“S-siapa disini, Galih?” Ratna sontak menarik Galih erat, pandangannya menyapu sekeliling, namun tak ada apa-apa lagi selain kelebatan kabut. Jendela kamar utama di lantai dua, kini hanya menampilkan kegelapan pekat yang membingungkan. Jantungnya bergemuruh tak karuan.
Awan mendengus, “Cih, kamu jangan ikut-ikutan Mama deh, Nak! Sudah dibilang cuma bayangan ranting! Makanya jangan kebanyakan ngayal yang bukan-bukan!” Ia bergegas masuk, mendorong pintu pondok itu tanpa melihat ke belakang. Udara dingin dan aroma aneh yang makin kuat menyergap mereka.
“Terserah Ayah mau percaya apa enggak!” Galih menyahut, suaranya parau, tangannya dingin, bahkan saat ia berjalan, seolah ia kesulitan menarik napas diantara udara yang terasa sesak dan berat. Ia masih memandangi kelebat bayangan di jendela itu, “Pokoknya Mama sama Ayah harus hati-hati. Dia itu enggak baik!”
“Apanya yang enggak baik?!” Awan melempar tatapan jengkel ke arah anaknya. Ia menendang salah satu koper yang masih tergeletak di teras, berusaha melampiaskan kekesalannya, “Yang enggak baik itu kalau kalian terus bikin aku jadi panik!”
Ratna mengejar Awan, menariknya mundur sedikit, “Awan! Ada anak kita disini! Jangan asal bicara seperti itu! Dia lagi takut!”
“Ya, suruh dia berhenti takut!” Awan membentak, “Lihat tempat ini! Kita bisa dapat inspirasi disini! Harusnya bersyukur kita dapat tempat seperti ini, bukan malah—” Awan tiba-tiba berhenti bicara. Ia memandangi kelebatan dari balik bahu Galih. Ia tahu persis suara tadi adalah sebuah bisikan di belakang lehernya. Kali ini sebuah bisikan keras, namun Awan tak mau terlihat 'aneh', “Bukan malah merusak semuanya dengan ketakutan!”
Awan buru-buru masuk ke dalam, disusul Ratna yang panik. Diikuti Galih yang masih berpegangan pada pinggul ibunya. Pintu pondok yang tinggi dan tua itu berderit pelan, lalu tertutup di belakang mereka dengan sendirinya.
Kriet! Duagh!
Suara itu menggema di lorong yang sunyi dan panjang, menciptakan gema yang membuat telinga berdengung. Di dalam, suasana pondok benar-benar menekan. Aura kuno yang campur aduk dengan aroma lumut basah, kayu lapuk, dan debu tua membuat udara terasa pengap. Hanya suara langkah kaki mereka yang memecah kesunyian, mengalir dari lorong-lorong gelap menuju ruang utama.
Ruang utama sangat besar, dengan plafon yang menjulang tinggi, menampilkan ukiran-ukiran zaman kolonial yang megah namun tampak usang. Lampu gantung kuno di tengah ruangan redup, seolah enggan menerangi sepenuhnya. Bayangan-bayangan panjang menari di dinding, menciptakan kesan pondok itu hidup dan bergerak di sekeliling mereka.
“Luar biasa…” bisik Awan, matanya berbinar, mengagumi kemegahan yang kini menjadi ‘miliknya’. Ia melangkah cepat, membuka pintu-pintu ke beberapa kamar lain, mengecek jendela, seperti anak kecil yang baru mendapat mainan, “Lihat, Ratna! Tempat ini persis seperti yang kubayangkan. Luas, tenang, jauh dari semua masalah! Ide-ide pasti akan mengalir deras!”
Ratna tidak menanggapi antusiasme Awan. Ia hanya bisa merasakan ketegangan yang menumpuk di pundaknya, matanya menyapu sudut-sudut ruangan yang tampak seperti menunggu. Udara yang dingin seolah menembus setiap lapis pakaiannya.
“Mama, Galih kedinginan,” bisik Galih, menggigil, matanya menatap tajam ke arah lemari display kaca di sudut ruangan. Lemari itu berisi piring dan perabotan kristal yang berkilau di antara debu. Tangan kecilnya meraih tangan Ratna, minta dipegang.
“Kedinginan? Kamu kan pakai jaket, Nak,” Ratna mencoba menyentuh pipi Galih. Tidak dingin. Ia mendadak melihat jejak sidik jari basah di permukaan kaca lemari itu. Baru saja terlihat dan basah. Seketika jejak itu memudar.
“Bukan, Ma. Bukan dingin karena udara!” Galih menggeleng, membenamkan wajahnya di ketiak Ratna, “Dingin… dari mereka. Rasanya serem,”