“Dia… Dia… Mau ikutan tidur sama kita,"
Ratna memeluk Galih lebih erat, bola matanya melirik liar ke sudut kamar yang berisi cermin berukir. Sekelebat bayangan kelabu yang tadi mengintai, kini sudah lenyap ditelan kegelapan pekat. Ia tahu apa yang baru saja ia lihat. Itu bukan sekadar pantulan ranting pohon. Ada sesuatu. Aura dingin itu… hawa melati yang semakin kuat.
“Mimpi apa lagi itu, Galih? Kenapa omonganmu makin aneh?” Awan beranjak dari pintu, melipat tangan, mencoba bersikap tegar. Namun wajahnya sedikit mengeras, menunjukkan ia tidak sepenuhnya setenang itu. Suara bisikan di kepalanya juga tak menghilang.,“Apalagi ‘tidur’ bareng. Mau kamu dibilang anak gila?”
“Awan!” Ratna membentak, kesabarannya benar-benar diuji, “Jangan bilang Galih gila! Kamu enggak lihat? Dia ketakutan! Apa kamu enggak ngerasain apa-apa? Atau mencium bau melati ini? Dingin sekali udara disini, Wan! Ini… ini enggak normal!”
“Cih, apa sih yang tidak normal buatmu? Ini cuma efek kelelahan saja. Kita baru tiba. Lingkungan baru, tempat sepi begini. Pasti bawa perasaan. Jadi… sudah, ayo cepat tidur!” Awan berbalik membelakangi mereka, mencoba memejamkan mata, mengabaikan segala hal aneh di sekelilingnya. Namun, bisikan yang tadi ia dengar dari luar terus-menerus menggelayut. 'Ingat… bukan sekali dua kali… mereka yang tergila-gila itu...'
Galih membenamkan wajah di leher Ratna, tangannya mencengkeram erat, “Ayah… pura-pura enggak tahu,” bisiknya, suaranya teredam, membuat Ratna semakin panik.
Malam pertama mereka di Kaloka berakhir tanpa tidur nyenyak. Baik Ratna maupun Galih merasa diawasi. Awan, meskipun tak berani mengaku, juga merasakan hawa dingin yang tak pernah hilang dari seluruh penjuru pondok. Setiap sudut kamar terasa menyimpan sepasang mata.
*
Pagi harinya, pondok masih diselimuti kabut tebal, menyisakan hawa dingin yang menancap hingga ke tulang. Setelah sarapan minim: roti tawar dan sisa kopi semalam, Awan merasa jengah. Ia butuh sesuatu yang lain. Butuh distraksi. Atau inspirasi.
“Oke,” kata Awan, mengelap bibirnya dengan serbet kotor, “Aku harus mulai kerja hari ini. Aku butuh ketenangan buat nulis. Tapi ruangan kerjaku nanti dimana? Masa aku nulis di kamar?”
“Kenapa tidak dicari saja di lantai atas?” Ratna menyahut, matanya masih terlihat bengkak akibat kurang tidur, “Bukankah ada beberapa ruangan yang tidak dipakai?”
“Iya juga ya,” Awan mengangguk. Dia meraih buku catatan lusuhnya dan sebatang pulpen. Sebuah pena bulu angsa dengan ujung yang hitam kotor dan bekas bercak darah dari tangannya. Itu selalu mengingatkannya pada ‘kejadian itu’. Dia buru-buru membuangnya ke tong sampah. Ia tahu dirinya akan 'jatuh' kalau sampai benda itu menjadi sebuah pertanda baginya. Ia meraih pensil tumpul sebagai ganti.
Narasi yang cepat seperti ombak yang menariknya, yang membuatnya melambung di antara ombak masa lalu dan masa kini. Menarik ke pusaran gelap itu.
Awan melangkah lebih dulu, Ratna mengikuti dengan malas, sementara Galih masih ragu. Bocah itu menyandar di dinding lorong, mengamati bayangan yang bergerak samar di baliknya, "Mama… Jangan ke sana…" bisiknya.
"Ssst, Nak. Ayo. Ayahmu harus cari tempat kerja. Ini untuk kita semua, biar Ayah bisa cepat selesaikan pekerjaannya!" Ratna menghela napas, mengisyaratkan ketidakberdayaan. Dia sendiri merasakan keengganan untuk melangkah.
Awan sibuk mengintip ke setiap kamar kosong, melangkah dari satu pintu ke pintu lainnya di lantai dua, di antara keheningan yang menyesakkan, "Ini sempit… ini kotor… yang ini pengap! Cih, kok susah sekali sih nyari ruangan kerja yang layak? Padahal luas sekali tempatnya!"
“Mungkin memang belum saatnya, Wan. Lagipula, kan kita harus membersihkan ini semua dulu!"” Ratna menghela napas. Dia tidak habis pikir dengan sifat suaminya yang satu ini. Mudah sekali marah dan membentak.