloka atau pondok itu, emosinya langsung tersulut, "Pak Sopir, sudahlah. Kita kan mau cari nafkah, bukan jadi detektif hantu!"
"Betul sekali, Mas," balas Pak Sopir, masih dengan nada acuh tak acuh. "Namanya juga sopir, ya mengantar orang. Sampai tujuan, beres. Saya tidak akan ikutan cari nafkah sama hantu-hantu yang 'nongkrong' di pondok. Itu urusan njenengan saja, Mas Awan!"
Ratna merapatkan tubuh Galih dalam pelukannya. Rasa dingin menelusup dari punggung kursi mobil yang bergetar. Dinginnya pondok itu. Atau hawa lain yang tersembunyi dalam ketebalan kabut?
Tak lama setelah mereka melewati dahan tumbang itu, sebuah pemandangan dramatis akhirnya muncul di hadapan mereka. Di antara celah kabut yang terpecah, siluet sebuah gapura batu besar, tua, dan dipenuhi lumut, terlihat samar-samar. Gerbang utama Pondok Wisma Kaloka. Dua pilar kokoh menopang lengkungan pahatan ukiran seram. Angin mendesau pelan, menerbangkan lumut-lumut tipis yang menempel di sela ukiran gapura. Aroma lumut, embun, dan kayu basah menyeruak.
"Akhirnya!" Awan memekik, napas lega keluar dari dadanya. Namun, hatinya tetap tak nyaman. Matanya memandang penuh damba pada pondok yang sekarang bisa terlihat lebih jelas, berdiri tegak di tengah kehampaan. Bentuknya kokoh, elegan, dengan arsitektur kolonial yang khas, tetapi warna dindingnya sudah memudar dan atap gentengnya terlihat lapuk, seperti rumah megah yang terlupakan. Ada daya tarik sekaligus aura suram yang membebani, bagai permata hitam di dasar laut, "Wah, seperti istana. Pak Broto tidak melebih-lebihkan soal ini!"
Pak Sopir tidak menjawab. Mobil bak itu bergerak melintasi gapura batu, kemudian melamban saat memasuki halaman depan. Sebuah jalan batu bulat kecil yang sebagian tertutup lumut, langsung mengarah ke teras utama. Pohon-pohon tua yang menjulang tinggi, dengan cabang-cabang seperti tangan kurus membentang di sekitar area tersebut, menambah kesan suram dan terpencil. Semak belukar yang liar dan tak terawat mengelilingi rumah itu.
Mesin mobil yang meraung sejak tadi tiba-tiba mati, meninggalkan keheningan menusuk. Hanya suara derik jangkrik dan air hujan yang jatuh dari atap-atap daun, disertai desauan angin di antara celah-celah pondok, yang terdengar. Aura pondok itu begitu berat, seolah udara disana menjadi padat dan mencekik.
"Oke, Nona, Mas, sampai sudah di tujuan," kata Pak Sopir, memutar kemudi untuk parkir tepat di depan teras pondok, wajahnya memerah karena kelelahan, "Kopernya ini biar saya turunkan sekalian!"